Susahnya Jadi Perawan

Halle : “Gue nggak bercanda, gue masih perawan!”

Kalimat itulah satu-satunya ucapan tegas dalam film ini yang memperbincangkan soal keperawanan. Itu juga terucap dari mulut Halle (Nova Eliza) setelah dipaksa untuk melakukan hubungan intim. Selebihnya, film ini hanya diisi oleh materi-materi tidak penting apabila dikaitkan dengan judulnya.

Begini kisahnya. Halle, pelayan bar-penyanyi berbakat-mahasiswa, kerap disakiti hatinya oleh lelaki. Suatu malam, Kevin (Restu Sinaga), produser musik, datang menawari Halle rekaman. Tetapi, ujung-ujungnya meminta dipuaskan birahinya oleh Halle. Terang saja Halle menolak. Lalu datang Rama (Fathir), penyanyi rock, yang mengajak Hali berduet. Ternyata, mereka saling suka, yang akhirnya diikuti dengan ajakan Rama untuk berhubungan intim. Hali pun marah sambil berkata, “Gue nggak bercanda, gue masih perawan!”

So?

Susahnya Jadi Perawan agaknya lebih terdengar seperti pembenaran sekaligus keluhan dari pembuat film terhadap kondisi susahnya menjaga keperawanan di kehidupan kota besar. Apa iya bisa ditarik kesimpulan begitu? Mengapa? Rupanya, jawaban yang diberikan Mirwan Suwarso dan Nova Eliza, sebagai peramu cerita, terlalu menyederhanakan masalah.

Untuk menunjukkan sukarnya menjaga keperawanan itu, Mirwan dan Nova menyuguhkannya lewat industri musik, yakni proses awal memasuki dapur rekaman bagi Halle, si penyanyi debutan yang trauma berhubungan dengan lelaki. Dari sini saja, cerita film ini mulai tampak klise. Belum cukup dengan itu, maka masuk unsur romantis lewat sosok Rama, yang ternyata juga meminta “jatah”. Lagi-lagi ini klise.

Lewat cerita seperti ini, pembenaran dan keluhan itu juga seperti mengklaim seolah-olah bayaran dengan tubuh si penyanyi debutan adalah hal yang lumrah dalam industri musik. Atau jika mau melebarkan bahasan topik ini, ada harga yang harus dibayar mahal oleh perempuan jika ingin menjadi bintang.

Intinya, problem mengenai susahnya menjaga keperawanan memang hanya pantas dibebankan kepada Halle yang menjadi pusat cerita. Bagaimana tidak. Sejak awal film, sudah tampak kalau Nova Eliza dipersiapkan untuk menjadi pusat perhatian dan dieksploitasi sensualitasnya. Dengan pola ini, Halle dibuat agar pas menjadi objek seksual para lelaki berpikiran kotor (Oh ya, saya lupa ada Julia Perez di sini yang tampilannya lebih menggoda, tapi lupakan saja dia).

Siapa saja para lelaki itu? Maka diciptakanlah karakter-karakter, seperti Kevin, si produser musik pembual. Rama, si penyanyi yang dicap playboy oleh infotainment. Atau para lelaki bule iseng di bar. Hanya Bowo (Olga Saputra) saja yang agak “lurus” di sini, walaupun penampakannya cenderung melambai. Dengan begitu, masalah tentang kesukaran menjaga keperawanan di film ini tampak dibuat-dibuat, dan memang pasti berlakunya seperti itu adanya. Wong dunianya saja sesempit itu kok.

Belum lagi gaya tutur Mirwan, sebagai sutradara, yang seperti menganggap penonton ibarat murid sekolah dasar, sehingga harus diceritakan detil-detil cerita secara banal. Lihatlah betapa seringnya Halle menjelaskan perilakunya dan orang-orang sekitarnya kepada penonton, padahal semua itu tidak perlu. Yang paling minus dalam film ini, menurut saya, ada pada logika cerita yang tidak jalan dan struktur ceritanya yang tidak kuat. Alhasil, beberapa adegan yang niatnya ingin melucu atau serius, malah menjadi garing dan membosankan. Mau contoh, lihat saja adegan perkelahian antara Rama dengan Kevin, dan apa yang terjadi setelah itu.

Penyebabnya terletak pada materi skenarionya, yang kalau disimak agaknya Mirwan dan Nova ingin bergaya seperti beberapa film Richard Linklater yang dipenuhi oleh dialog. Sayangnya, dialog dalam film ini tidak “berisi” dan begitu kering. Apalagi, percakapan seperti ini kerap ditemui di dunia nyata, sehingga mendengarkannya kembali di sepanjang film ini akhirnya menjadi sia-sia belaka.

Minus lainnya, film ini serba minimalis. Dari segi tata cahaya yang serba redup, set yang itu-itu saja, akting para pemainnya yang di bawah taraf alakadarnya, dan tata suaranya yang tak baik untuk kelangsungan usia gendang telinga saya. Catatan terakhir, ya, saya tahu Susahnya Jadi Perawan juga latah dengan penggunaan handheld camera. Tetapi tampaknya cara itu tidak cocok, karena malah mengganggu kerja mata saja. Harusnya Mirwan paham kalau tidak semua cerita cocok dengan di-shot dengan menggunakan handheld camera.

Ah, jadi ingat ucapan teman saya sehabis nonton film ini, “Kayak nonton sinetron!”

 

PS: Ditulis pada Januari 2008.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s