Sinis

“Apa sih yang mereka cari di sini?”Tiba-tiba saja gue tersenyum. Bukan tersenyum bahagia, tapi lebih seperti menertawakan apa yang sedang gue lihat. Memang, sore itu, pikiran gue agak sinis saat memandangi ratusan orang yang sedang bercengkrama, nongkrong, atau mengobrol di Citoz. Entah bagaimana bisa pikiran yang terjewantahkan lewat senyuman nyinyir itu muncul. Gue juga bingung kenapa bisa berpikir sesinis itu.

Duh, jangan-jangan ini akibat terngiang pola pikir dan karakter Yusuf atau Ambar. Dua tokoh dalam film 3 Hari Untuk Selamanya yang baru saja selesai gue tonton sendirian saat itu. Ah, kalau memang iya, mungkin pikiran gue harus dijernihkan. Jangan salahkan film jika gue berpikir seperti itu. Nggak ada hubungannya. Mungkin.

Empat hari yang lalu. Sembilan hari setelah kejadian itu. Gue dan beberapa teman kuliah seangkatan kumpul-kumpul. Biasalah. Reunian kecil-kecilan sambil makan dan minum. Mengobrol apa saja, dari kerjaan sampai gosip. Dan, tempat kumpul-kumpul itu, Citoz.

Mmmh, saat itu gue berpikir sambil melihat orang-orang yang lalu lalang di Citoz. Kayaknya gue menjilat ludah sendiri. Hah, masih untung ludah sendiri. Gue telah menjadi bagian dari pertanyaan gue sendiri. Mungkin, di antara orang yang lalu lalang itu, ada yang berkata dalam hatinya, “Apa sih yang mereka cari di sini?”

PS: Iseng, ditulis Juni 2007.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s