Quickie Express: Di Mana Ada Kemaluan, Di Situ Ada Jalan

Jika harus memilih rumah produksi mana yang lebih saya sukai, apakah Kalyana Shira Film ataukah Miles Film? Nama Kalyana akan saya sebut duluan.

Namun, bukan berarti saya tidak menyukai film-film dari Miles. Soalnya bagi saya, dua rumah produksi ini sekarang tetap berada di baris terdepan dalam dunia film nasional. Tapi, saya sudah jatuh hati pada Kalyana saat Ca Bau Kan (Nia Dinata, 2001) dirilis. Lewat Ca Bau Kan, Kalyana membuat gebrakan yang artistik, dan sukses menampilkan dengan detail wajah hubungan budaya Indonesia dengan etnis Cina pada tahun 1900-an hingga era pasca kemerdekaan.

Selain itu, mirip dengan Miles, film-film Kalyana juga selalu tak mengikuti tren genre film yang saat itu sedang marak dibuat. Tapi, bagi saya, Kalyana punya kelebihan lain, yakni selalu membuat film yang bisa dinikmati tanpa harus berpikir njelimet, memiliki style yang khas, muatan ceritanya berisi gagasan yang jelas, dan sarat dengan kritik sosial. Uniknya, Kalyana hampir selalu menyuguhkan ceritanya dengan satir dan dibumbui humor yang terbilang cerdas. Semua karakter ini disuguhkan tanpa meminggirkan aspek kualitas keseluruhan filmnya.

Inilah kekuatan utama sekaligus karakter film-film Kalyana. Quickie Express setidaknya mengandung beberapa karakter itu, dan tentunya lagi-lagi mendobrak tren film terkini.

Yang Beda (Lagi) dari Kalyana

Tak bisa dipungkiri lagi kalau hidup di Jakarta memang susah. Kondisi ini sekaligus tantangan yang harus dihadapi oleh banyak penghuninya. Tapi, tak usahlah menaklukkan rimba Jakarta ini dengan perilaku dan usaha yang serius-serius amat. Jalani saja hidup yang ada sekarang, sambil menunggu keberuntungan. Siapa tahu akan datang dewa penolong yang menawarkan pekerjaan mudah, tapi mampu membuat mimpi indah menjadi nyata.

Jojo (Tora Sudiro) mengalami situasi ini. Ia mewakili sosok pemuda urban yang bekerja serabutan akibat beratnya hidup di Jakarta. Jojo menelan impian-impiannya, karena tak punya keahlian. Meski begitu, ia tidak frustasi, tapi tetap menikmati hidup ala kadarnya. Hingga suatu saat, datang si dewa penolong yang turun ke bumi dengan menyamar sebagai “pemburu”: Om Mudakir (Tino Saroengallo).

Pria parlente yang berjari kelingking ngetril ini berusaha membuka jalan Jojo dengan mewujudkan mimpinya. Syaratnya tak susah, asalkan Jojo mau bersikap persuasif, maka uang sudah ada di tangan. Profesi ini bukan bagian dari multi-level marketing, tapi lebih menjanjikan lagi. Begitu janji Om Mudakir. Walhasil, dengan rayuan-rayuan Om Mudakir yang mengundang tawa, setujulah Jojo untuk masuk ke dalam jejaring para nyonya socialite kelas atas sebagai…gigolo.

Inilah solusi ala Om Mudakir, si pemburu bakal calon gigolo, yang mempunyai bisnis layanan male escort berkedok restoran pizza delivery service bernama Quickie Express. Sejak pandangan pertama, Om Mudakir sudah melihat Jojo berbakat untuk membuat para tante yang haus seks tergila-gila kepadanya.

Namun, karena masih bau kencur di bisnis ini, Jojo pun dilatih untuk menjadi gigolo yang profesional. Ia tak sendiri. Ada Marley (Aming) dan Piktor (Lukman Sardi), teman seangkatannya. Mulailah proses pelatihannya, dari belajar menari erotis, merayu wanita, membentuk otot tubuh, hingga menemukan G-Spot.

Kisah pun berlanjut kepada tugas pertama mereka, dan kesuksesan-kesuksesan mereka meraih pelanggan. Hingga akhirnya kisah cinta masuk ke dalam hidup Jojo lewat sosok Lila (Sandra Dewi). Mahasiswi kedokteran ini membuat Jojo bimbang dalam menjalani kehidupannya, apalagi setelah mengetahui latarbelakang keluarga Lila.

Mungkin rasanya belum cukup bagi Kalyana menelurkan kisah-kisah yang unik, dari soal ibu-ibu yang doyan arisan, pengantar rol film yang rela berlari-lari demi cewek idaman, dan para istri yang berbagi suami mereka. Maka, kini giliran Quickie Express yang bercerita dengan nyeleneh. Lagi-lagi sebuah dobrakan dari Kalyana untuk membuat film nasional kita lebih berwarna.

Jujur dan Seks

Dengan Quickie Express, lagi-lagi Kalyana memproduksi film berlatar kehidupan urban, mungkin karena persoalan hidup di Jakarta memang tidak ada habis-habisnya. Sebelumnya, Kalyana membuat Arisan! (Nia Dinata, 2003), Janji Joni (Joko Anwar, 2005), Berbagi Suami (Nia Dinata, 2006), yang berlatar kehidupan urban Jakarta dan mencoba menyampaikan sesuatu gagasan dengan jujur.

Namun, setiap film ini memiliki fokus yang berlainan. Jika, Arisan! mengisahkan soal kehidupan kaum socialite Jakarta yang palsu lewat ajang arisan. Lalu, Janji Joni yang ceritanya lebih dalam mempertanyakan tentang kejujuran masyarakat Jakarta. Sedangkan, Berbagi Suami menunjukkan bentuk-bentuk praktik poligami oleh anggota masyarakat Jakarta. Maka, Quickie Express mengetengahkan pilihan hidup anak muda Jakarta demi mewujudkan mimpinya.

Nah, kalau tiga film sebelumnya mencoba berbicara jujur dengan satir, Quickie Express tidak seperti itu. Juga berbeda dengan cerita tiga film sebelumnya yang terkesan serius dan unsur komedi dipakai sebagai bumbunya, maka Quickie Express menempatkan kelucuan sebagai kekuatan utama cerita ini. Film ini memang tak berpretensi serius dalam mengomentari masalah kehidupan urban, tapi hanya menjadikan masalah kehidupan itu sebagai kendaraan untuk menghibur dengan tulus. Caranya dengan menaruh cerita komedi seks terkini, yang menjadi unsur terpenting dalam menciptakan kelucuan dalam film ini. Beginilah cara Quickie Express untuk berbicara jujur kepada penontonnya.

Sebelumnya, perbincangan soal seks dalam film nasional memang sudah banyak, yang umumnya bermunculan mulai di era awal 1990-an. Namun, sepertinya belum pernah ada film komedi seks seperti Quickie Express. Jika film-film “panas” tahun 1990-an itu turut mengeksploitasi tubuh sebagai penyeimbang cerita seksnya, maka perihal seks di Quickie Express hanya sebagai omongan dan pencipta kelucuan. Ini yang membuat Quickie Express tak terjebak seperti rupa film “panas” dahulu.

Toh, kalaupun memang ada beberapa adegan dalam film ini yang memperbincangkan dan mempertontonkan perilaku seks secara terbuka, tapi penuturannya berada di batas antara vulgar dan tidak vulgar, serta penuh humor. Hal ini pula yang mewakili kejujuran itu, karena penuturan soal seks di film ini bisa diibaratkan seperti: para anak muda yang sedang iseng nongkrong dan akhirnya mengobrol soal seks dengan guyonan khas lokal. Akibat kelokalan omongan seks ini, dengan begitu isi film ini relatif “aman” untuk diterima oleh publik yang sesuai dengan klasifikasi usia penontonnya.

Kejujuran yang diwakili dalam cerita buatan Joko Anwar dan penyutradaraannya oleh Dimas Djay ini setidaknya tampak pada beberapa adegan, misalnya saat Jojo-Marley-Piktor menjalankan tugas pertamanya, yang dilakukan dengan penuh kecanggungan dan menunjukkan sifat tidak profesional sebagai gigolo yang (harusnya) terlatih. Mungkin ini terjadi karena Jojo-Marley-Piktor tinggal di negara yang pola pergaulan anggota masyarakatnya tak sebebas, misalnya, di Amerika sana.

Contoh lain ada saat trio gigolo ini mengaku butuh obat kuat—yang dibawa oleh Marley dari pemberian Om Mudakir—agar bisa “tahan lama” saat bertugas. Dan, di adegan ini pula tampak unsur kelokalan yang lucu dalam obrolan seksnya. Belum lagi intrik percintaan antara Jojo-Lila, Jan Pieter Gunarto (Rudy Wowor)-Jojo-Matteo, atau Tante Mona (Ira Maya Sopha)-Jojo.

Romantika berbagai hubungan ini diperlihatkan apa adanya, tak berlebihan, dan manusiawi. Simak saja akhir hubungan Jojo dan Lila, atau wajah Jan Pieter—seorang mafioso keji dan ditakuti—yang ternyata merindukan kekasih lamanya, maupun keeleganan Tante Mona yang perilakunya sontak berubah menjadi seperti anak muda yang cemburu karena terlanjur jatuh hati pada Jojo. Atau juga, kecemburuan Matteo (Tio Pakusadewo), si preman psikopat gelap mata, yang berbuah sikap asal hajar (bunuh) terhadap pesaing cintanya.

Tentu saja yang paling saya sukai adalah quote Jojo di akhir film: “Ah, tai lah.” Ucapan Jojo ini terasa sangat menohok setelah beragam peristiwa yang menimpanya. Pada akhirnya, ending dari film ini sendiri merepresentasikan kejujuran, dimana akhirnya Jojo memilih jalan hidup yang realistis baginya.

Hanya saja kejujuran yang disampaikan di film ini tak bisa serta-merta diterima dengan lapang oleh semua penontonnya. Yang namanya komedi, tentu berurusan dengan masalah selera pribadi. Apalagi kalau yang dibuat lucu adalah soal perilaku seks, sehingga orang-orang yang memegang teguh nilai-nilai tertentu (agama atau tradisi) bisa jadi tak bisa tertawa lepas. Maklumlah, soalnya perihal seks di negeri ini belum sepenuhnya bisa diomongkan dengan leluasa. Masih ada batasan-batasannya. Inilah salah satu resiko yang harus diterima oleh film ini.

Tapi, toh saya masih meyakini film ini masih bisa dikonsumsi oleh banyak penonton, terlepas apakah setiap penonton bisa tertawa lepas atau dalam hati saja. Soalnya, Quickie Express tak bicara soal seks melulu, tapi ada juga drama percintaannya, persahabatan, serta nostalgia pada style retro dan vintage. Selain demi urusan artistik dan sinematografi, secara sadar atau tidak sadar style jadul ini berpengaruh terhadap strategi pemasaran film ini. Soalnya, dengan dunia fashion yang kini sedang balik lagi ke gaya pada era ‘60-an atau ’70-an, maka style Quickie Express yang retro ini mungkin malah bisa lebih menjual.

Serius Untuk Lucu

Tak ada bagian cerita yang terlampau serius di film ini. Justru keseriusan itu dipakai untuk mengundang gelak tawa. Ciri ini sudah tampak pada permulaan film saat Jojo—lewat narasi off screen—sedikit berfilosofi tentang perumpamaan hidupnya. Tapi, tak lama setelah itu, adegan langsung pindah saat nyawa Jojo ada di tangan Matteo, yang dari potongan dialog dan raut muka mereka saat itu pun sudah mulai tampak melucu, walaupun sebenarnya situasinya sedang serius dan genting. Lalu, penggalan flashback yang digunakan di awal film juga menyatakan kelucuan itu. Dari cara bertutur dan editing seperti ini bisa dilihat kalau Dimas Djay sudah sejak awal memang berniat ingin melucu.

Kelucuan itu muncul juga karena twist-twist yang disisipkan oleh Joko. Tak dipungkiri, berbagai twist ini memang mengocok perut dan benar-benar tak terduga. Plot yang diarahkan untuk serius, ternyata dibelokkan dengan lihai menjadi lucu. Twist-twist inilah yang membuat kecerdasan cerita film ini tetap ada dan terjaga, karena bagaimanapun jika disimak lagi, sebetulnya jalan cerita yang ditawarkan oleh Joko pada beberapa bagiannya masih bisa ditebak dan agak biasa. Namun begitu, bolehlah dipuji struktur cerita buatan Joko ini. Di sinilah letak keunggulan dan kekhasan Joko sebagai penulis skenario.

Bagi saya, Joko Anwar memang termasuk scriptwriter terbaik negeri ini. Soalnya, selain berbagai twist dalam cerita, dia cukup kreatif menciptakan jalinan kisah yang enak untuk diikuti dengan plot yang bergerak maju, seperti pada Janji Joni. Joko juga mampu menciptakan karakter-karakter yang bisa membuat ceritanya semakin kuat. Lihat saja Janji Joni yang penuh dengan para cameo, tapi kehadiran mereka justru membuat kokoh struktur ceritanya. Masih ingat adegan saat Tora dan Winky berperan menjadi (yang ternyata) pasangan gay di toilet bioskop. Atau potongan dialog antara sopir taksi (Barry Prima) dengan si dokter (Tantowi Yahya) saat istri sopir taksi yang hendak melahirkan:

Sopir taksi : “Pasti laki-laki dok.”

Dokter : “Anda yakin?”

Sopir taksi : “Fifty-fifty.”

Dialog ini tak akan menjadi humor yang cerdas dan unik jika si dokter bukan diperani oleh Tantowi Yahya, yang menjadi host acara kuis Who Wants To Be A Milyuner. Dan, di Quickie Express, formula itu terulang lagi pada saat Jojo diundang makan malam bersama dengan keluarga Lila. Lalu, Lila berbicara kepada ayahnya, Jan Pieter Gunarto, “Jojo ini jago dansa lho Pah.” Meskipun tak sampai menciptakan tawa yang keras, tapi tetap terasa kelucuannya yang cerdas. Soalnya, Rudy Wowor memang terkenal jago dansa. Dari sini juga bisa dilihat berpengaruhnya proses casting di film ini.

Pada Quickie Express, Joko juga sengaja menciptakan tokoh-tokoh yang karakternya sudah mengundang tawa dengan sendirinya. Seperti, Piktor dengan lidah yang selalu gagal mengucap huruf P. Marley yang tingkah polahnya berdasarkan ajaran rasta yang dianutnya. Jojo yang lugu, cuek, dan selebor. Lila yang polos dan suka ngorok. Om Mudakir yang berdarah Arab tapi berpolah lentur bak wanita. Dan, Matteo, pria Ambon plus tukang pukul yang ternyata pencemburu buta. Dengan begitu, lengkap sudah ornamen komikal yang melekat pada tiap tokohnya.

Dimas Djay sendiri bisa dibilang berhasil mengarahkan aktor-aktrisnya. Plot yang sudah dibangun Joko pun diimbangi dengan baik oleh penyutradaraan Dimas. Aura serius di beberapa adegan dibangun dengan pas, sehingga twist-twist yang ada berjalan mulus menipu penonton. Adegan-adegan lucunya pun tercipta dengan baik. Favorit saya adalah adegan yang mengocok perut saat Jojo-Marley-Piktor dilatih menari erotis oleh si trainer (Roy Tobing). Poin lebih harus diberikan pada Roy Tobing yang menjadi scene stealer akibat kelenturan gerakan dan aktingnya yang sensual.

Dimas juga cukup mampu membangun nuansa film yang stylish, misal saat adegan Jojo memasuki ruangan judi kaum socialite dengan diiringi irama keren dari lagu “Mesin Cinta” ciptaan The Squirts (dibentuk dan dianggotai oleh para music director film ini: Aghi Narotama, Bemby Gusti, Ramando Gascaro, plus dibantu David Tarigan dan Abe). Di adegan itu, kamera bergerak dinamis memutari ruangan dengan ritme musik yang asyik. Dalam film ini memang terasa sekali semangat total sang sutradara untuk mengembalikan nuansa jadul, dari urusan tata artistik, sinematografi, kostum, hingga make-up, yang hasilnya cukup berhasil. Kedetilan Dimas Djay memang di atas rata-rata.

Om Tio, Tante Ira, Lukman, dan Sandra

Ada pula kelebihan lain dalam tiap film Kalyana, yakni pameran akting berkualitas terbaik dari para pemainnya, diperkenalkannya aktor-aktris pendatang baru, serta parade para cameo-nya—bagi yang sudah menonton Quickie Express, cameo yang muncul saat menjelang akhir film mungkin paling diingat (terutama bagi penonton wanita).

Untuk urusan pemain, Kalyana memang tidak main-main. Aktor-aktris berdaya akting tinggi selalu dipasang. Dalam Quickie Express, daftar pemain favorit saya pun berderet, dari Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Lukman Sardi, dan tentunya Sandra Dewi. Saya cukup tersengat dengan penampilan empat pemain ini. Kenapa?

Pertama, Tio Pakusadewo. Sejak awal mula (sekaligus menjelang akhir) film, saya sudah terpukau dengan aktingnya sebagai tangan kanan plus tukang pukul Jan Pieter Gunarto. Logat bahasa Ambon plus makian kasarnya dilafalkan dengan berkarakter. Belum lagi gerak-geriknya berhasil menunjukkan sifat emosional yang komikal, serampangan, dan berpikir pendek dari seorang kriminil.

Kedua, Ira Maya Sopha. Dari proses menonton film ini, saya berpikir mungkin tidak ada aktris yang mampu memerankan tokoh Tante Mona dengan pas selain Ira Maya. Atau, jangan-jangan tokoh ini memang diciptakan untuk Ira Maya. Yang pasti, bagi saya, aktris ini sukses mengeluarkan karakter yang mewah, elegan, tapi juga haus seks, judes, dan posesif, dari seorang istri pengusaha kaya sekaligus penjahat kelas kakap.

Ketiga, Lukman Sardi. Ia mungkin salah satu aktor watak berbakat di negeri ini. Walau saat kecil dia pernah bermain di film layar lebar, tapi saya baru pertama kali menyaksikan aktingnya di Gie (Riri Riza, 2004). Dan sejak itu, dia menjadi salah satu aktor favorit saya, karena permainan akting di film-filmnya bak bunglon saja, dan saya punya catatan agak panjang soal kualitas aktingnya. Lihat saja akting dia sebagai mahasiswa yang idealis, kritis, dan setia kawan dalam Gie. Lalu, menjadi hitman berdarah dingin, pendiam, cinta keluarga, dan penuh penyesalan dalam 9 Naga (Rudi Soedjarwo, 2005).

Kemudian, Lukman memerankan pria berdarah Jawa yang demen menikah, nakal dan genit dalam Berbagi Suami. Atau, perhatikan aktingnya yang menyebalkan saat menjadi anak menteri sok kuasa dan mau menang sendiri, egois, juga homoseksual kasar dalam Jakarta Undercover (Lance, 2006). Dan, sebagai sopir bajaj polos, jujur, religius, dan cinta anaknya dalam Naga Bonar Jadi 2 (Deddy Mizwar, 2007). Kini, dalam Quickie Express, ia menjadi pria yang sangat jago untuk urusan seks. Meski memang harus diakui, di film ini, porsi perannya terbatas dan biasa saja. Mungkin kesalahan melafalkan huruf P saja yang membuat karakternya lumayan unik. Tapi, dengan track record-nya yang penuh warna itu, maka Lukman tetap punya kekuatan akting yang terjaga, dan juga berhasil menghidupkan karakter Piktor.

Keempat, Sandra Dewi. Ya, lagi-lagi Kalyana menemukan bakat baru di dunia film. Ini memang hobi Kalyana yang selalu mengorbitkan bintang baru. Ingat saja kemunculan Tora Sudiro dalam Arisan!, atau Dominique dalam Berbagi Suami. Kini, giliran kemampuan akting Sandra yang dieksplor Kalyana. Dan, dengan tubuh yang agak berisi, gaya berbicara dan intonasi suara yang halus, serta tingkah dan raut wajah yang lembut juga polos, performa Sandra berhasil mewujudkan seorang Lila.

Bagi beberapa orang, ada beberapa adegan di Quckie Express yang membuat akting Sandra disama-samakan dengan beberapa peran Dian Sastro dalam film-filmnya. Tapi, bagi saya, justru Sandra lebih berhasil dalam menampilkan sosok cewek yang manis ketimbang Dian. Penilaian saya berlebihan? Tidak juga. Ingat ucapan Lila yang, “Nggak bisa yah. Sedih deh.” Bagaimana reaksi seisi bioskop? Apakah “bergemuruh” saat Lila mengucapkan kalimat itu (seperti yang saya alami saat menonton)? Jika iya, maka paham kan maksud saya. Malah, pasca menonton, saya sok memprediksi kalau kelak kalimat itu akan sepopuler “Apa Kata Dunia?” Berlebihan? Yang terakhir ini, bisa ya, bisa juga tidak.

Hanya sayang, bagi saya, film ini terlalu dimonopoli oleh tokoh Jojo berikut problematika hidupnya. Memang sebelum menonton, yang ada di benak saya adalah ini film tentang kehidupan gigolo, sehingga Marley dan Piktor saya kira juga akan mendapat porsi yang cukup, apalagi posternya menampilkan trio gigolo. Tapi ternyata Jojo yang menjadi fokus film ini. Kehidupan Jojo lah yang membuat plot film ini bergerak. Persis seperti tokoh Joni dalam Janji Joni. Tak salah memang, tapi menjadi sayang karena drama persaingan antar gigolo tak tereksplor. Padahal akhirnya, Jojo dipertontonkan bak cerminan para gigolo lain di film ini yang ingin meraih impian hidup serba enak di kota besar.

Soal akting Tora, saya pikir tak jelek tapi juga tak terlalu bagus. Begitu juga Aming. Mungkin karena mereka sudah lekat dengan peran-peran lucunya di acara Extravaganza, sehingga penampilannya menjadi biasa di film ini. Bagusnya, chemistry Tora dengan Lila lumayan terasa.

Akhir kata, film ini sukses membuat saya terhibur dan tertawa lepas. Memang, sebelum menonton, harapan saya cuma satu, yakni ingin tertawa saja. Jadi, saya tak ada beban dalam menontonnya. Saya cukup bersyukur ada film seperti ini dan mampu membuat saya terbahak-bahak setelah sebelumnya selalu tertawa terpaksa akibat menonton film horor masa kini—dengan sosok hantu, akting pemain, cerita, maupun pengadegannya yang lebih mengundang tawa daripada membuat bulu kuduk berdiri.

PS: Ditulis pada Desember 2007.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s