Kelinci

Sore itu, hampir dua minggu yang lalu, gue memutuskan untuk pulang cepat. Niat yang tadinya ingin tiba di rumah lebih dini ternyata gagal. Gue terjebak macet di sepanjang jalan Mampang Prapatan-Duren Tiga-Warung Buncit. Penyebabnya, ada kebakaran di daerah Warung Buncit. Aliran kendaraan pun tersendat.

Di tengah-tengah kemacetan itu, gue melihat satu majalah di lapak penjual koran. Gue memang rutin membeli majalah itu setahun belakangan ini. Langsung muncul niat untuk membelinya.

“Nanti aja deh cari di kios koran deket rumah,” pikir gue saat itu.

Dengan angkot, akhirnya gue tiba di kios dekat rumah itu. Dari jauh sih gue nggak melihat penampakan majalah itu. Mungkin karena gue melihatnya sekilas saja. Saat sudah di depan lapak itu, barulah gue cari benar-benar. Tengok jejeran majalah dari kanan ke kiri, nggak ada. Dari atas ke bawah, juga nggak ada.

Tiba-tiba saja si mas-mas penjualnya bertanya, “Cari apa mas? Playboy ya?”

“Iya. Ada nggak?”

“Ada, ada.”

Ternyata majalahnya nggak dipajang di lapak. Tapi ditumpuk di dalam kiosnya. Dikasihlah itu majalah ke gue sambil bilang, “Baru datang nih mas tadi malam.”

“Ooh. Kirain belum sampe,” balas gue.

Ya sudah, langsung gue bayar. Taruh dalam tas, lalu pulang. Di jalan, gue bingung. Tahu darimana mas-mas penjual itu kalau gue lagi mencari Playboy. Raut muka gue kah? Apa memang ciri-ciri orang mau membeli Playboy seperti gue itu? Apa jangan-jangan si mas-mas penjual bisa baca pikiran gue? Ataukah tampilan gue yang kayak playboy? Ah yang terakhir ini nggak ada hubungannya.

Gue jadi ingat hari saat Playboy Indonesia edisi perdana terbit. Siang itu, di Cilandak, gue lagi menunggu bus. Iseng-iseng gue melihat-lihat isi lapak koran di dekat situ. Ternyata ada majalah Playboy. Langsung saja gue membelinya.

Sehabis serah terima majalah itu, si penjual bertanya, “Mau dibungkus plastik item nggak?”

“Nngghh…bole deh mas,” jawab gue.

Gue pilih membungkusnya dengan plastik, karena saat itu gue nggak bawa tas. Juga, daripada jadi perhatian orang-orang karena membawa majalah itu hehehe. Soalnya, perjalanan gue juga masih jauh. Masih harus naik buskota dua kali lagi.

Mmmh….Ah ada-ada saja.

 

PS: Ditulis pada Juni 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s