Jendela Waktu

Jendela waktu. Ini julukan yang tepat untuk buku. Apa pun jenisnya. Buku bisa memutar rekaman kehidupan. Diungkap lewat coretan tinta dan disokong imajinasi. Kadang akibatnya, masa lampau bisa datang kembali, lengkap dengan segala perasaan kunonya.

Alhasil, buku menyuguhkan pemandangan yang sudah lalu. Saya hanya dipersilahkan melongok jejak kehidupan dari daun jendelanya. Dari per halaman buku.

Inilah yang terjadi beberapa hari terakhir. Saya bertemu lagi dengan buku ini setelah sekian lama tak berjumpa. Buku ini tak menonjolkan eksistensinya sejak tertumpuk di rak karena kalah oleh para pesaingnya. Atensi saya juga terpecah oleh rasa hutang membaca beberapa buku. Nilai historis buku ini terlupakan oleh saya.

Buku ini—beberapa teman lebih suka menyebutnya planner—pernah menjadi barang wajib saat kuliah dulu. Awalnya, tugas buku ini untuk lembar catatan kuliah dan kegiatan kampus lain. Hingga suatu saat, entah mengapa, seorang teman memulai corat-coret ungkapan hatinya.

Terpancinglah teman yang lain untuk ikut-ikutan menulis di buku ini. Diam-diam, buku ini beredar di tangan beberapa teman pada saat kuliah, rapat-rapat kegiatan kampus, atau saat nongkrong di HMJ.

Windy, Susan, Atiek, Tensi, Gama, Shelly, Icha, Butet, Ucha, Yonghan, Pebro, Ola, dan seorang anonim. Mereka ini yang sumbang kata di buku saya. Mereka ini pula yang memberikan nyawa pada buku saya.

Dari mereka, ada yang mengaku lebih suka menulis di buku saya, daripada buku curhat HMJ 2001. Entah mengapa. Mungkin buku saya ini terasa lebih personal bagi yang menulis. Mungkin. Tapi itu tak jadi soal. Saya membebaskan buku ini dicoret apa saja. Silahkan anggap buku ini apa saja.

“Btw, tampaknya diary HMJ 2001 pindah ke sini ya??” tulis Ola.

Ucha juga berucap senada, “Ikutan curhat yee…soalnya gue baru tau kalo uda beredar buku curhat ala kuple.”

Akhirnya, buku saya ini menjadi kumpulan perasaan. Omnibus ungkapan hati para teman. Melihat kumpulan tulisan itu, seperti melihat sedikit karakter para teman yang menulis itu. Juga masa lalu. Beberapa kutipan tulisan teman-teman saya di bawah ini mengekspresikan perasaan mereka.

Ada yang bingung karena tak ada kecengan, padahal tadinya selalu ada kecengan. Seperti tulisan Windy, “Bt niy gw, lg ga ada kecengan. Terakhir, ngecengin cowo bulan Oktober 2003 kmaren. Trus …ga ada lagi.”

Ada juga yang menasehati saya. Isi nasehatnya seperti lazimnya seseorang melihat temannya yang tak punya pasangan. Padahal saya sih merasa biasa saja lah tak ada pasangan (saat itu). Hanya, oknum bernama Cucun ini memang hobi mewanti-wanti saya agar segera memiliki pasangan. Mungkin karena mentang-mentang ia sudah punya pendamping saat itu.

“KKN menanti di depan mata, dikau HARUS GESIT mengejar wanita2x KKN atawa wanita2x desa yak!! Masih banyak ikan di LAUT! Inga2x jml populasi ce msh bnyk bgt dibanding co…oche..oke deey…” kata Cucun.

Selain menasehati, Cucun juga sering menghina saya. Tak jarang, tiba-tiba menulis dengan penuh hinaan. Apa salah saya saudari Cucun. Sabar-sabar.

“Ple, kok loe makin itam legam lusuh menyeluruh gt seh… saya sarankan sehabis OJ, dikau potong rambut ala rintintin plus lulur mandi mewangi biar putih tihtihtih…” hina Cucun. Sial. Pasti dia menulis ini sambil cengar-cengir.

“Ple, koq potong rambut siy? Kan jd cupu, jd ky kobo chan/kariage kun!” kata Windy. Teman satu ini ikutan berkomentar saat rambut gondrong saya dibabat habis oleh mba-mba salon.

Ada pula yang bercuap bijak, seperti menuliskan satu solusi terhadap suatu masalah. Tapi entah masalah siapa. Tiba-tiba saja ada tulisan-tulisan ini. Seperti yang ditulis si teman anonim. “Ketika kita merasa bodoh: Fools are more often don’t call themselves fool, if u’r saying u’rs a fool, then u’r not one of them.”

Atau yang ditulis Gama, “Memang proses berpikir memerlukan kehati-hatian. Dengan prinsip2 tertentu dan tidak sembarangan. Logis, koheren, komprehensif, radikal….dll. Ck..Ck..Ckkk HEBAT.” Pada tulisan Gama ini, saya mencium kegelisahan. Bagaimana Gam, masih gelisah?

Lagi-lagi Cucun ikut-ikutan berbijak ria dengan menulis lirik lagu, “Why don’t u go ur way and i’ll go mine. Live ur life and i live mine. Maybe u do well and I’ll be fine. Coz we better on sepparated.” Saya tahu saat sedang menulis ini, ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Bukan begitu Cucun? 🙂

“Gua mau ngasih buah kata dari Forest Gump ni ple buat lu: Hanya sedikit kekayaan yg dibutuhkan, selebihnya hanya buat kebanggaan. Kata ibunya Forest,” tulis Pebro. Cowok—yang katanya mirip Ariyo Wahab, Once Dewa, hingga Ian Kasela—ini memang suka memberikan pesan yang tak dinyana sesuai dengan saya. Tapi itu dulu.

Ada juga kesedihan, akibat merasa sendiri. “…Jadi inget film Mengejar Matahari, ih jadi sedih gini. Udah ah ntar gua nangis lagi,” tulis Shelly.

Kesedihan pun tak baik berlaga sendiri di buku ini. Jadi rivalnya, kebahagiaan, dirasakan oleh Butet. “Ha3…kemaren gue seneng lho ketemu orang ganteng! Lumayan ngobrol2 ½ jam! He..he..truz orangnya baik banget ple! Menyenangkan pokonya! Udah ah…masih laper niy!”

Sekarang, buku saya ini masih menyisakan enam halaman kosong. Belum diisi. Saat menjelang sisa halaman itu, teman-teman memang sudah berpencar. Tak lagi bercengkerama dalam satu ruangan. Terpisah fisik satu sama lain. Tapi tidak dengan semangat buku ini.

 

PS: Ditulis pada Juli 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s