Bosan

Sebuah percakapan mini tak penting terjadi beberapa waktu lalu. Saat itu, sehabis menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan saudara saya.

Di dalam mobil perjalanan pulang itu, ibu saya berkata, “De, kamu masih lama kan nikahnya? Ntar-ntar aja yah. Kalo bisa sekolah lagi dulu aja.”

“Iya iya, masih lama. Tenang aja, rambut aja masih gondrong gini,” balas saya.

“Lho, jadi kalo ntar tiba-tiba rambutnya udah rapih dan pendek lagi, kamu udah mo nikah?” tanya tante saya yang juga ikut dalam perjalanan itu.

Halah, barulah saya sadar kalau telah memberikan jawaban yang aneh. Buru-burulah saya mengoreksi.

“Maksudnya, selama ade masih pengen berambut gondrong, berarti masih pengen bebas. Belum pengen nikah. Santai aja.”

“Ah, nikah muda juga gak apa-apa,” balas tante saya lagi.

Tiga jam sebelumnya. Saya berada di dalam sebuah GOR di daerah Cijantung. Akad nikah dan resepsi pernikahan om saya memang dilakukan di situ. Akad nikah mulai pukul 8.30 pagi. Saya dan keluarga datang 15 menit sebelumnya. Saat datang, langsung silaturahmi dengan anggota keluarga yang lain. Dan, dimulailah pertanyaan-pertanyaan yang membosankan itu.

“Mana calonnya, kok nggak diajak?” tanya salah satu om saya.

“Eh iya, nggak bisa, dia lagi ada acara keluarga.”

“Eh, Ngga, kapan nyusul,” tanya salah satu tante saya.

“Nyusul apaan bude?” ucap saya pura-pura tolol berharap pertanyaan itu beralih ke topik lain.

“Yee kamu. Nyusul nikah?”

“Mmh. Yah begitu deh,” sambil cengengesan

Saya memang selalu bingung untuk menjawab pertanyaan “Kapan nyusul nikah itu”. Mau menjawab “Nanti-nanti atau ntar dulu deh atau kapan-kapan”, takut kualat. Mau menjawab “secepatnya”, nanti malah orang tua saya yang kaget. Mau menjawab “Doakan saja ya Bude/Pade”, malah merasa sok bijak. Walau tampaknya, jenis jawaban terakhir itu paling bagus di antara yang lain. Dan, mungkin memang jawaban yang paling bijaksana. Tapi, saya memang belum cukup berani menjawab begitu.

Tercatat, tiga kali pertanyaan yang sejenis itu terlontar pagi itu. Uuggh, bosan sekali rasanya, kalau datang ke suatu pernikahan yang ditanya pertama kali pastilah soal itu.

Sehabis akad nikah selesai, masih ada selang waktu 1,5 jam ke momen resepsi. “Ah, daripada ditanya-tanya soal pernikahan, mending saya kabur,” pikir saya saat itu.

Iya, memang lebih baik “kabur”. Daripada ditanya melulu dan saya memberikan jawaban-jawaban yang aneh. Untung, di seberang GOR ada warnet. Ya sudahlah, saya sambangi itu warnet. Sekitar sejam lebih saya di sana, lalu ditelpon Ibu. Disuruh balik ke acara.

Setengah jam kemudian, saya dan keluarga berada di dalam mobil. Pulang ke rumah.

“Jadi kira-kira kapan kamu siap nikah?” tanya si tante di dalam mobil.

 

PS: Ditulis pada Juni 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s