3 Hari Untuk Selamanya

Saya dan pacar sering mengobrol serius. Bukan soal pernikahan atau masa depan. Tapi lebih sering mengomentari hal-hal yang kadang tidak atau belum memiliki relasi kepentingan dalam masa hidup kami. Perbincangan kami akhirnya sering kali berputar-putar tentang Indonesia, anak muda, sinetron, dan tentu saja, film. Untuk soal film, saya memang berperan besar menjerumuskan pacar dalam obrolan yang sok serius dan sok njelimet.

Intinya sih, obrolan kami ngalor-ngidul tak jelas juntrungannya. Tapi kami merasakan kalau apa yang diobrolkan itu sebenarnya, meresahkan pikiran. Dan mungkin, siapa tahu, juga akan meresahkan pikiran orang banyak. Keresahan dan kegelisahan memang lekat dengan manusia. Saya juga pernah dan kadang masih mengalaminya. Entah faktor usia berpengaruh atau tidak atas hal ini. Tapi jika berpengaruh, maka mungkin wajar jika Ambar dan Yusuf merasakan hal yang sama.

Ambar dan Yusuf berasal dari masyarakat kelas menengah atas. Ambar berusia 19 tahun, sedangkan Yusuf dua tahun lebih tua. Yah, di usia segitu, katanya, manusia masih mencari pegangan dalam hidup. Juga masih harus banyak belajar dari pengalaman hidup orang lain. Pandangan hidup Ambar dan Yusuf tentu berbeda dengan orang tuanya.

Soal pernikahan, seksualitas, kematian, keluarga, dan budaya, ternyata merisaukan Ambar dan Yusuf. Mereka membincangkan hal-hal itu dalam perjalanan darat rute Jakarta-Yogyakarta selama tiga hari. Jadi, berceloteh tentang apa saja, yang belum tentu penting bagi penonton, tapi penting bagi sosok Ambar dan Yusuf. Yang belum tentu dirasa penting bagi penonton, tapi dianggap penting bagi pembuat film.

Dari situ masalah yang muncul adalah keterkaitan emosi atau kedekatan penonton dengan karakter per tokohnya dan cerita yang digulirkan. Bagi penonton dari segmen anak muda yang sepantaran dan memiliki pengalaman yang sama dengan Ambar dan Yusuf, mungkin merasa pas-pas saja dengan ceritanya. Lain halnya bagi penonton yang tak merasa dekat dengan karakter dan ceritanya. Tak suka dengan film ini adalah hasilnya. Saya sendiri terpecah. Kadang merasa dekat dengan beberapa bagian film ini. Ada juga bagian yang terasa jauh dengan saya.

Dari situ saya melihat kalau sosok Ambar dan Yusuf tak mewakilkan generasi dan persoalan anak muda secara utuh. Juga bukan bercerita soal Indonesia. Terlalu sederhana untuk itu. Kalau mewakilkan pandangan sekelompok anak muda, mungkin iya. Tapi itu juga tak sepenuhnya mirip dengan perdebatan yang dialami anak muda sekarang. Sepertinya, karakter Ambar dan Yusuf cuma dipinjam untuk mengisahkan persoalan tentang kegelisahan sesuai dengan pandangan pembuat film. Dan kegelisahan itu sebenarnya bukan dialami oleh anak muda seperti Ambar dan Yusuf saja.

Bagi saya, film ini cuma ingin berkomentar. Saya ingat sebuah interview dengan Riri Riza. Riri bilang bahwa film ini bicara tentang anak muda yang mencoba melihat pemikiran orang lain. Lalu, dia juga bilang kalau film ini adalah ekspresi kegelisahan tentang persoalan cara pandang, seksualitas, apa yang baik dan apa yang benar, apa yang salah dan apa yang haram, apa yang haram tapi terpaksa. Kurang lebih begitu yang Riri bilang.

Itulah, hanya ekspresi. Sehabis menonton film ini, yang tersisa adalah rasa tanggung terhadap ceritanya. Bukan akibat ending-nya menggantung (saya tak mempermasalahkan ending seperti itu). Tapi mungkin karena sebatas ingin berekspresi atau berkomentar, jadinya film ini terlihat tak ada gejolak dalam ceritanya. Mengalir begitu saja dan konfliknya kurang mengena. Jadinya, menontonnya terasa datar. Untung duet akting Nico dan Ardinia cukup menghasilkan chemistry dan menampilkan sesuatu yang berbeda.

Jujur saja, sebelum menonton film ini, saya kira Riri Riza akan membuat film dengan cerita dan pesan yang menukik seperti ELIana, eliANA. Tapi ternyata tidak. 3 Hari Untuk Selamanya belum bisa setara dengan masterpiece Riri itu. Bagi saya, 3 Hari Untuk Selamanya tidak bisa dicap jelek, tapi juga tidak bisa dibilang bagus-bagus amat.

 

 

PS: Ditulis pada Juni 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s