The Big Day

Tak ada sesuatu yang sempurna. Begitulah maksud film pendek ini. Fokus cerita tentang Tatiana (diperankan oleh Tamara) yang hendak menikah. Kesibukan melanda. Ia ingin semua hal nantinya berjalan se-perfect mungkin. Di hari pernikahan, ternyata berjalan di luar dugaan. Mobil pengantin perempuan terjebak macet. Ia memutuskan naik ojek ke gereja.

Kejadian-kejadian kecil mewarnai perjalanan Tatiana selama menuju ke gereja. Membuatnya berpikir ulang soal kebahagiaan hidup yang sempurna. Kebahagiaan memang harus dibagi dengan sesama. Tak peduli kenal atau tidak dengan si empunya kebahagiaan. Seperti orang-orang yang ada di pinggir jalan, pengendara ojek, atau bahkan pengemis jalanan.

Plot dalam film ini mengalun lancar. Hal-hal kecil yang menimpa Tatiana diterjemahkan dengan baik. Ada latar belakang logis dalam setiap kejadian kecil yang dialami Tatiana. Ide cerita film ini memang ringan. Bahkan, dapat dibilang paling ringan dibandingkan film pendek Lux lainnya.

The Big Day terlihat tidak berusaha membebani penonton dengan kerumitan teknis, seperti sinematografi, cara tutur cerita, atau pengadegan. Saking ringannya, seperti melihat sebuah iklan panjang di televisi. Dapat dikatakan, karena keringanan dalam hal bercerita itulah, maka pesan dalam film ini mengalir tanpa hambatan.

Sayang, menurut saya, kelemahan yang mengganggu malah muncul pada referensi visual dari si pembuat film. Ada adegan ketika Tatiana berkhayal dirinya dihadang oleh penjahat, lalu ia menghajar si penjahat. Dalam khayalannya itu, ia memakai pakaian ala negeri barat zaman dulu. Khayalan itu muncul karena Tatiana dipaksa memakai helm oleh si pengedara ojek. Ia menolak, karena dengan memakai helm akan merusak hiasan di kepalanya.

Atau, adegan ketika Tatiana harus berjibaku menempuh perjalanan penuh rintangan di dalam hutan untuk menuju ke gereja. Dalam bayangannya itu, ia yang memakai gaun pengantin, harus menempuh jalan di hutan dengan menaiki kuda. Bayangan itu muncul saat Tatiana naik ojek dalam perjalanan ke gerejanya.

Dalam dua adegan itu, terlihat pembuat film mengambil referensi visual dari beberapa film luar. Ini, yang disebut Eric Sasono, adalah self-reference atau rujukan ke dalam. Pada adegan yang pertama, mengingatkan saya pada film-film negeri barat yang ber-setting cerita pada zaman medieval. Pakaian Tatiana dalam khayalannya lah yang mengidentifikasikan hal tersebut. Sedangkan, pada adegan yang kedua, saya melihat ada referensi dari film Runaway Bride yang ditiru oleh si pembuat film ini.

Mengapa hal ini saya nilai paling mengganggu? Ini karena referensi visual yang diambil berasal dari luar negeri ini. Memang, tak haram hukumnya untuk mengambil referensi visual dari film lain. Bahkan Quentin Tarantino pun melakukannya di film-filmnya, seperti alur, plot, gaya, dan visual dari film-film lain. Tapi rujukan referensialnya itu diubah dan dieksplor oleh Quentin menjadi lebih kontekstual dan menarik dalam film-filmnya. Ada argumen logis-estetis yang lebih jelas. Coba tengok Pulp Fiction (1994) atau Kill Bill Volume 1 & 2 (2003).

Namun, berbeda halnya dengan The Big Day. Dalam film pendek ini, terlihat pembuat film hanya sekedar ingin bergaya. Tidak ada kontekstualisasi dengan kondisi nyata dalam visualisasi ini. Apakah tidak ada referensi dari dalam negeri ini yang dapat dijadikan ide untuk menggambarkan khayalan Tatiana? Mengingat The Big Day ber-setting di Jakarta, mengapa tidak mengambil suasana kehidupan kota Jakarta yang semerawut untuk dijadikan setting khayalan Tatiana itu.

Saya pikir banyak fenomena, kejadian, atau rutinitas masyarakat kota Jakarta yang dapat dijadikan rujukan referensial adegan rintangan yang cukup bagus dalam khayalan Tatiana mengejar waktu ke proses pernikahannya, ketimbang berkuda di hutan atau berkelahi melawan penjahat dengan kostum zaman medieval negara barat. Jika ini dilakukan pembuat film, bukan tak mungkin unsur reka-percaya (make believe) dalam film ini terbangun dengan baik, sehingga film ini akan terlihat lebih nyata lagi dan lebih dekat secara emosional dengan penonton.

Bagaimanapun, saya percaya bahwa film adalah sebuah produk representasi. Film harus dekat dengan sisi psikologis dan sosiologis para penonton. Persoalan self-reference ini mengingatkan saya pada pernyataan dewan juri Festival Film Indonesia 2005 lalu. Saat itu, mereka mengatakan bahwa kekurangan sineas Indonesia adalah kemampuan dalam mengutarakan tema dan cerita yang membumi dengan realitas dan persoalan sosial di Indonesia. Sineas-sineas Indonesia terlalu sering mengambil referensi dari luar. Begitu kata juri-juri itu.

Saya sepakat dengan pendapat itu. Ini dapat berakibat, film-film nasional banyak yang lepas konteks dan jauh dengan realitas. Persoalan self-reference dalam film ini dapat dikatakan salah satu bukti pendapat itu. Lagipula, saya pikir pesona kekuatan perempuan Lux yang ditunjukkan dalam The Big Day mungkin akan terlihat lebih manusiawi, kuat, nyata, dan terasa kekhasan Indonesianya jika merujuk referensi yang bersifat kontekstual. Terlepas dari itu semua, kampanye “Beauty is the power to fight for your dreams” dari Lux melekat dalam cerita The Big Day ini.

PS: Ditulis pada Juni 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s