Paris, Je T’aime

Akhirnya kemarin, setelah ditunda sejak Maret lalu, saya menonton juga film keluaran tahun 2006 ini. Kumpulan film pendek karya keroyokan para sineas tenar, seperti Joel & Ethan Coen, Wes Craven, Alfonso Cuarón, Alexander Payne, Walter Salles, Daniela Thomas, Gus Van Sant, dan banyak lagi. Totalnya ada 18 segmen film pendek. Masing-masing bertutur tentang kisah romantis dengan style dan cerita yang unik. Tapi disatukan oleh kesamaan tema: cinta. Simak saja dua tagline film Paris, Je T’aime ini, yaitu “Une Ville. 10 Millions de caeurs. Une histoire d’ amour. Un film.” Dan, “Fall in love with Paris 18 times.

Cinta memang universal. Begitu juga jenis dan bahasa tutur cinta itu. Jadinya, film ini punya kekhasan yang berbeda di tiap segmennya. Menyusuri cerita visual 18 segmen ini ibarat berkeliling melihat realitas kehidupan yang penuh cinta dengan berbagai bumbunya. Jadi tidak harus mendayu-dayu romantis seperti menonton Romeo Juliet.

Saya disuguhi representasi bahasa cinta yang multi jenis. Cinta yang tidak harus berkisah soal kisah manusia yang kasmaran, tapi lebih lengkap lagi. Ada kisah tentang cinta yang absurd, humor satir akibat perbedaan budaya, cinta antar etnis dengan bumbu stereotipenya, ironisme plus kesedihan dari sebuah kerinduan, gagalnya bahasa cinta, kesepian, keterasingan, kekhawatiran akibat kekangan cinta, dan berbagai cerita cinta lain. Ah, saya benar-benar terpukau saat menontonnya.

Semua elemen film dalam setiap segmen Paris, Je T’aime berfungsi dengan maksimal. Plot, karakter, visual, akting, dan penyutradaraan, terihat sangat optimal diterapkan pada setiap segmennya. Bagi saya, kisah terbaik ada pada segmen Loin du 16e karya Walter Salles dan Daniela Thomas. Dan, yang paling memorable ada di segmen Parc Monceau karya Alfonso Cuarón dengan twist ending-nya dan disyut tanpa editing, mengingatkan saya dengan Children of Men yang terpuji itu. Dengan durasi yang pendek tiap segmennya, saya diberikan mozaik kisah cinta di sebuah kota. Gunanya untuk memahami cinta itu sendiri. Salahkan film ini jika saya menjadi melankolis begini.

 

PS: Ditulis pada Juni 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s