Matchmaker

Film pendek ini bertutur tentang seorang perempuan muda bernama Kay (Mariana Renata). Ia bertemu dengan Darren Wibisono (Vino Bastian) di sebuah toko buku yang ternyata adalah sang pemiliknya. Kemudian, Kay akhirnya memutuskan untuk mengenalnya lebih dekat.

Plot mengalir lurus dengan apa adanya. Tak ada kejutan dalam cerita. Penonton digiring untuk mempercayai Kay dan Darren saling menyukai dan sedang pedekate. Sampai akhirnya, tenyata penonton disuguhi sebuah twist ending. Ternyata, Kay mendekati si cowok pemilik toko buku untuk menjodohkannya dengan teman cowok lainnya. Lagi-lagi menyinggung isu kehidupan homoseksual. Cukup menohok dan fresh. Khas sekali aroma gaya Nia Dinata.

Sebenarnya dari awal mulai film, saya sudah mencium gelagat adanya twist ending ini. Nama Nia Dinata yang kadang menyuguhkan twist ending dalam film-filmnya adalah dasar perkiraan saya. Apalagi melihat nama Mellisa Karim (penulis skenario Arisan! The Series) sebagai penulis skenarionya, saya agak yakin dengan akan adanya twistending ini. Tapi semua perkiraan itu saya coba kesampingkan.

”Masa iya sih tentang isu yang itu-itu lagi. Apa nggak bosen Kalyana ngangkat isu gay lagi?” pikir saya saat itu.

Ternyata memang benar perkiraan saya. Idenya memang fresh, dan permasalahan yang diajukan cukup kontekstual. Kalyana juga lumayan sering mengangkat persoalan ini. Lihat saja, Arisan! (2003), Janji Joni (2005), Berbagi Suami (2006), hingga serial drama televisi Arisan! The Series (2006). Kalyana agaknya ingin menyodorkan kepada penontonnya mengenai fakta-fakta kehidupan kaum homoseksual di sekitar kita. Intensitas yang cukup sering itu semakin membuktikan kepiawaian Nia Dinata dalam menelurkan film-film bertemakan isu kehidupan homoseksual ini. Tapi, menurut saya, Matchmaker tidak membuktikan adanya kontinuitas kepiawaian ini. Saya melihat ada beberapa hal yang mengganjal dalam struktur ceritanya. Tanda-tanda yang tersebar dalam setiap adegan pada akhirnya tidak berhasil mendukung logika dalam berceritanya. Mari kita telisik satu per satu.

Awal cerita, film memperlihatkan Kay di dalam mobil bersama seorang cowok bernama Heaven. Mereka baru tiba di parkiran toko buku Kay mengajak Heaven masuk ke toko, tapi ia menolak. Kay pun mencium pipinya. Kay turun dari mobil dan masuk ke toko buku. Kay di sini memanggil si cowok dengan kata sayang. Di sini kita digiring untuk memaknai bahwa Kay berpacaran dengan Heaven itu.

Di dalam toko buku, sosok Kay dilihat oleh Darren. Mereka pun berinteraksi. Dari gerak-geriknya, kita digiring untuk memaknai bahwa Kay dan Darren saling menyukai. Mereka pun bertemu kembali, mengobrol, dan semakin dekat. Selama interaksi itu, penonton diberikan tanda-tanda bahwa Kay adalah cewek yang dapat menarik perhatian cowok dengan sekejap karena pesona kecantikannya. Kay juga ditunjukkan seorang cewek smart (dengan tanda Kay menggemari buku). Kay pun ditunjukkan sangat tertarik dengan Darren—melalui tanda-tanda: ia mencari tahu karakter Darren lewat internet. Dari “penyelidikan” Kay, diketahuilah bahwa Darren Wibisono berusia 29 tahun, penggemar Franz Ferdinand, berzodiak scorpio, dan menyukai film-film Wong Kar Wai.

Dalam satu adegan, Kay sempat diperlihatkan menelepon seseorang (belakangan diketahui si cowok pertama) dan menceritakan ketertarikannya dengan Darren. Begitu pula dengan Darren, ia diperlihatkan menyukai Kay. Tanda-tandanya sangat jelas terlihat sepanjang interaksi dengan Kay. Intinya, selama itu penonton digiring untuk memaknai bahwa ada percikan asmara antara Kay dengan pemilik toko buku.

Lalu bagaimana hubungan Kay dengan Heaven? Tanda-tanda pada adegan pembuka film menggiring terciptanya pemaknaan bahwa Kay memiliki hubungan asmara dengan Heaven. Lalu kenapa Kay diceritakan bermain api dengan Darren? Sampai pada sembilan menit dari durasi film, penonton dibuat maklum dengan kelakuan Kay yang berani mencoba berselingkuh. Kay mencoba berselingkuh karena perilaku Heaven yang terlihat tidak mempedulikan Kay lagi. Makanya Kay mencoba berpaling. Ketidakpedulian Heaven terhadap Kay diperlihatkan dalam dua adegan film ini. Pertama, pada awal film seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Kedua, ketika adegan di dalam rumah ketika Kay sedang menonton televisi, dan ia diperlihatkan tidak dipedulikan oleh Heaven.

Sebelum sampai pada ending-nya, logika cerita yang bertutur tentang aksi-reaksi antara Kay, Heaven, dan Darren berjalan baik. Namun, saat ditunjukkan ending-nya, semua yang sudah terbangun dengan baik itu menjadi berantakan. Tanda-tanda yang sudah dibentuk dari awal film untuk memperlihatkan adanya percikan asmara dan perselingkuhan antara ketiga tokoh itu, hanya terlihat menjadi proses menipu penonton yang gagal.

Dalam film yang ber-twist ending dengan baik memang berusaha untuk menipu penonton dengan cerita yang penuh kamuflase. Pembuat film harus dapat menggiring penonton ke sebuah plot yang mengarah kepada satu kemungkinan besar terjadinya ending. Namun, ternyata akhir cerita diputarbalikkan oleh pembuat film dan tidak disangka-sangka oleh penonton sebelumnya. Semua ini dapat terjadi jika tutur cerita dalam tiap detail skenarionya saling mendukung.

Nah, dalam Matchmaker ini, detail cerita yang sudah dibangun sedari awal ternyata tidak mendukung twist ending-nya. Jelas, penonton sudah digiring untuk memaknai bahwa antara Kay dengan Darren terjadi saling ketertarikan asmara. Penonton juga sudah digiring untuk memaknai kalau Kay memiliki hubungan dengan Heaven. Semua itu terjelaskan lewat detail-detail visualisasi ceritanya. Namun, bukannya suka, Kay ternyata menjodohkan Darren dengan Heaven. Kay pun sudah merencanakan perjodohan ini dari awal. Cowok yang dari awal disangka pacar Kay, ternyata hanya teman dekat yang juga seorang gay.

Logikanya, seharusnya Kay mengetahui seluk beluk penampilan, ciri, dan karakter seorang gay, karena ia berteman dekat dengan seorang gay. Sehingga Kay bisa tahu mana seseorang yang straight dan mana yang gay. Kay yang dicitrakan sebagai cewek smart—dengan tanda-tanda seorang penggemar buku dan kemudahan dalam mengakses informasi lewat laptopnya—seharusnya juga menjadi lebih paham dan mengerti tentang hal itu. Bahkan, Kay dalam film ini diperlihatkan sedang membaca intens membaca buku Blink! karya Malcolm Gladwell. Buku yang meraih predikat International Bestseller ini adalah tentang bagaimana orang bisa berpikir tanpa perlu memakan waktu lama. Soal pilihan-pilihan hidup yang muncul dan harus dinilai atau diputuskan secara spontan. Gladwell menawarkan solusi bahwa orang dapat memutuskan sesuatu secara spontan dengan melatih pikiran dan panca indera untuk fokus pada fakta-fakta yang relevan. Dengan membaca Blink! dan ditambah dengan pertemanannya dengan seorang gay, Kay seharusnya mempunyai referensi yang cukup untuk menilai Darren adalah straight.

Dengan berbagai tanda itu, bagaimana Kay bisa menganggap Darren seorang gay, padahal dari awal penonton sudah melihat visualisasi cerita bahwa Kay berhadapan dengan seseorang cowok yang mencoba flirting dengannya. Kay pun terlihat tertarik dengan Darren. Visualisasi interaksi mereka yang sangat dekat itu juga lebih terlihat seperti sepasang cowok dan cewek yang sedang kasmaran. Bukan seperti seorang gay ingin dekat dengan seorang cewek. Atau seorang mak comblang yang sedang mencari tahu seluk beluk tentang cowok yang akan dijodohkannya.

Coba bandingkan dengan film pendeknya Dennis Adhiswara, Sudah Sore, Sebentar Lagi Jam 5 yang bercerita tentang seorang cowok yang berlari dari sekolahnya ke rumahnya hanya untuk menonton telenovela. Dari awal cerita film ini dimulai, penonton tak mengetahui untuk alasan apa si cowok ini bergegas pulang. Ternyata untuk menonton telenovela itulah yang dijadikan ending. Walaupun film ini minim dialog, tapi unsur visualnya dapat menjabarkan kelogisan tutur ceritanya untuk akhir cerita seperti itu.

Atau, coba lihat film Janji Joni (2005) pada adegan Joni bertemu dengan dua orang pria (Tora Sudiro dan Wingky Wiryawan) di toilet lobby bioskop. Dialog antara dua pria itu yang membahas tentang film cukup menjelaskan karakter mereka masing-masing. Interaksi verbal mereka berjalan baik hingga akhirnya dialog kedua pria itu berakhir, dan ternyata mereka adalah sepasang kekasih. Di sini, sulit bisa menebak ending-nya, karena kemungkinan terbesar yang muncul adalah dua pria itu hanya membicarakan tentang film yang baru saja ditontonnya. Tanda-tanda yang muncul saling mendukung dan tidak bertabrakan dengan akhir ceritanya.

Sedangkan Matchmaker, menurut saya, tidak perlu menampilkan tanda-tanda seperti yang saya telah jabarkan di atas pada setiap adegannya, jika pada akhirnya akan kontradiktif dengan akhir cerita. Pada akhirnya, Matchmaker sebenarnya telah memberikan sebuah tontonan yang riang, sederhana, dan penuh keceriaan, jika kita tidak merasa perlu untuk memperhatikan detail ceritanya. Tagline-nya yang berbunyi “Beauty is the power to illuminate others with joy” terasa cukup memberikan alasan menikmati film in sekadar untuk mencari kesenangan.

PS: Ditulis pada Juni 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s