HANNIBAL RISING : Hanya Sebatas Dendam

Siapakah karakter fiksi villain yang paling terkenal? Banyak polling yang memunculkan nama Hannibal Lecter sebagai jawara. Karakter psikopat jenius ini memang berkharisma sekaligus menyeramkan. Seorang psikiatris brilian yang berubah menjadi kanibal dan pembunuh serial. Karakter ini tak akan membekas di memori penonton, jika yang memerankannya bukan Anthony Hopkins.

Walaupun pada tahun 1986, Manhunter yang juga tentang Hannibal Lecter telah muncul, tapi lewat The Silence of the Lambs (1991) lah yang melambungkan karakter Hannibal the Cannibal. Setelah itu, sekuelnya Hannibal (2001) dan Red Dragon (2002) dirilis. Namun, tak ada yang bisa menyamai pencapaian estetis The Silence of the Lambs. Awal tahun 2007 ini, Hannibal Rising muncul dengan berceritakan sedikit kisah kecil dan saat remaja sang psikopat jenius. Hannibal kecil dan Mischa, adiknya, menjadi saksi kematian ayah ibunya saat Perang Dunia II. Ia juga melihat saat-saat terakhir Mischa dibunuh oleh sekelompok tentara Nazi yang desersi. Alhasil, sifat pendendam dan kejam Hannibal remaja (Gaspard Ulliel) mulai terbentuk. Pertemuan hidupnya dengan bibinya, Lady Murasaki (Gong Li), makin menguak bibit karakter psikopat jenius Hannibal. Lalu dimulailah perjalanan membalas dendam pada para tentara pembunuh adiknya.

Jangan samakan Hannibal Rising dengan para pendahulunya. Apalagi menyamakan dengan The Silence of The Lambs. Tak usahlah berharap terlalu banyak untuk menerima cerita thriller yang cerdas dan mencekam. Kengerian psikologis yang menjadi kekuatan karakter Hannibal Lecter tak terlihat di sini. Hannibal Rising malah seperti film pembalasan dendam kesumat yang dipendam dari kecil, tanpa mengulik lebih dalam soal motivasi kejiwaan Hannibal yang mendasari perbuatannya. Dengan plot yang mudah ditebak dari awal hingga akhir, Hannibal Rising gagal menawarkan kisah thriller mencekam. Beberapa scene malah tampak terlihat lucu.

Karakter Hannibal remaja di sini jauh dari kesan kharismatik yang mengerikan, ini jelas berbeda dengan Hannibal tua yang diperankan Anthony Hopkins. Mungkin Peter Webber, sutradara, berasumsi Hannibal remaja masih digambarkan kejam, karena ia masih muda, emosional, dan belum berpengalaman. Namun penunjukkan Gaspard Ulliel sebagai Hannibal malah memperburuk citra Hannibal yang terbangun selama ini. Gaspard lebih tampak seperti remaja yang kejam tanpa kesan kharismatik dan jenius.

Film ini juga bisa dibilang lebih dekat dengan kategori gory movies. Kekerasan dalam film ini sangat menyiksa. Ini jelas berbeda The Silence of The Lambs yang menampilkan bodily experience. Sebuah bayangan melihat tubuh yang terluka, sehingga orang yang membayangkan bisa merasakan rasa derita dan sakitnya. Di film ini, penonton disuguhi kekerasan tanpa makna, yang ada hanya tampilan kekejaman Hannibal. Malah, di sini, Hannibal digambarkan seorang fetish, yang menggemari pipi manusia.

You smell of smoke and blood,” ucap Lady Murasaki pada Hannibal, yang juga terdengar seperti pesan film ini.

PS: Ditulis pada Maret 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s