DTK Hingga Episode ke-5

Disclaimer: Tulisan ini dibuat pada tahun 2005. Bersemangat sekali saat menulisnya hehe.

 

DTK, bombastis betul yah serial ini. Ini adalah serial, bukan sinetron, atau malah film.

Ada hal-hal prinsipil, historis, dan teoritis yang membedakan ketiganya. Yang benar itu serial televisi atau drama serial. Arifin C. Noer dan Teguh Karya lebih suka menyebut tayangan format seperti ini sebagai drama seri atau televisi. Sebutan sinetron itu memang salah kaprah. Arswendo saja, yang mencetuskan istilah sinetron, sudah angkat tangan soal bagaimana membalikkan lagi nama drama serial atau serial televisi.

Dilihat dari sisi skenario, materi DTK disebut-sebut termasuk yang terbaik. Promosinya pun gila-gilaan. Bintang-bintang besar dipasang. Syutingnya pun memakan waktu tujuh bulan lebih. Biaya produksinya menjadi yang terbesar untuk tayangan drama serial televisi. Mengutip Majalah F, diperkirakan Rp.14 milyar keluar dari kantong Sinemart. Jadi, rata-rata Rp.1 milyar untuk setiap episodenya. Orang-orang di belakang layarnya juga ber-track record bagus, bukan sembarang pilih. Tapi apa dengan begitu, lantas DTK bisa segampang itu dicap berkualitas tinggi? Agaknya kita perlu banyak membedah isi tiap episodenya lagi untuk menjawab pertanyaan ini.

Eksplorasi Visual

Saya sendiri berharap besar pada DTK ini sejak Agustus 2005, saat pas Leila S. Chudori sedang menuli skenario serial televisi. Tapi ketika muncul promo on-air dan trailer DTK pada Agustus lalu, saya menjadi agak ragu dengan bentuk dan isinya. Saya pikir masih tersisa jejak-jejak sinetron dalam visualnya. Kelihatannya jauh dari yang saya harapkan, karena sebelumnya saya kira DTK akan mengambil ciri dari serial-serial, misalMillenium, The X-Files, CSI, atau 24, yang memiliki tone warna agak gelap, kelam, dan tak bersih. Perkiraan ini juga timbul karena yang saya ketahui Leila memang ingin warna DTK ini gelap dan agak kelam, sesuai dengan cerita keseluruhannya yang selalu bersinggungan dengan dunia kriminal.

Namun ketika menonton pilot episode DTK, ternyata tone warnanya masih agak terang. Malah dalam beberapa scene terlalu natural dan terang. Pencahayaannya terkadang tidak pas dengan adegannya. Walau memang tidak terlalu sering ketidaksesuaian ini terjadi, tapi tetap saja cukup mengganggu. Sehingga, tak heran akhirnya muncul pendapat bahwa DTK masih seperti sinetron. Seharusnya, pemilihan warna dan pencahayaan dalam DTK lebih konsisten. Coba saja lihat CSI atau 24. Di dua serial ini, di setiap adegannya memiliki karakter warna  yang sama: agak muram. Dalam DTK tidak begitu. Di satu adegan berwarna rada kelam, tapi di adegan lain malah berwarna terang-benderang. Bisa jadi ini akibat Maruli Ara (sutradara) dan Rei Supriadi (DOP) terlalu sering bereksperimen soal warna & pencahayaan. Memang, Maruli sedari awal sudah berniat akan memvisualisasikan DTK dengan cara berbeda. Ia akan bikin eksplorasi visual, dengan membuat di luar kelaziman dalam soal warna, pencahayaan, dan teknik pengambilan gambar yang lebih variatif. Niatnya, Maruli akan membuat DTK lebih gelap.

Pada kenyataannya, Maruli dan Rei justru memakai “rasa” mereka dalam menentukan warna dan pencahayaan yang pas. Bukan berdasarkan kebutuhan ceritanya. Maruli sendiri mengaku bahwa yang mereka anggap enak, walau kurang logis, warna dan pencahayaan itulah yang mereka buat. Akibatnya, alasan awal menggunakan warna dan pencahayaan yang gelap itu menjadi tersisihkan. Leila S. Chudori sejak masa pra produksi sendiri sudah meminta pada Maruli agar serial ini berwarna gelap dan kelam karena DTK adalah cerita kriminal. Warna dan pencahayaan sebagai unsur sinematografi memang berperan dalam membangun drama dalam ceritanya. Tidak hanya itu, penggunaan dua hal tersebut yang tepat guna sangat penting untuk memperkuat karakterisasi tokoh dan menunjukkan setting cerita. Kedua aspek ini pada akhirnya mampu membedakan DTK dengan sinetron. Kita tentu sudah tahu gaya sinetron: selalu menohok mata dengan pencahayaan yang silau dan warna yang over natural, sehingga muncul kesan dibuat-buat.

Mengenai teknik pengambilan gambarnya perlu dipuji. Seringkali Maruli menggerakkan kameranya secara hand held, quick pan, atau extreme shot. Dalam beberapa adegan malah digunakan long shot. Semua teknik ini bisa dibilang mendobrak kebiasaan yang ada dalam sinetron kita, namun mendukung cerita DTK sendiri yang dinamis. Dalam produksi sinetron, jelas terlihat teknik pengambilan gambarnya lazim memakai close-up dan extreme shot, terutama pada wajah aktor, dengan durasi lama dan diulang-ulang, sehingga tampak monoton. Penggunaan teknik ini pun sudah sering dikritik habis-habisan, karena dinilai meminggirkan seni akting secara keseluruhan. Padahal, akting tidak cuma terfokus pada mimik muka, tapi juga gestur dan bahasa tubuh lain. Nah, variasi gerakan kamera dalam DTK menjadikan narasi visualnya lebih hidup, tidak monoton seperti dalam sinetron. Akting aktor pun lebih terlihat. Dalam beberapa adegan, suasana rapat redaksi misalnya, penggunaan extreme shot dipadukan dengan hand held serta quick pan. Hasilnya, suasana yang terbangun menjadi lebih dinamis dan realistis. Meskipun, ini membuat para penonton yang terbiasa dengan gaya sinetron agak kaget.

Pada ujung cerita pilot episode dan adegan lainnya, Maruli terlihat agak berlebihan dalam memvisualisasikan skenario. Contoh, ketika Mariana masuk ke kantor redaksi Target ditampilkan dengan slow motion. Jika akhirnya para penonton DTK berpendapat bahwa adegan tersebut norak dan berlebihan, itu adalah wajar. Bagi saya, hal ini tak lepas dari pengaruh eksplorasi visual yang dilakukan Maruli dan Rei.

Slow motion biasanya dipakai untuk mempertegas detail cerita dalam adegan. Fungsi lainnya, ya, untuk bergaya saja. Nah, dalam adegan  tadi, Maruli terlihat ingin mempertegas sekaligus bergaya bahwa akhirnya Mariana bersedia untuk diwawancara. Malah ia sendiri yang datang ke kantor majalah Target. Padahal sebelumnya, ia sangat susah diwawancarai. Tapi Raya berhasil menghadirkan Mariana. Rekan-rekan kantornya pun kagum, dan mengubah pandangannya awalnya tentang Raya. Ini adalah bangunan cerita yang mendasarkan pemakaian slow motion itu. Namun dengan cerita seperti itu, sebenarnya tidak usah menggunakan gerak lambat pun, pesannya sudah sampai kepada penonton.

Dan jika ada yang bilang adegannya berusaha untuk sok keren, saya juga kerap berpikir seperti itu, walau sebetulnya tidak mengganggu dan memengaruhi jalan ceritanya. Barangkali ini terjadi karena adanya tuntutan berat di pundak Maruli yang dibebani untuk membuat sesuatu yang berbeda dengan warna serial yang kelam. Jadinya, ia memakai pendekatan visual yang sayangnya malah terlalu “over” maknanya dalam memvisualisasikan skenario. Sebelumnya sudah dijelaskan tentang Maruli dan Rei yang memakai indra perasanya dalam menentukan warna dan pencahayaan. Tentunya ada alasan estetis juga di sini. Contoh pada dialog antara Jendra Aditya dengan anak buahnya di dalam mobil di episode empat. Di situ pencahayaannya gelap, sehingga hanya terlihat siluet wajah kedua tokohnya. Justru style sinematografi yang seperti ini dapat mempertegas karakter dan adegan itu.

Penggambaran lainnya, yaitu saat para wartawan Target berdiri, tampak kaget, dan berdecak kagum serta bertepuk tangan, menurut saya hal itu pas-pas saja, tidak berlebihan atau kurang. Mungkin Leila dan Maruli ingin memperlihatkan penghargaan kepada tokoh Raya dan mengekspresikan pujian yang lebih dramatis, mengingat sebelumnya, Raya diremehkan oleh rekan-rekan kantornya, dianggap tidak akan mampu dan betah jadi wartawan. Tapi toh ternyata ia berhasil menjalani tugas pertamanya. Maruli dan Leila tampak sadar betul bahwa situasi kerja di kantor manapun masih berlangsung yang namanya ‘senior-junior’. Maka, tepuk tangan di sini terasa manusiawi.

Skenario dan Detail yang Terlewat

Dunia Tanpa Koma tidak akan ada tanpa Leila S. Chudori. Skenario bikinan wartawan-kritikus film ini sudah dicap berkualitas baik. Gampangnya, jika tidak bagus, maka sulit dibayangkan aktor/aktris sekelas Slamet Rahardjo, Didi Petet, Adi Kurdi, Nurul Arifin, Dian Sastro, Surya Saputra, dan Tora Sudiro mau bergabung. Maruli Ara pun mengakui keistimewaan paling utama dari DTK adalah skenarionya. Skenarionya menyuguhkan cerita yang out of the box. Formatnya season, bukan kejar tayang, sehingga otomatis mutunya tetap terjaga. Memang dari lima episodenya, terlihat plot, cara tutur dan konfliknya agak kompleks, karakternya pun sangat beragam dan tidak hitam-putih layaknya dalam sinetron.

Tapi, dengan pondasi skenario yang kokoh bukan berarti dalam narasi visualnya juga bisa dengan mudah dicap bagus kualitasnya. Dari lima episode yang lewat, tampak masih ada bolong-bolong yang mengganggu. Terutama adalah detail-detail kecil tentang kehidupan wartawan yang kadang kelewat. Sepertinya riset yang dilakukan Maruli tentang kerja dan cara hidup wartawan kurang dalam. Imbasnya muncul pada continuity adegan yang terkadang jumping. Problem sepele sebenarnya, yang seharusnya dapat diakali dalam proses editing-nya.

Soal tekanan stress dalam alam kerja wartawan juga kurang terbangun. Menurut saya, ini terjadi karena Leila justru ingin fokus dalam pengungkapan kasus-kasus kriminal dan konflik intern lainnya. Memang, background cerita DTK adalah kehidupan wartawan, tapi seperti yang diakui Leila, porsi utama cerita ini adalah drama kehidupan Raya. Bicara soal kriminal, dunia kriminal yang disentuh DTK bukan kelas teri. Kriminalitas dalam DTK cukup menyinggung ide-ide kekuasaan, contoh tokoh Jendra Aditya yang merupakan anak pejabat, atau episode tentang pembunuhan Hakim.

Lalu soal soal detail yang terlewat dalam skenario ataupun visualnya, justru bolong yang paling mengganggu ada pada dramatisasi hubungan Raya dengan Bayu. Kita tahu Bayu yang sudah bertunangan tiba-tiba kepincut dengan Raya. Raya sendiri menaksir pada Bram, yang juga saingan Bayu sesama wartawan sejak bertugas di lapangan dulu. Tapi dari pilot episode sampe episode ke dua, saya tidak melihat adanya dialog ataupun akting yang menguak emosi rasa suka Bayu terhadap Raya. Konflik percintaan antara Bayu dengan Raya tidak terbangun. Detail-detailnya tidak lengkap.

Kemudian di episode ketiga, ketika Desy, tunangan Bayu, yang kecewa dengan sikap Bayu karena ia selalu menunda omongan soal pernikahan mereka, menanyakan apakah semua ini karena kehadiran Raya. Dari mana Desy mengetahui bahwa Bayu menyukai Raya? Tidak ada tanda-tanda sebelumnya yang menjelaskan ini semua. Dramatisasi konflik hubungan Bayu-Raya terasa lompat-lompat, kalah intensif dengan dramatisasi konflik hubungan Raya-Bram. Semestinya, hubungan emosional antara Bayu dengan Raya juga diintensifkan sejak awal. Ini karena hubungan asmara segitiga antara Bayu-Raya-Bram lah yang menjadi porsi utama dalam serial ini.

Balik lagi ke skenario. Serial DTK ini, tetap menyuguhkan ide cerita dengan formula baru. Skenarionya jauh berbeda dibandingkan dengan sinetron. Jika dalam sinetron kita melihat karakter tokoh yang dibangun lewat konflik kepentingan (cinta, perselingkuhan, rebutan warisan, atau persoalan moral dan agama) yang hitam-putih dengan alur cepat, maka dalam DTK karakter tokohnya dibangun secara perlahan lewat berbagai konflik yang berbasiskan dunia kerja wartawan namun tetap dipadu dengan intrik-intrik manusiawi, semisal hubungan asmara, masalah pribadi, dan sebagainya.

Karakter tokoh dalam DTK juga tidak hitam-putih. Ada kalanya satu tokoh berada di dalam grey area. Konflik yang diangkat dalam skenario DTK juga beragam, bukan satu berkepanjangan layaknya sinetron. Mungkin ini yang menyebabkan alurnya lambat. Apa pun ini merupakan terobosan baru dalam dunia televisi kita, walaupun tetap masih tertinggal dari luar negeri. Dan harus diakui banyak penonton televisi kita yang kaget dengan gaya suguhan ini karena terbiasa dengan alur sinetron.

Ada penonton yang mengirim masukan tentang alur DTK yang sangat lambat. Ini dijawab Maruli bahwa inilah standar sebuah drama serial. Alurnya memang lambat, tak bisa tancap gas layaknya sinetron. Pantas saja produksinya memakan waktu tujuh bulan lebih. Ada info menarik tentang proses syuting DTK dari Majalah F. Dalam produksi ftv atau sinetron kita biasa dibuat serampangan sehingga bisa diproduksi dalam waktu singkat. Dalam DTK, seperempat halaman skenario bisa menghabiskan waktu sehari. Ini terjadi dalam syuting adegan penembakan hakim.

Drama Sejuta Bintang?

Bukan sejuta bintang, tapi 117 pemain. Itu juga tak semuanya bintang. Yang layak disebut bintang itu cuma 40 pemain saja, seperti Dian Sastro, Tora Sudiro, Fauzi Baadilla, Slamet Rahardjo Djarot, Surya Saputra, Ari Sihasale, Cut Mini, Didi Petet, Adi Kurdi, Wulan Guritno, Indra Birowo, Luna Maya, Christian Sugiono, Donny Damara, Henidar Amroe, Nurul Arifin, Unique Priscilla, Butet Kartarajasa, Agus Koencoro, Nungky Kusumastuti, Intan Nuraini, Nadia Saphira, Endhita, Syarmi Amanda, Alya Rohali, Aming, dan Andhara Early. Sisanya adalah pemeran pembantu, figuran, atau cameo.

Menurut saya, karya sinema, baik film atau serial televisi, yang di dalamnya tumplek banyak pemeran bintang tentu memerlukan treatment yang berbeda agar hasilnya baik. Kuncinya terletak pada skenario dan sutradara. Walaupun pemeran bintangnya banyak, filmnya akan berhasil bercerita jika skenarionya memberikan porsi yang cukup pada setiap bintang itu. Apalagi jika sutradara berhasil mengarahkan bintang-bintang itu dan memaksimalkan ruang akting. Sang bintang pun harus tahu diri dengan memaksimalkan energi aktingnya sesuai porsi, sehingga karakter yang dimainkannya “keluar” dan mengisi karakter yang diperani bintang lainnya. Contoh sukses formula ini ada pada Janji Joni, Berbagi Suami, Pulp Fiction, Love Actually, atau Crash. Terbukti, film-film tersebut menempatkan para bintangnya sesuai dengan porsinya masing-masing, tidak tumpang tindih. Banyaknya aktor-aktris bintang pun juga menjadi kekuatan karya sinema itu dari segi performa akting.

Lalu bagaimana dengan DTK? Di mata saya, porsi peran masing-masing bintang di serial ini sudah sesuai. Saya melihatnya dari kelihaian Leila dalam mengkonsep skenarionya. Dia mengerti persoalan bagi-bagi peran yang sesuai porsi dalam sebuah tayangan berformat serial. Dia tahu betul banyaknya karakter dalam sebuah serial tidak akan jadi masalah jika ceritanya dibuat mendekati alam realis. Makanya, dia membuat cerita yang berlatar dunia kerja wartawan untuk mendukung plot utamanya, yaitu drama kehidupan Raya. Setiap jabatan dalam ruang redaksi dipakai Leila sebagai pembagi porsi peran tiap karakternya.

Misal, Bayu yang juga merupakan bos Raya, tapi menaruh hati padanya. Dua peran itu membutuhkan karakter yang saling mengisi demi keutuhan sosok Bayu dan Raya. Bram pun sama. Dalam cerita DTK, ia adalah senior Raya di lapangan, wartawan saingan Target, tapi juga jatuh cinta pada Raya. Dalam dunia jurnalisme, di mana eksklusivitas turut bermain, sosok Bram ini pasti memberikan warna pada cerita DTK. Dari sosok Bram, karakter Raya–yang masih awam di lapangan–juga terbentuk. Lihat saja bagaimana Raya dengan seenaknya memberikan info rahasia penyergapan pada Bram di episode tiga. Atau Bondan Pratomo, Pemred Target, yang tidak masuk ke dalam kehidupan pribadi raya, tapi secara tidak langsung turut berkontribusi untuk mengembangkan karakter Raya dan cerita.

Seruni dan Markus juga karakter-karakter yang pasti ada di alam nyata. Dua sosok ini pun mengisi pengembangan karakter Raya dan cerita. Dari karakter Seruni yang judes, selalu iri dan skeptis terhadap kemampuan Raya, menjadikannya “lawan” dari intelektualitas Raya. Dari Seruni, Raya selalu berdebat dengannya ketika rapat yang membuat karakter Raya semakin tangguh di kantor dan belajar dari pengalaman Seruni, karena bagaimana pun Seruni adalah senior. Markus sendiri adalah karakter yang slengean dan menganggap gampangan dalam meraih perempuan. Ia selalu mengejar-ngejar Raya dengan motivasi taruhan. Tapi, di samping sifat minus itu, Markus juga wartawan handal, yang ditandai dengan berhasilnya ia mewawancarai koruptor yang kabur ke Singapura (episode empat). Karakter Markus pun menguatkan karakter Raya, yang meskipun tidak menyukai kelakuannya terhadap para perempuan tapi tetap salut kepadanya. Musuh-musuh Raya, seperti Jendra Aditya, pun mengisi dan mengembangkan karakter Raya.

Tidak cuma itu, dengan banyaknya karakter dalam DTK ini, Leila sadar akan mubazir jika fokusnya hanya pada plot drama kehidupan Raya. Kemonotonan berpotensi terjadi. Maka, Leila menambahkan sub-plot pada cerita DTK, antara lain tentang adik Bram yang sedang menjalani rehabilitasi narkoba, soal kelemahan kebijakan perusahaan Target, soal kehidupan cinta Retno dengan Sonny Krisnantara, dan sub-plot lain yang akan muncul. Adanya sub-plot dalam serial adalah keharusan guna mengangkat sisi kehidupan, selain miliknya tokoh utama. Lewat sub-plot juga dapat membuat karakter para tokoh terbangun dan saling bersinergi menjalin benang merah cerita agar lebih menarik dan kuat.

Perihal banyaknya bintang, tampaknya membuat DTK kurang pol. Mungkin ini akibat pesona kebintangan yang dibawa tiap aktor-aktris itu. Tapi kalau skenarionya dijadikan alasan kenapa DTK tampak kurang pol, tampaknya tidak begitu. Bayangkan jika para tokoh dalam DTK diperani oleh bukan pemain bintang namun mempunyai kemampuan akting yang sama, toh pada akhirnya pesan cerita DTK akan bergulir sama kan? Maka, pesona para pemain bintang inilah yang membuat DTK terkesan malu-malu untuk berbicara.

Banyaknya bintang dalam DTK bikin saya berasumsi ada empat alasan. Pertama, akibat skenario yang bagus. Kedua, kombinasi antara skenario yang bagus dengan perhitungan bisnis–menarik animo penonton, sehingga iklan pun berebutan masuk. Ketiga, prestise. Dan keempat, akibat skenario yang bagus tapi produser tak pede DTK akan diminati penonton televisi.

Alasan pertama, saya kira sudah cukup terjelaskan dalam tulisan di atas. Alasan kedua, sudah terbukti dengan banyaknya iklan yang masuk, walau ratingnya hanya berkisar pada angka 3, menurut data dari Kompas. Angka yang termasuk rendah untuk ukuran tayangan televisi. Tapi seperti yang dibilang Maruli Ara dalam wawancaranya dengan Koran Tempo bahwa walau dengan rating rendah, tetap serial ini (sampe episode tiga) dinilai sukses karena banyaknya iklan itu.

Para kreator DTK sendiri sudah mengetahui sejak awal kalau serialnya ini tidak akan merebut banyak perhatian pemirsa. DTK memang dibuat sebagai sumbangan terhadap kebudayaan dan dunia televisi, begitu kata mereka. Alasan ketiga, demi prestise, juga masuk akal. Maruli Ara pun mengaku pernah didatangi seorang pemain sinetron terkenal yang meminta peran apa saja supaya bisa bermain dalam DTK.

Alasan keempat, bagi saya, cukup mengganggu pikiran. Ini karena isi cerita DTK lebih berbobot ketimbang dari sinetron pada umumnya. Tidak mengherankan apabila para pemain bintang pun dipasang di DTK supaya penonton lebih tertarik menontonnya. Hal yang patut dimaklumi, mengingat karakter penonton televisi Indonesia masih didominasi oleh segmen masyarakat yang sudah merasa cocok dengan suguhan cerita ala sinetron. Jadi, jika disuguhin cerita yang ‘berbeda’ akan cepat berpaling. Tentan ini pernah diakui oleh Maruli Ara beberapa tahun silam dalam laporan Coen Husein Pontoh. Dia bilang:

“Saya mungkin terlalu kasar, ya, tapi, audiensi Indonesia itu umumnya tidak terlalu intelek. Jadi kalau kita mau bikin ceritanya terlalu jauh, kita terbentur pada pertanyaan, audiensinya ngerti apa tidak?”

Bahkan, seorang local acquisition executive departemen program RCTI dulu juga mengatakan, “Biasanya, jika penonton diberi suguhan sinetron yang pakai mikir, mereka langsung meninggalkannya. Dan yang rugi adalah stasiun televisi.”

Tapi semua ini adalah hak si produser yang tidak ingin DTK cuma bicara soal kualitas. Leo Sutanto juga ingin DTK bertaji soal kuantitas keuntungan bisnis dan juga prestise. Konon, ketika Leo tahu bahwa Dian Sastro dan Slamet Rahardjo bergabung dalam DTK (tokoh Raya dan Bondan memang diciptakan Leila untuk Dian dan Slamet), ia pun mengontak bintang lain agar ikut casting. Ia tidak ingin pemain lainnya tidak bisa mengimbangi performa Dian.

Berbicara tentang pesona bintang, nama Dian memang dijual oleh Sinemart dan RCTI. Siapa pun tahu ini merupakan penampilan pertama kali Dian di televisi. Banyak yang menunggu-nunggu aksi Dian di DTK. Tadinya saya penasaran bagaimana perpaduan akting antara Dian-Tora-Fauzi. Tapi, ternyata performa Surya Saputra malah patut dipuji. Ia maksimal dalam mengeluarkan karakter villain Jendra Aditya. Permusuhan Raya versus Jendra menjadi suguhan paling menarik di DTK. Lihat saja ketika adegan wawancara Raya dengan Jendra. Mimik muka, gesture, dan intonasi dialognya Surya keluar maksimal.

Performa Surya ini sendiri dipuji oleh Leila S. Chudori dan Yan Widjaya, wartawan film senior. Bahkan, Dian pun kagum dengan akting Surya. Dalam buku DTK, Dian menggolongkan ada dua pemain film. Pertama, pemain berbakat luar biasa yang saat kamera on langsung menjelma menjadi sosok yang diperaninya tanpa cacat cela. Kedua, pemain yang selain berbakat juga butuh kerja keras untuk membangun karakter, mesti riset mati-matian, harus punya lawan main untuk memancing emosi, sutradara yang mampu mengarahkan dan suasana lingkungan yang mendorong bangunan hati. Kata Dian, Surya termasuk golongan yang pertama bareng dengan Slamet Rahardjo dan Didi Petet. Bukan hanya Surya, akting Slamet pun tak usah diragukan lagi. Adegan monolog panjang dalam rapat redaksi dimainkan dengan sempurna. Misal, saat adegan Raya dipanggil oleh Bondan ke dalam ruangannya perihal bocornya info penyergapan ke Harian Kini. Oh ya, ada satu lagi aktor yang saya tunggu-tunggu di DTK: Ari Sihasale. Konon, ia bermain amat bagus dalam menghidupkan karakter Sonny Krisnantara.

Maruli Ara atau Rudi Soedjarwo?

Awalnya, pilihan sutradara DTK adalah kedua nama ini. Tapi akhirnya, Rudi tersingkir karena masalah jadwal. Pada dasarnya kedua nama ini ber-track record bagus di dunia sinema Indonesia. Tentu mereka juga punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Saya sendiri sebenarnya lebih memilih Rudi, karena ia terkenal piawai dalam memaksimalkan akting para pemain. Ini terkait dengan banyaknya pemain bintang di DTK. Selain itu, Rudi juga mampu mengeluarkan feel drama pada tiap cerita, serta memiliki style sinematografi yang lebih beraksen. Rudi juga berpengalaman dengan cerita yang bersinggungan dengan dunia kriminal, antara lain Tragedy, Mengejar Matahari, dan 9 Naga.

Namun, bukan berarti Maruli Ara buruk. Ia termasuk senior dalam dunia televisi nasional. Maruli Ara pernah mendapat nominasi Editor Terbaik lewat Tragedi Bintaro (1989) dan Plong (1992). ia juga pernah meraih Citra lewat film pendeknya, Mencari Batas Semu. Ia pernah menyutradarai sinetron Tiga Orang Perempuan (2001) dan Kapan Kita Pacaran Lagi (2005). Dalam Tiga Orang Perempuan, Maruli dinobatkan sebagai Sutradara Terpuji oleh Forum Festival Bandung pada 2001. Sedangkan, serial Kapan Kita Pacaran Lagi mendapat nominasi untuk kategori Film Terbaik: Film Cerita Berseri Untuk Televisi pada Festival Film Indonesia 2005. Maruli sendiri dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik Film Cerita Berseri Untuk Televisi. Dengan jam terbang tinggi itu, Maruli bisa dibilang mengungguli Rudi. Tapi jika melihat kelemahan yang ada, sepertinya masih lebih pas jika Rudi yang menyutradarai DTK.

Apa pun, dari pilot episode-nya sampai episode lima memang masih menyisakan celah minus. Tapi tetap, saya masih berkesimpulan bahwa DTK masih yang terbaik, selain Kiamat Sudah Dekat 1&2. DTK tetap menyuguhi sesuatu yang baru, mendobrak kemapanan dalam dunia drama televisi kita, konsep dan format baru, plot cerita dan karakterisasi tokoh-tokohnya yang kuat. Semua itu dibangun dengan cerita yang bagus. Doakan saja, pasca DTK akan muncul serial-serial yang berkualitas dan tidak membodohi masyarakat kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s