D’BIJIS: Pemaknaan tentang Ego dan Jati Diri

Ini bukan film tentang musik. Bukan pula soal anak band. Ini film drama berbalut komedi dan sedikit bernafaskan musik beraliran glam rock. Aliran yang juga akrab disebut glamourous rock ini tenar pada era 1980-an. Jenis musik ini tidak melebihi dari kerasnya heavy metal. Dengan unsur drama yang lebih, maka jangan banyak berharap menonton suguhan permainan musik di sini. D’Bijis tak menyediakan itu untuk penonton, karena ceritanya berceloteh tentang pencarian jati diri. Damon (Tora Sudiro), Gendro (Indra Birowo), Bule (Gary Iskak), dan Soljah (Ruli Lubis) adalah sisa-sisa dari kekuatan band The Bandits. Mereka sempat tenar di akhir 1980-an. Ironisnya, mereka bubar karena Bonnie (Darius Sinathrya), sang vokalis kharismatik, tewas saat mereka pentas.

Berselang 13 tahun, Asti (Rianti Cartwright), adik Bonnie berusaha membangkitkan The Bandits. Di sinilah cerita inti bergulir. Ketika kehidupan empat personil tersisa sudah jauh berbeda dengan jiwa musik glam rock, adalah suatu kesulitan untuk kembali terjun ke dunia lamanya. Apalagi tiap tokoh memiliki masalah. Drama terbangun lewat masalah yang lahir dari pertemuan antara ego, penyesalan, dan jiwa dalam bermusik. Pertemuan lima karakter itu pun mencari solusi. Namun proses penemuan solusi dari tiap masalah ini bertele-tele dan agak tak padu. Ini tampak pada interaksi Asti dan Damon yang dominan. Mereka sibuk berdebat tentang kesalahan Bonnie, musik, dan ego.

Percikan asmara antara Damon dan Asti kadang kerap lompat ritmenya. Tiba-tiba saja penonton disuguhkan suatu kecemburuan, padahal dialog yang mencerminkan ketertarikan mereka tak lengkap. Debat Asti dan Damon tentang hal-hal yang menyangkut The Bandits agak dominan, tanpa melibatkan pikiran personil lain. Tampak penggambaran ego dua tokoh ini lebih besar dibandingkan yang lain. Tokoh lain lebih sering sebagai penengah dan pelengkap konflik Asti dan Damon. Dalam D’Bijis, jati diri dan jiwa musik tiap karakter tergali dengan cara yang berbeda-beda.

D’Bijis juga masuk ke isu transgender lewat permasalahan Bule. Dan ternyata di sinilah D’Bijis memberikan kontribusi terbesarnya: komedi yang menghibur. Film ini memang lebih tampak menghibur. Gary Iskak bisa dibilang sangat berhasil dengan aktingnya. Dialah nafas utama film ini. Cerita D’Bijis tak akan berjalan jika tanpa kehadiran karakter Bule alias Yanti. Walau dandanan Bule layaknya seorang rocker, gerak tubuh, intonasi, dan pelafalan ucapan dari karakter pelaku transgender tetap terlihat riil.

Lewat interaksi antara Yanti dan Mas Anang (Arawin Pepinte), D’Bijis juga menghadirkan parodi. Dalam adegan pertengkaran Yanti dan Mas Anang terlihat larger than life. Sutradara Rako Prijanto sengaja memberikan dramatisasi yang lebih daripada dalam kehidupan nyata. Lalu apakah D’Bijis? Titien Wattimena, penulis skenario, menerjemahkannya sebagai peremas alat vital Damon yang bisa membuat suaranya melengking.

 

PS: Tulisan ini dibuat pada tahun 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s