(Bukan) Kesempatan yang Terlewat

Jujur saja, ini adalah film pendek Lux terfavorit saya. Inti ceritanya ringan, namun sangat membekas di hati, ingatan, dan pikiran. Terutama bagi yang sering menggunakan jasa angkutan kereta api. (Bukan) Kesempatan yang Terlewat (BKyT) berkisah tentang perempuan di kereta (Dian Sastro) yang bertemu dengan seorang pemuda (Christian Sugiono). Mereka bertemu beberapa kali. Pertemuan yang awalnya hanya sebatas saling menatap ini, lalu berlanjut ke obrolan, dan akhirnya saling berharap untuk bertemu kembali.

Film ini mempunyai struktur cerita dan visualisasi yang kuat. Skenario yang mengigit dan unik. Plot yang memancing penonton agar tak berhenti dalam menikmati ceritanya. Visual yang sangat representatif dengan ceritanya. Jeli dalam memilih musik latar yang tepat sebagai elemen pendukung jalan ceritanya. Lihai dalam memanfaatkan setting ceritanya. Dan, tentu chemistry yang dahsyat dari pemainnya. Tema ceritanya mungkin terasa biasa dan sudah sering diangkat oleh berbagai film layar lebar atau serial televisi. Namun, kali ini film pendek lah yang mengeksplor tema ini, dan tak disangka-sangka ternyata ceritanya sangat mengena.

Film pendek adalah jenis film yang memiliki banyak keterbatasan. Salah satunya adalah durasi yang singkat. Ia harus memanfaatkan durasi yang singkat dalam memasukkan segala unsur dalam cerita filmnya. Film pendek yang ceritanya berat, relatif akan lebih sulit diterjemahkan dalam narasi visualnya. Durasi yang pendek ini berhubungan dengan penerimaan penonton dalam mengakses pesan dalam cerita film. Dengan durasi sekitar 10 menit, penonton BKyT diharapkan dapat memahami ceritanya. Maka, skenario harus efisien dan efektif dalam berkisah. Plot pun harus menuturkan kisahnya dengan detail. Visualisasinya harus dekat dengan imajinasi penonton. Saya pikir BKyT berhasil memadukan elemen-elemen itu dengan harmonis.

Berawal dari mata turun ke hati. Itulah yang dirasakan dua tokoh utama film ini. Pertemuan pertama menarik perhatian masing-masing tokoh. Pertemuan selanjutnya, mereka berinteraksi dengan unik. Mereka saling tertarik tanpa disadari. Tapi semua itu dibatasi oleh persoalan identitas. Ketika BKyT dipertengahkan pada cerita tentang pertemuan dua insan yang tidak saling kenal di dalam ruang publik tertutup (di dalam gerbong kereta), maka faktor identitas patut dipertanyakan. Kumpulan orang yang berada dalam ruang publik tertutup kemungkinan besar tidak saling mengenal. Tapi mereka memiliki kesamaan tujuan dan rasa solidaritas dadakan yang berpotensi untuk mengenalkan identitas masing-masing.

Misal, dua orang yang duduk bersebelahan dalam kereta, bus, atau pesawat, memiliki pilihan untuk saling berkomunikasi atau cuek bebek saja. Berkomunikasi untuk membunuh waktu adalah wujud dari kesamaan tujuan dan rasa solidaritas itu. Namun, ada saat sudah berkomunikasi panjang lebar, tapi lupa menanyakan nama. Atau sudah saling tahu namanya, tapi terlupa tak lama setelah berpisah. Anonimitas inilah yang sangat kentara di BKyT. Terbukti dengan tidak bernamanya tokoh yang diperankan Dian dan Christian. Anonimitas ini semakin kuat karena kedekatan posisi tokoh perempuan dan pemuda dalam cerita BKyT tidak intens, seperti misalnya duduk bersebelahan, tapi serba dadakan. Waktu dan tempat pertemuan mereka tidak tentu, kadang di lorong gerbong, atau di restorasi.

Persoalan identitas dan anonimitas ini semakin tak terbantahkan, ketika perempuan di kereta dan si pemuda saling mencari tak tentu arah setiap kali naik kereta. Identitas yang raib dan anonimitas pada tokoh BKyT membuat jalinan ceritanya lebih representatif dan tidak mengada-ngada. Akibatnya pula, unsur drama yang romantis turut terbangun dengan baik. Hal yang berbeda tentu akan terjadi jika pembuat film dari awal sudah mengenalkan identitas masing-masing tokoh.

Prima Rusdi sadar akan kondisi ceritanya ini dan memanfaatkan segala medium komunikasi untuk menggerakkan interaksi dua tokoh fim ini. Prima tidak menyerahkan semuanya pada ucapan kata. Adakalanya mereka berinteraksi dengan lebih verbal lewat gambar karikatur buatan cowok dalam kereta, atau dengan tulisan pada secarik kertas. Ini cara yang unik sekaligus kreatif dalam memanfaatkan keterbatasan. Cara ini juga menjadi solusi untuk menciptakan kedekatan emosional dua tokoh dan juga semakin menimbulkan chemistry di antara mereka. Cara interaksi ini memang terlihat lebih mengena, karena tidak mungkin terjadi percakapan intens dan panjang seperti yang dilakukan Ethan Hawke dan Julie Depply dalam film Before Sunrise.

Jika pada film-film pendek sebelumnya menyuguhkan plot yang konvensional, maka di BKyT penonton agak perlu lihai untuk mengikuti tutur ceritanya. Bukan karena kisahnya njelimet, tapi karena alur yang digunakan adalah maju-mundur. Ini mengakibatkan adanya pergantian setting waktu yang kerap terjadi. Namun, karena seluruh kisah film ini bersetting di dalam gerbong kereta api, maka penunjuk terjadinya perubahan waktu berpotensi mengalami kendala. Tapi, Lasja Fauzia memecahkan kendala itu dengan cara pergantian atribut sang tokoh, yaitu pakaian. Pergantian pakaian tokoh yang dimainkan Dian cukup memberikan penunjuk waktu yang baik. Akhirnya, plot mengalun lancar.

Film dimulai dipertengahan cerita, lalu perempuan di kereta mengingat-ingat kejadian pertemuannya dengan seorang pemuda itu. Ia sadar dirinya memiliki ikatan dengan pemuda itu setelah beberapa kali pertemuan mereka yang tidak disengaja. Keduanya saling mencari dan seperti mempercayai bahwa mereka akan bertemu kembali. Setiap saat si perempuan naik kereta, ia selalu berharap untuk bertemu kembali dengan pemuda itu. Memorinya tentang pertemuan dengan pemuda itu membuatnya ingin kembali bertemu untuk melanjutkan interaksi sebelumnya. Dengan begitu, penggunaan plot maju mundur seperti ini pun semakin menguatkan drama dalam cerita BKyT, karena penonton ikut merasakan memori-memori indah si perempuan yang diharapkan terulang lagi. Pada situasi nyata, setiap manusia pasti ingin mengulang lagi kejadian-kejadian indah masa lampau. Dengan plot seperti ini, bentuk ending-nya tentu sangat dinantikan penonton karena sudah terbawa dengan alunan memori-memori indah itu.

Hal yang paling menarik dan unggul dalam BKyT dibandingkan dengan film pendek Lux lain adalah penggunaan setting tempat dan visualisasinya yang representatif dengan kebutuhan untuk membangun ceritanya dan kehidupan nyata. Hampir keseluruhan jalan cerita terjadi di dalam ruang publik semi tertutup, yaitu di dalam gerbong kereta api. Saya katakan semi tertutup karena ada syarat untuk mengakses masuk ruang publik ini. Publik yang ingin berada di dalam kereta harus membayarnya. Dengan begitu, di dalam ruang publik seperti ini, ada penyeleksian terhadap orang-orang yang masuk. Publik di sini memiliki karakteristik yang berbeda dengan publik, misalnya, di taman kota. Orang-orang di dalam gerbong kereta yang sedang berjalan ini memiliki kesamaan karakter yang khas. Mereka merupakan orang-orang yang umumnya mengejar waktu, berada dalam status sosial kelas menengah, dan memiliki ego yang relatif tinggi. Lihat saja perilaku para penumpang kereta api yang lebih suka membaca koran, majalah, atau mendengarkan musik dengan headphone yang menutup rapat telinganya dari suara sekitarnya. Tokoh yang diperankan Dian dalam film ini pun terlihat beberapa kali sambil mendengarkan musik lewat iPod-nya. Mereka juga menjadikan gerbong kereta ini hanya sebagai sarana menumpang lewat saja untuk tujuan hidup yang lebih penting, yaitu sampai ke tempat tujuan.

Akibat berbagai karakter itu, keintiman hubungan antar penumpang tidak kentara, seperti mewujudkan persoalan identitas yang sudah saya jelaskan di atas. Akibat lainnya, peristiwa yang terjadi di dalam gerbong kereta seolah pun tidak menghasilkan solusi yang nyata. Inilah masalah yang diajukan dalam BKyT, ketika si perempuan selalu menantikan kehadiran si pemuda—begitu pula sebaliknya—agar dapat mendefinisikan hubungan-hubungan singkat mereka sebelumnya. Jelas, persoalan tertutupnya ruang membuat solusi yang diinginkan si perempuan atau si pemuda menjadi terbatas. Keterbatasan solusi ini dapat terjelaskan dengan kesengajaan pembuat film dalam menggambarkan ruang dan tempat melalui setting gerbong kereta ini. Dalam ranah budaya pop, ruang merupakan suatu tempat pertemuan antara gagasan dan kenyataan. Ruang adalah wujud kongkret dari gagasan. Di sini, terjadi pengujian terhadap gagasan, serta berjalannya fungsi dan aktivitasnya. Hasilnya adalah muncul cara berpikir untuk melaksanakan berbagai gagasan itu. Sedangkan, tempat adalah sebuah lokasi yang nyata di mana fungsi dan aktivitas berjalan.

Kejadian-kejadian yang dialami dua tokoh BKyT terjadi di dalam gerbong kereta. Di sini, gerbong kereta menjadi ruang sekaligus tempat. Peristiwa memang terjadi dalam ruang dan tempat. Kedua tokoh ini tidak menemukan solusi atas masalah mereka selama di dalam gerbong kereta, karena pertukaran gagasannya dibatasi oleh tertutupnya ruang. Persoalan tertutupnya ruang ini membuat interaksi mereka di dalam gerbong kereta ini sangat terbatasi oleh waktu, sehingga percakapan mereka tidak intens. Mereka pun menjadi saling berharap untuk bertemu kembali. Padahal, agar dapat bertemu dan berinteraksi kembali di dalam kereta menjadi sangat tidak gampang dan penuh spekulasi waktu, karena mereka saling tidak tahu jadwal dan waktu tempuh perjalanan masing-masing.

Setelah lama mengubek-ngubek kereta, akhirnya mereka pun bertemu di luar gerbong kereta, yaitu di sebuah stasiun. Keterbatasan mereka selama di dalam gerbong kereta pun hilang. Keluarnya mereka dari gerbong itu dengan sendirinya menciptakan dan mendapatkan ruang serta tempat yang luas untuk berinteraksi lebih intens, dan untuk memecahkan masalah mereka. Maka, dengan penggunaan setting di dalam gerbong kereta dan akhirnya keluar dari situ sebagai ruang pertukaran gagasan dan pikiran si dua tokoh ini menghasilkan representasi kehidupan nyata yang baik. Nilai lebih juga pantas disematkan pada penampilan Dian dan Christian dalam film ini. Tak disangka, mereka berhasil membuat chemistry yang hebat. Akting mereka, terutama lewat gestur-nya sangat mendukung cerita yang minim dialog ini. Filmmaker BKyT berhasil memadukan elemen-elemen ini menjadi harmonis, serta menjadikan film pendek yang sangat romantis. Tokoh yang diperani Dian dalam BKyT pada akhirnya menguatkan kampanye ”Beauty is the power to seize your destiny” dengan penuh makna.

 

 

PS: Ditulis pada  Juni 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s