APOCALYPTO: Alegori Kekerasan

Peradaban besar kuno selalu menyisakan jejak cerita akbar, baik dalam bentuk mitos, legenda, atau artefaknya. Semua terekam dalam narasi sejarah, dan medium film selalu menayangkan kembali jejak-jejak itu. Kali ini giliran peradaban suku Maya yang dihidupkan kembali oleh Mel Gibson. Lagi, sebuah film berlatar sejarah dari Mel: Apocalypto. Sudah menjadi spesialisasinya mengangkat kisah sejarah berbalut sedikit mitos dan legenda. Lengkap dengan visualisasi segala atributnya yang mungkin belum pernah direpresentasikan dalam teks sejarah. Tentu dengan imbuhan dramatisasi dan kekerasan.

Setting cerita Apocalypto ini terjadi saat sebelum kedatangan bangsa Spanyol dan menjelang keruntuhan peradaban suku Maya. Kekerasan ditampilkan beriringan dengan dramatisasi kisah perjuangan Jaguar Paw (Rudy Youngblood) melawan kelompok Zero Wolf (Raoul Trujillo) dari suku Maya. Jaguar berusaha kabur dan melawan upacara pengorbanan nyawa manusia yang dilakukan suku Maya untuk dipersembahkan kepada dewa Kukulkan. Ia ingin menyelamatkan nyawa Seven (Dalia Hernández) dan anak lelakinya, Turtle Run. Drama dan ketegangan cukup terbangun dalam kisah ini. Visual cerita lewat sinematografinya pun tak mengecewakan. Set produksi yang megah juga mendukung nuansa realis narasi visual Apocalypto.

Kekerasan adalah hal yang paling kentara di film ini, ciri khas yang selalu muncul dalam film-film karya Mel. Bisa dibilang, kekerasan yang tervisualisasikan dalam film ini lebih intens dan vulgar dibandingkan dua film sebelumnya, Braveheart dan The Passion of The Christ. Alunan gambar tanpa adanya visual artistry. Dengan latar sejarah peradaban besar itu, tradisi suku Maya ditampilkan secara nyata. Mel, di film ini, menampilkan realisme dengan segala atribut dan cara hidup masyarakat pedalaman. Bahasa asli Yukatek Maya juga digunakan dalam dialog film ini.

Sebenarnya, jauh sebelum munculnya tren gory movies, seperti trilogy Saw, Hostel, hingga Turistas, filmmaker Hollywood sudah akrab dengan visual of violence. Psycho, A Clockwork Orange, Taxi Driver, dan Goodfellas, adalah beberapa di antaranya. Kini Mel sepertinya ingin menampilkan aspek kekerasan dengan apa adanya. Kekerasan dalam cerita bernuansa sejarah Apocalypto ini tampaknya dianggap Mel sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kehidupan masyarakat pedalaman kuno yang (mungkin) belum mengenal estetika.

Mengenai ceritanya, pada satu wawancara, Mel Gibson menyatakan bahwa peradaban Maya yang ditampilkan dalam Apocalypto adalah alegori dari kesakitan masyarakat kontemporer. Atau semacam komentar terhadap lingkungan, pemerintahan Bush, dan perang Irak. Alegori dan juga kritik yang keras, seimbang dengan sadisnya tampilan kekerasan dalam filmnya.

PS: Tulisan ini dibuat pada tahun 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s