Unordinary New Year Eve Party

“Tahun : satu periode yang terdiri dari 365 kekecewaan,” kata Ambrose Bierce, jurnalis dan penulis.

 

Ada 365 kekecewaan dalam satu tahun. Tersebar rata dalam setiap harinya. Beberapa kekecewaan pula yang datang di setiap harinya. Banyak kekecewaan terhadap rencana yang gagal dilaksanakan. Mungkin itu yang mendera diri kita setiap akhir tahun karena resolusinya ada yang belum terlaksana.

Bagaimana dengan akhir tahun 2004 lalu. Ketika musibah dahsyat gempa dan tsunami datang ke negeri kita. Apakah nurani kita tersentuh untuk merasakan pula penderitaan para korban? Sehingga cukup bagi kita untuk menghentikan sementara ritual akhir tahun..new year party. Apakah muncul kekecewaan karena muramnya malam tahun baru kemarin. Jika ada kekecewaan karena batal pesta, maka mungkin nurani dan rasa kemanusiaan kita perlu dipertanyakan.

Maybe this is unordinary new year eve i’ve ever done..Bagaimana tidak, jika sepanjang malam pada tiap malam pergantian tahun yang biasanya dipenuhi dengan iringan dan konvoi kendaraan, tiba-tiba berubah menjadi agak hening, penuh dengan renungan, doa, refleksi, dan sumbangan. Malam 31 Desember 2004 lalu memang tidak biasa. Bang Yos membatalkan pesta tahun baru di Monas. Pihak sponsor dari HM. Sampoerna sepakat mengalihkan biaya acara tersebut untuk disumbangkan ke tanah Serambi Mekkah dan Sumatera Utara.

Tidak ada semarak pentas musik dari band-band ternama. Tapi beberapa pentas musik tetap diadakan dengan perubahan konsep menjadi charity night. Tidak ada pesta kembang api. Tidak ada bunyi klakson kendaraan membahana di tiap sudut jalan. Tidak ada suara terompet bersahutan. Semuanya tergantikan dengan zikir, doa, renungan dan suasana duka. Di bundaran Hotel Indonesia diadakan malam renungan yang dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat. Api lilin-lilin pun menerangi kawasan itu. Cahaya dari api lilin yang memang identik dengan suasana renungan

Momen malam tahun baru lalu memang pantas untuk dijadikan contoh sebuah perayaan tahun baru, sebuah jenis ‘new year eve’ baru. Berubah konsep dari yang tadinya penuh hura-hura dengan penandaan dimulainya suatu perjalanan menggolkan resolusi setahun ke depan menjadi proses back to the past, melihat kesalahan yang sudah diperbuat setahun yang lalu. Sebuah refleksi diri secara massal. Setidaknya itu yang terlihat di ‘tampak luar’ kawasan ibukota ini. Tak dapat dipungkiri juga di ‘tampak dalam’ pelosok Jakarta masih menyisakan sisa-sisa tumpahan wine, vodka, bir karena perayaan countdown to year of 2005-nya. Ruang publik yang kasat mata seperti kafe, club, bar, hotel room mungkin masih dipergunakan untuk pesta tahun baru. Yaah..itu adalah pilihan untuk merayakan atau tidak. Pesta sudah menjadi gaya hidup dan budaya urban, mau tidak mau.

Seorang feature editor majalah fesyen dan gaya hidup mengatakan, “Bangsa ini sudah dari sononya doyan sekali pesta”. Di jawa kuno kelahiran kematian, pembukaan desa, tahun baru, semuanya ditandai oleh perayaan. Seperti yang ditulis dalam Kitab Negara Kertagama, Raja Hayam Wuruk merayakan pesta kematian sang nenek dengan menari yang langsung mengundang kagum para penonton. Rakyat punya kesempatan menikmati pesta lewat acara-acara kesenian yang digelar. Bagi mereka pesta dan agama bergandengan erat. Melihat sejarah itu, wajar pesta tahun baru juga merupakan ritual tahunan masyarakat urban kita. Sebuah ritual kontemporer yang turut dipengaruhi budaya asing, yang pada akhirnya menciptakan private party baru. Di masyarakat kota Indonesia, buka kamar hotel merupakan private party yang khas

“Baru kali itu gue keliling Jakarta pas malam tahun baru tapi yang ada sepi-sepi aja”. Begitulah ungkapan Ucha melihat realitas malam tahun baru lalu. Pendapatnya, orang-orang Jakarta sedang menghormati suasana berkabung nasional. Semua mungkin muncul karena kesadaran sendiri untuk lebih ‘sopan’ pada malam itu. Lagipula, keluar berbagai imbauan dari presiden, gubernur, dan public figure untuk tidak berpesta pora pada malam tahun baru. “Akhirnya”, kata Ucha, “Gue diajak gabung sama teman yang lagi buka kamar di hotel. Eh nggak tahunya di sana juga sepi, ya udah gue cuma numpang countdown aja terus pulang”.

Waktu itu teman Ucha bilang bahwa teman-temannya yang tadinya pada ikut buka kamar membatalkan keikutsertaannya, dengan alasan, “Mendingan uangnya gue sumbangin aja buat korban tsunami”. Contoh kecil itu merupakan bukti sedang adanya suatu solidaritas rasa kemanusiaan yang ditunjukkan oleh masyarakat kita.

Seorang selebritas bernama Ulfa Dwiyanti berkata, “Mungkin bencana ini memang tanda buat bangsa Indonesia supaya bersatu”.  Perkataan Ulfa sejalan dengan kondisi keseharian di Jakarta yang mudah kita jumpai posko bantuan bencana alam tsunami. Juga, mengalir derasnya  sumbangan, baik uang, makanan, atau keperluan logistik lainnya dari masyarakat menandakan besarnya kepedulian dan solidaritas sesama bangsa.

Kesimpulannya, bangsa kita sedang bersatu menghadapi cobaan alam. Mungkin memang sudah saatnya untuk bersikap massal seperti ini. Tak disangka, derasnya bantuan pun mengalir dari dunia internasional. Jepang menjadi negara donor terbesar dengan diikuti Amerika Serikat. Bank Dunia mengucurkan dana untuk membantu rehabilitasi wilayah bencana. PBB menyatakan inilah bantuan kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Lima negara maju yang tergabung di G-8, yaitu Jerman, Inggris, Perancis, Kanada, dan Italia sudah sepakat untuk mengurangi beban utang Indonesia. Inilah kenyataan bahwa adanya solidaritas kemanusiaan antar bangsa.

Di balik musibah pasti ada hikmahnya. Begitu juga peristiwa bencana alam tsunami lalu. Hikmahnya bahwa kita harus sadar diri, tidak pongah, dan memahami sesama manusia. New year eve kali ini juga terasa baru, karena memiliki konsep yang mungkin belum pernah di adakan sebelumnya, yaitu malam pergantian tahun dengan doa, zikir, dan renungan.

Malcolm X pernah berkata, “Salah satu bakat terbesar manusia adalah kemampuan mengejar impian”. Maka, berkontemplasi untuk resolusi tahun 2005 juga tetap dilakukan dengan penuh kearifan dan kebijakan hati. Semuanya untuk pencapaian yang maksimal.

 

PS: Tulisan lawas dari tahun 2004 akhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s