Terompet

Malam tadi aku sempat keluar. Menghirup sejuk udara segar sehabis hujan. Masih sedikit tersisa wangi tanah. Di luar, sembari menikmati suasana kota yang sejenak kelak akan meriah karena pergantian tahun.

Sudah menjadi ritual masyarakat urban di manapun untuk merayakan momen tahun ini dengan suka cita. Senang-senang ceria duniawi yang lebih daripada kemeriahan setiap hari raya agama. Suka cita momen malam tahun baru penuh dengan keramaian yang minim tema. Intinya, tiap tahun sama: resolusi dan pesta. Tidak ada refleksi, hanya harapan. Setidaknya itu yang terlihat dari wajah-wajah yang berkeliaran di sepanjang jalan kota ini.

Secuil ironi pun muncul.

Di setiap perhentian lampu merah, pasti sarat dengan penjual terompet, baik pria atau wanita. Baik orang tua, paruh baya, anak muda, atau anak-anak. Berjibaku mencari keuntungan di tengah perayaan orang-orang. Di tengah-tengah malunya air hujan yang turun, para penjual ini berharap barang dagangannya ludes terjual.

Di suatu ruang tertutup yang sesak dengan sorotan warna-warni lampu, para pemuja pesta tahun baru akan mencanangkan resolusi untuk setahun ke depan dengan iringan musik dan harum alkohol. Pada waktu yang sama, di ruang publik—sebuah tempat terbuka di mana tak ada pungutan biaya untuk memasukinya dan musik yang menemani, serta munculnya wangi bau tanah selepas hujan—para penjual terompet ini sudah memiliki resolusi. Resolusi hingga pada akhir batasnya, pukul 24.00 waktu setempat. Resolusi yang mungkin dibuat dari beberapa hari sebelumnya.

Resolusi penjual terompet: Terompet daganganku harus ludes terjual pada malam tahun baru.

Satu resolusi pun beradu dengan ratusan resolusi yang sama dari penjual terompet lainnya.

Kalangan pesta akan beresolusi dengan hura-hura yang sebenarnya mungkin jauh dari ikhtiar menuju pencapaian resolusinya kelak. Karena di pertengahan tahun depan, penyakit lupa terhadap resolusinya mungkin akan hinggap. Sedangkan, kalangan penjual terompet berhujan-hujanan demi uang lima ribu rupiah per terompet.

Hitung mundur di mulai. Tak lama, suara terompet dan nyalak klason kendaraan bersahutan. Raungan knalpot motor ikut meramaikan. Manusia-manusia pesta tumpah ruah di jalan. Merayakan detik awal datangnya tahun 2006. Senyuman dan tawa renyah terdengar di mana-mana. Semua senang. Kecuali satu. Di ujung pagar sebuah toko, berdiri seorang anak kecil. Tangannya memegang puluhan terompet. Masih berjumlah puluhan, belum ludes terjual.

Baginya saat itu: Keheningan luar biasa sedang terjadi.

Resolusinya belum dikabulkan.

Malam tahun baru, pikir anak kecil itu, mungkin hanyalah pesta ceria bagi yang “mampu”.

Ditulis saat awal mula 1 Januari 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s