Teman Baru Di Dunia ‘Tidak Tampak’

“Dunia memang kecil yah!”

Kalimat seperti itu sering kamu lontarkan atau kita dengar saat tahu bahwa orang yang baru dikenal ternyata mengenal teman lama atau saudara kita. Atau bisa juga saat bertemu dengan seorang yang kita kenal pada waktu dan tempat yang tidak disangka-sangka. Contoh gampangnya sering terjadi pada kita yang sering ketemu teman kuliah secara kebetulan pada saat main ke Bandung.

Secara teori, fenomena dunia kecil ini memang pernah diteliti oleh Roby Gunawan dkk, mahasiswa sosiologi, Columbia University. Teori itu menjelaskan adanya jumlah selang pemisah rata-rata yang menghubungin seseorang dengan orang lain lewat perantara hingga diantara yang saling berhubungan itu ternyata ada yang baku kenal. Sebelumnya pada 1967, fenomena ini juga pernah diteliti oleh Stanley Milgram yang akhirnya dikenal sebagai six degree of separation. Kenapa six? Jadi ternyata jumlah selang pemisah untuk mempertemukan dua orang rata-rata 6 orang. Kemudian fenomena ini dimasuki oleh budaya pop lewat internet.

Internet, layanan ini tentu sudah akrab dengan kehidupan kita. Lewat internet, apa saja bisa dilakukan. Segala batasan dan hambatan yang ada di dunia riil tereliminir oleh layanan di internet. Interaksi yang dilakukan di internet menciptakan kebiasaan dan kultur baru. Tanpa disadari, proses dan hasilnya itu semakin mengokohkan gaya hidup yang berasal dari komoditas-komoditas ciptaan budaya pop dan praktek ideology kapitalisme. Itulah kemudahan atau anugrah yang dapat kita gunakan untuk berbagai tujuan.

Nah, sekarang ini telah ada layanan internet yang bernama friendster beta. Dengan meng-klik www.friendster.com, kamu dapat mengakses (tentu sign up dulu) layanan pencari kenalan atau teman ini. Manusia memang tidak pernah puas, mencari teman baru saja (atau mungkin jodoh) harus lewat dunia cyber. Apakah orang-orang yang menjadi konsumen layanan ini susah dapat teman di dunia nyata? Salah besar kalo kamu menjawabnya iya. Kalo kamu udah log in di situ, bakalan kamu liat selebritis-selebritis seperti Rhoma Irama  atau Desta Clubeighties yang ikut nyari teman lewat Friendster. Internet telah membuat gaya hidup baru, dan mencari teman di internet bukan lagi hal yang baru. Sebelumnya chatting pernah booming dan memancing kita untuk mencobanya, dan akhirnya ketagihan. Friendster mungkin bisa dibilang hanyalah hasil pembaruan dan modifikasi wajah lama tersebut.

Layanan ini sejalan sama teori fenomena dunia kecil yang memunculkan semangat jaman masa kini, yaitu memberikan keterhubungan satu sama lain di permukaan bumi yang pernah berinteraksi di dunia nyata dengan bantuan jaringan internet. Ini temasuk hal baru dalam studi jaringan dan dinamika kolektif dalam sosiologi, sebut aja untuk menjawab bagaimana perilaku individu berkumpul menjadi perilaku kolektif. Pada kasus ini, kondisi keterhubungan di alam maya lah yang jadi keunikan perilaku kolektif para individu  anggota komunitas itu. Salah satu contoh yang bisa dilihat jika kamu log in di friendster yaitu kesan adanya unsure narsis pada setiap orang yang mencari teman di situ. Kesan itu dapat terlihat pada foto, profile, dan about me yang dipampang masing-masing member. Kesan itu diperkuat lagi  karena semua itu bisa di edit atau di up date kapan pun oleh si member. Apalagi kalo ternyata testimonial si member yang tertulis nunjukin hal yang baik tentang dirinya atau jumlah temannya yang sudah banyak. Tak  pelak lagi kesan dan rasa narsis itu makin menjadi-jadi oleh si member yang bersangkutan.

Bicara mengenai narsisme pasti menyangkut masalah identitas diri. Dilihat dari teori, sebenarnya akibat modernisme manusia semakin kehilangan arah atas realitas dirinya untuk lebih bermakna baik hidup maupun tindakannya. Ini yang menjadi  permasalahan mengenai otentisitas manusia, yaitu kebermaknaan hidup manusia maupun realisasi diri melalui tindakan yang bermakna. Individu yang menggunakan layanan ini menjadi tak sadar atas identitas asli dirinya menjadi karena dunia maya menciptakan “budaya simulasi”. Di era postmodern ini, konstruksi ideology modernisme tentang komputer—internet—mulai bergeser. Internet memberikan jalan untuk berpikir lebih konkret tentang kritis identitas.

Menurut Sherry Turkle, lewat bukunya Life on the Screen: Identity in the Age of the Internet (1995), dunia simulasi identitas dapat mencair dan menjadi multi-identitas. Internet adalah contoh yang paling eksplisit tentang multipersonalitas. Cyberspace memungkinkan pemakainya untuk menggunakan identitas yang diingininya. Seseorang bisa dengan mudah mengasumsikan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan (dalam cyberspace tak ada yang tahu bahwa kamu adalah seekor anjing). Jenis identitas ini yang membuat orang merasa lebih memahami aspek-aspek tersembunyi dari diri mereka sendiri lewat merayakan kebebasan dalam dunia anonimitas. Turkle menyimpulkan bahwa internet telah menjadi laboratorium social yang penting dalam percobaan mengkonstruksi dan merekonstruksi diri yang mencirikan kehidupan postmodern. Dalam cyberspace, self menjadi self-fashion dan self-create.

Kesadaran atas diri dapat menyebabkan keterpisahan dalam hubungan primer atau alam sehingga timbul rasa kesendirian. Untuk mengatasi kesendirian ini dapat dilakukan “persatuan “ (relatedness) baru. Cara yang dilakukan ini tergantung pada kebudayaan yang ada. Ada  kemungkinan caranya, yaitu penyatuan dengan dunia, sperti ketundukan dan penyesuaian diri pada pribadi tertentu, kelompok, lembaga, dll. Dengan cara ini, manusia menjadi bagian orang lain, sehingga keutuhan eksistensinya lenyap. Lalu mendominasi orang lain, sehingga sesamanya menjadi bagian dirinya. Keutuhan pribadi juga dapat hilang. Cara ini disebut  “simbiosis”, yaitu usaha untuk melakukan hubungan antara organisme atau kelompok berbeda “yang saling menguntungkan”. Tapi cara mengatasi problem ekstensial tersebut tidak memecahkan masalah keterpisahan manusiawi, karena merupakan usaha menghancurkan diri yang dalam istilah Freud disebut narsisme. Di mana realitas luar, pribadi benda-benda hanya mempunyai arti dalam hubungannya “sebagai yang memuaskan bagi dirinya sendiri”. Dari sudut psikoanalisis, Erich Fromm, mengatakan itu adalah fenomena kepribadian yang secara regresi tumbuh tidak ditandai oleh narsisme, tapi cinta. Melalui cinta, manusia mengatasi problem eksistensi tersebut secara rasional.

Jelas dari tinjauan teori-teori itu, cara mencari teman lewat internet—friendster—merefleksikan kebebasan berekspresi dan berkreatif, terlepas dari segala potensi terburuk yang diakibatkannya. Inovasi pasti selalu muncul, dan cara mencari teman di dunia maya ini salah satu buktinya. Pencarian kenalan baru yang anonim dan tidak “tampak” ini membuat sub-genre baru dari—lagi-lagi komoditas hasil ciptaan gaya hidup budaya massa. Mencari kenalan baru di dunia riil pastilah berbeda rasanya dengan di dunia yang tidak “tampak” itu. Bukan maksud mengajak ikutan friendster, namun tidak bisa dielakkan bahwa manusia memang sering mencari kepuasan baru dengan cara baru. Dan, friendster memfasilitasi keinginan itu.


PS: Pada 15 April 2004, saya menulis artikel ini untuk kolom Karung Budaya di Tabloid Karung Goni.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s