Shock

Dia jatuh di hadapan saya. Di tanah berpasir itu, tubuhnya tergolek dengan napas yang terengah-engah. Matanya sudah terlihat sayu. Mulutnya setengah terbuka. Tak lama kemudian, kelopak matanya menutup dan nafasnya hilang. Akhirnya, dia tewas tanpa pertolongan. Kuda pacu itu kehabisan darah. Kulit kaki kiri depannya sobek dan mengucurkan banyak darah. Saya cuma bisa melihatnya dengan miris.

Siang itu, saya sedang mengikuti kerja Paramedik Ambulans 118. Rencananya, saya akan menulis tentang kisah hidup mereka. Kebetulan pada Minggu yang terik itu, ada balap kuda yang diselenggarakan oleh Pordasi di Lapangan Pacuan Kuda Pulomas. Basid dan Endang, anggota Paramedik Ambulans 118 itu, mengajak saya untuk, mengutip omongan Basid, ‘ngikutin pantat kuda’.

Saya, Hari (fotografer), Basid, dan Endang akan membututi kuda-kuda pacu itu berlari. Lomba pertama pun akan segera dimulai. Saya sempat melihat ke arah tribun. Banyak juga yang menonton. Mereka berasal dari berbagai kelas masyarakat. Ini jelas terlihat dari pakaiannya dan… cara berjudinya. Arena pacuan kuda memang sudah lazim berperan sebagai ladang perjudian. Basid bercerita, jika penjudi kelas atas, setelah membayar taruhan, mereka akan diberikan kupon oleh bandarnya. Sedangkan para penjudi kelas bawah, uangnya ditagih oleh bandar layaknya kenek bus Metromini menarik ongkos dari penumpang. Uangnya pun recehan.

“Lucu juga,” pikir saya saat itu.

Selang beberapa lama, saya sudah berada di dalam ambulans 118 yang siap membuntuti pantat kuda-kuda itu. Start dimulai. Lima kuda itu dipacu dengan kencang oleh para jokinya. Cepat sekali. Ambulans 118 sampai ketinggalan jauh, padahal kecepatannya sudah di atas 80 km/jam. Debu-debu pasir dari lintasan pacu yang diinjak kaki kuda-kuda itu berhamburan dan menutupi pandangan. Saat pandangan makin jernih, ternyata satu kuda dan jokinya sudah terkapar di pinggiran dalam lintasan.

Ambulans 118 berhenti dan langsung mengeluarkan peralatan medis. Saya dan Basid mengira si joki terluka parah. Ternyata dia baik-baik saja. Tangan kanannya agak terkilir. Kondisi si kuda malah yang lebih parah. Dia diam saja dan tidak lama kemudian tewas. Basid sempat memeriksa kondisi kuda itu. Denyut nadinya sudah raib.

“Udah mati,” kata Basid.

“Mati? Bener udah mati?” tanya joki itu ke Basid, tak percaya.

Si joki sambil tertatih-tatih mendekati kudanya. Dia menggoyang-goyang leher si kuda, seperti membangunkan orang yang sedang tidur. Yakin kudanya telah mati, dia pun masuk ke dalam ambulans.

Tidak lama petugas lintasan datang ramai-ramai menaiki kijang pick-up. Seorang laki-laki turun dari mobil dan langsung berlari ke arah kuda itu berbaring. Dia mengecek lagi kondisi kudanya. Mukanya jelas terlihat kecewa saat mengetahui kuda itu tewas. Sepertinya, dialah yang mengurus kuda itu sehari-harinya. Laki-laki itu akhirnya ikut naik ke ambulans menemani si joki. Di dalam ambulans yang melaju ke tribun, si joki menatap kudanya dari kaca belakang. Mukanya terlihat sedih. Samar-samar terdengar di kuping saya, ia menyebut nama kudanya.

Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa sedih. Dada terasa sesak sekali akibat melihat kuda itu mati tanpa pertolongan. Dalam pikiran saya, seharusnya ada tim medis khusus untuk kuda-kuda pacu yang juga ikut menguntit selama lomba. Jadi tidak hanya mementingkan manusianya saja.

“Kalau ditolongin lebih cepat, mungkin kuda itu masih hidup. Sayang, saya nggak ngerti soal hewan. Kayaknya mati kehabisan darah. Vena dikakinya yang sobek tadi saya lihat udah putus,” kata Basid.

Ternyata, Basid sedang memikirkan hal yang sama. Tak lama, ambulans sampai di bangunan tribun. Penonton sekaligus penjudi itu bertransaksi. Mereka tidak peduli dan mungkin tidak tahu ada kuda yang mati. Para penjudi itu asyik saja bertaruh.

Kami pun kembali ke lintasan pacu dan standby di belakang tempat start. Kali ini, ada delapan kuda. Saya kembali shock. Beberapa kuda tidak mau masuk ke dalam tempat start. Ada seekor kuda yang berontak, kaki belakangnya menendang-nendang. Tapi pantat kuda yang berontak itu dipukuli berkali-kali dengan rotan atau potongan bambu kecil oleh dua orang laki-laki. Kuda itu akhirnya duduk dan tak mau berdiri. Para petugas itu malah memukul semakin membabi buta. Kali ini, bukan cuma rotan, tapi juga tendangan dari para petugas menghantam tubuh kuda itu.

“Gila, parah banget,” ucap Basid.

“Kasihan. Masa harus digituin sih?” kata Endang menimpali.

Di dalam ambulans, kami menahan amarah sekaligus sedih. Saya tak habis pikir. Apa tidak ada cara lain untuk membujuk si kuda agar mau bertanding?

Jangan-jangan bener, orang Indonesia memang erat dengan tingkah kekerasan. Di lapangan pacuan kuda itu seperti membuktikan bahwa jalan kekerasan memang menjadi solusi. Semoga saya keliru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s