Semoga Saja Memang Bukan Arisan

“Arisan! Ini arisan, mas..!”

Itulah ucapan Hanung Bramantyo, sutradara Brownies, kepada Eric Sasono sesaat setelah menerima piala Citra sebagai sutradara terbaik FFI 2005. Dari tulisan Eric dalam blognya yang bercerita tentang situasi malam penganugerahan itu, terungkap kalau Hanung gundah terhadap piala yang diterimanya. Kegudahan itu dikatakannya sendiri dalam pidato ucapan terima kasihnya. Kata Eric, Hanung naik ke atas panggung dengan terlebih dulu memeluk Riri Riza.

“Ia merasa bahwa seharusnya ia hanya menjadi cheerleader bagi kemenangan Riri Riza dan bahkan ia meminta maaf kepada Riri Riza. Bagi saya tidak begitu. Dewan juri yang merebut piala itu dari Riri Riza dan memberikannya kepada Hanung,” tulis Eric dalam blognya.

Eric Sasono adalah kritikus film yang menang dalam kategori kritik film terbaik dalam FFI tahun lalu. Ia menjadi salah satu saksi atas keanehan yang terjadi pada malam itu. Sewaktu acara berjalan, bocor info yang berisi nama-nama pemenang lewat sms. Dan bocoran itu ternyata terbukti kebenarannya. Bagaimana keputusan yang harusnya bersifat rahasia ini bisa bocor. Itu keanehan pertama. Keanehan kedua mengenai keputusan pemenang dalam beberapa kategori. Pemenang beberapa kategori saat itu sangat mengejutkan para pekerja film yang hadir. Banyak yang menjagokan GIE akan berjaya saat itu, termasuk Hanung. Nyatanya, Hanung yang menang dan ia pun merasa tidak enak terhadap Riri.

Wajar jika Hanung merasa tidak enak terhadap Riri yang merupakan dosennya. GIE sendiri digadang-gadang akan menjadi pemborong piala Citra dari berbagai nominasi yang didapatkan. GIE juga banyak mendapat award dalam ajang kompetisi film di luar negeri, termasuk menjadi unggulan untuk menjadi nominasi Best Foreign Film di ajang Academy Award. Nyatanya dewan juri FFI memiliki penilaian berbeda. Pilihan sutradara terbaik gagal di raih Riri.

Tidak hanya itu, nama Riri pun tak muncul dalam big screen saat disebutkan para nominator sutradara terbaik, yang berarti tidak muncul di layar televisi. Entah kenapa kejadian ini tidak dikoreksi oleh panitia yang harusnya dapat dilakukan oleh pembaca nominasinya. Inilah keanehan ketiga. Para pekerja film yang hadir saat itu bertanya-tanya kenapa bisa begitu. Terbesitlah pikiran jangan-jangan itu terjadi karena pihak televisi ingin balas dendam kepada Riri. Pada malam FFI tahun lalu, Riri memang mengatakan kritik yang sangat tajam, bahkan cenderung sinis pada dunia televisi. Keanehan itu pun menjadi kontroversi yang kemudian merebak. Bahkan hingga santer terdengar kalau FFI 2005 itu bak acara bagi-bagi piala saja. Tidak heran Hanung pun menganggapnya seperti arisan belaka. Malahan ada desas-desus kalau uang bermain dalam pemilihan pemenang. Benarkah? Dewan juri berani bersumpah tidak ada jual beli piala. Saya sih percaya karena tidak ada bukti, dan menurut saya tidak mungkin juri berani mempertaruhkan kredibilitasnya saat FFI mulai bangun dari tidur selama 12 tahun. Tapi apakah benar bukan arisan ala FFI yang terjadi? Kita simak satu per satu kontroversi yang ada dari FFI ini.

Kontroversi Pada Saat Itu

Akhirnya, penyelanggaraan malam puncak FFI 2005 dianggap kacau (karena bocornya info pemenang dan nama Riri yang tak terpampang di big screen). Hal ini merembet kepada pihak dewan juri yang dianggap tidak kredibel (salah satu penyebabnya karena Riri yang tidak dimenangkan). Sebelum dan sesudah FFI 2005 muncul pendapat miring tentang para juri ini lewat artikel-artikel di media massa. Beberapa juri dianggap tidak kredibel. Mekanisme dan kriteria pemilihan juri tidak jelas. Bagaimana bisa Angelina Sondakh menjadi juri. Bagaimana kredibilitasnya? Padahal ia hanya mantan Puteri Indonesia cum politikus, dan mungkin awam soal film seperti saya. Sepertinya hanya di Indonesia saja, orang-orang yang bukan pekerja film dapat menjadi juri dalam festival film.

Dalam festival film di negara manapun, juri selalu terdiri dari para pembuat film, serta biasanya kritikus film. Kalaupun ada orang di luar pembuat film yang menjadi juri, itu hanya terjadi di Festival Film Cannes saat Michael Ondaatje menjadi juri. Itu juga menjadi kehormatan karena novelnya The English Patient yang difilmkan Anthony Minghela saat itu dipuji berat. Para juri Oscar yang adalah anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) sebanyak 5500 orang pun semuanya orang-orang film, dari produser, sutradara, sinematografer, penata artistik, penulis skenario, dll.

FFI memang unik, kalau tidak mau dikatakan aneh. Inilah satu-satunya festival film di dunia yang tidak memutar kembali film-film peserta kepada publik. Padahal festival film lazimnya terdapat pemutaran film, sehingga publik yang belum atau sudah pernah menonton film-film itu dapat menilai sendiri, bahkan memberikan award khusus. Nia Dinata, Riri Riza, Eric Sasono, dan Seno Gumira Ajidarma sudah mengkritik penamaan ini. Seharusnya diganti menjadi Malam Anugrah Piala Citra saja atau apalah asal bukan festival.

Selain itu, film-film yang ingin diikutsertakan dalam penjurian pun harus didaftarkan. Cara pendaftaran ini pun aneh, karena lazimnya cara ini dipakai dalam festival film yang ada pemutaran filmnya. Bagaimana jika produser-produser film berkualitas tidak mendaftarkan filmnya. Bagaimana jika ada film independen atau film yang diproduksi di daerah yang ternyata berkualitas, namun karena minimnya biaya urung didaftarkan. Contohnya film Impian Kemarau (The Rainmaker) karya Ravi Bharwani yang sukses di Shanghai International Film Festival, tapi luput dari seleksi FFI. Hal seperti ini akan mengurangi pilihan dewan juri dalam menilai film berkualitas. Otomatis akan mendelegitimasi FFI sebagai ajang kompetisi film.

Kontroversi juga menyangkut jumlah film-film unggulan yang akan disaring menjadi nominasi dianggap terlalu sedikit. Dari 27 film yang didaftarkan tersaring oleh komite seleksi menjadi tujuh film unggulan, lalu akan diciutkan lagi menjadi lima nominasi oleh dewan juri. Selanjutnya dewan juri yang akan memilih jawara dari lima film itu. Mengapa harus diseleksi menjadi tujuh film unggulan? Padahal cara itu akan menyempitkan pilihan dalam penilaian dewan juri. Penyeleksian menjadi tujuh film unggulan itu juga yang memilih komite seleksi, bukan dewan juri. Orang-orang yang berbeda, berarti memiliki penilaian yang berbeda pula. Bagaimana jika yang dinilai komite seleksi tidak pantas masuk unggulan, ternyata sebenarnya dinilai pantas oleh dewan juri. Toh juga karena jumlahnya masih dalam kisaran 20-an, saya rasa dewan juri pun sebenarnya mampu menyeleksi langsung 27 film itu. Coba lihat Festival Film Cannes, jumlah film yang ikut kompetisi sebanyak 20-an juga dan juri-jurinya mampu menyeleksinya. Padahal dengan film-film dari berbagai negara dan juga juri-jurinya dari berbagai negara, tingkat kesulitan dalam proses penyeleksian pasti lebih tinggi.

Penilaian para juri FFI terhadap film-film unggulan yang menciut jadi nominasi pun dipertanyakan. Publik tidak tahu apa batasan-batasan yang dipakai juri dalam menilai film. Belakangan Noorca Massardi mengatakan bahwa film-film yang didaftarkan pada FFI 2005 lemah dalam pemuatan kritik sosial yang kontekstual di dalamnya. Sisi kritik sosial ini dijadikan patokan penilaian juri. Makanya, dewan juri memberikan poin lebih pada film-film yang memuat kritik sosial, sehingga akhirnya menjadi nominator film terbaik. Hasil akhirnya; GIE, Ketika, Virgin, Detik Terakhir, dan Janji Joni.

Lima nominasi ini memang memuat kritik sosial yang isunya berbeda satu sama lain. GIE tentang idealisme dan harapan untuk pemerintahan yang bersih dari KKN. Ketika tentang kritik terhadap penegakan hukum di Indonesia yang memble. Virgin tentang ambruknya moral dan gaya hidup anak muda. Detik Terakhir tentang bahaya narkoba. Dan, Janji Joni yang memuat kritik terhadap kejujuran masyarakat perkotaan.

Memang tak ada yang salah dengan lima film itu jika memakai nilai ukuran tema kritik sosial. Tapi kenapa film Rindu Kami pada-Mu karya Garin Nugroho tidak lolos seleksi. Padahal film itu juga memuat kritik sosial. Ini menjadi pertanyaan besar di kalangan pembuat film saat itu. Riri Riza termasuk yang menanyakan ini. Ia menyarankan agar para juri menjelaskan standar penilaian secara terbuka. Setelah malam pengumuman nominasi FFI 2005, dewan juri memberikan alasan pemilihan lima nominasi itu, bahwa selain tema kritik sosial, mereka juga melihat pesan dan sikap sineas yang ingin disampaikan oleh cerita dalam film-film itu. Dewan juri berpendapat Rindu Kami pada-Mu tidak memperlihatkan pesan yang jelas dalam kritik sosialnya. Itu juga kenapa Garin tidak dapat nominasi sutradara, karena ia dianggap tidak menunjukkan sikap jelas dari cerita filmnya. Dewan juri ingin para sineas lebih menunjukkan sikapnya terhadap permasalahan sosial yang diangkat dalam filmnya. Sikapnya berupa kata iya atau tidak. Tidak boleh bersikap abu-abu. Apakah hanya karena sikap dan pesan dalam cerita film yang berada di grey area, maka segi estetika suatu film tidak dinilai? Tampaknya dewan juri memang lebih mementingkan sikap dan pesan dalam cerita.

Sebab ini pula yang mengakibatkan Riri Riza gagal meraih gelar sutradara terbaik. Kalau kata Eric Sasono, dewan juri yang merebut piala itu dari Riri Riza dan memberikannya kepada Hanung, maka mungkin memang benar adanya. Dari beberapa media cetak yang saya baca, terungkap kalau juri melihat Riri tidak jelas dalam bersikap dalam filmnya. Ini yang membuat saya tidak habis pikir. Bagaimana juri bisa berpikir kalau Riri tidak jelas dalam bersikap. Jelas-jelas GIE dibuat untuk memperlihatkan pemikiran idealis dan tindakan seorang anak muda Indonesia yang bersih dari pengaruh negatif. Jelas pula terlihat pada akhir film muncul teks yang menyatakan bahwa apa yang dicita-citakan Soe Hok Gie sebagai Indonesia yang adil dan bersih dari korupsi belum terwujud sampai sekarang. Apakah semua itu dianggap kurang tegas dan jelas?

Pemberian gelar film terbaik untuk GIE pun sebenarnya melalui perdebatan panjang para juri. Salah satunya ada seorang juri dalam memberikan penilaian mempertanyakan mengapa tidak terlihat ada tentara Kopassus dalam GIE. Dia mempermasalahkan hal ini. Aspek realitas yang diangkat dalam GIE adalah poin yang dinilai penting oleh juri. Memang dalam GIE, aspek realitas ada yang terpinggirkan. Namun itu adalah sesuatu yang wajar, karena GIE adalah film biografi, bukan sejarah. Karena film biografi, Riri menggunakan pendekatan cerita dengan penjabaran per periode kehidupan Soe Hok Gie. Akibatnya, realitas tidak sepenuhnya terwakilkan pada GIE, karena berpaku pada fokus cerita hidup si tokoh.

Lantas muncul kontroversi baru. Ada dugaan komersialisasi agar market lebih luas. Ini karena juri sempat mengatakan bahwa dasar pemilihan lima nominasi film terbaik itu juga untuk meluaskan tema dan memberikan pembuat film lainnya ruang untuk berkreasi. Nah, di sini terlihat ada niatan dari dewan juri agar film nasional nantinya lebih berkembang dalam hal tematik, sumber daya dan jumlah produksi sehingga mudah diterima publik (baca:komersial). Sebuah ajang kompetisi film, baik festival atau bukan, memang akan mempengaruhi nilai jual film yang masuk nominasi, apalagi menang. Tidak heran dugaan ini sangat kuat, karena jika ini terjadi, film market-nya akan lebih luas, otomatis akan semakin menguatkan produksi film nasional.

Namun ini mengandung kelemahan, karena akhirnya mengabaikan nilai estetika dalam film itu. Ini mengandung kontroversi, karena festival film yang seharusnya berpaku pada pencapaian aspek estetika, akhirnya patuh pada motivasi aspek komersial. Dugaan ini diperkuat dengan kemenangan Frans Xr. Paat pada kategori tata artistik. Bagi yang sudah menonton GIE, terlihat sekali tata artistiknya yang dibuat Iri Supit sudah hampir sempurna. Ia berhasil memindahkan nuansa dan realita kehidupan tahun 60-an secara nyata. Tapi usaha keras itu dikalahkan oleh Frans Xr. Paat yang menata artistik Virgin. Padahal tingkat kesulitan pada GIE jauh lebih besar. Atau contoh kemenangan Hanung lewatnya Brownies-nya. Sulit untuk tidak membandingkan apa yang sudah dihasilkan Riri dengan Hanung. Bagaimanapun banyak dari kalangan pekerja film yang menganggap Riri lebih pantas menang, walau bukan juga berarti Hanung buruk dalam mengarahkan Brownies. Kontroversi itu sampai sekarang pun masih menjadi pertanyaan besar, hingga akhirnya tak terdengar. Dan, FFI 2006 sudah ada di depan mata.

Bibit Kontroversi FFI 2006

Bagaimana panitia FFI 2006 menyikapi kontroversi yang merebak tahun lalu? Apakah akan ada perbaikan pada FFI tahun ini? FFI masih FFI, tidak ada perubahan nama. Semoga saja nanti akan diubah namanya, atau semoga akan ada pemutaran film nasional dan internasional. Bagaimana dengan juri? Jika dilihat dari komposisi dewan juri memang ada perbaikan. Semua juri berkecimpung di dunia film, minimal kritikus. Film yang disertakan dalam FFI masih dengan cara didaftarkan. Jumlah film peserta tahun ini juga mengalami kenaikan, yaitu 30 film. Namun, panitia masih mengadakan seleksi film unggulan. Kuota film-film unggulan untuk dijadikan nominasi akhirnya dinaikkan menjadi 10 film, sehingga membuat pilihan dewan juri akan sedikit lebih luas. Tapi, itu semua artinya masih mungkin terjadi kontroversi mengenai daftar nominasi.

Minggu lalu, panitia FFI mengumumkan daftar nominasi untuk semua kategori. Untuk kategori film bioskop, dari 10 judul film unggulan dipilih lima nominasi, yakni Ekskul, Ruang, Heart, Mendadak Dangdut, dan Denias, Senandung di Atas Awan. Kontroversi kembali muncul. Hasil nominasi itu dipertanyakan. Apakah lima film itu benar-benar yang terbaik? Bagaimana bisa Berbagi Suami dan Opera Jawa tidak mendapatkan nominasi (dua film ini termasuk unggulan). Dua film ini berjaya di ajang internasional. Berbagi Suami yang dipuji di Festival Film Cannes dan Festival Film Jenewa, meraih Best Foreign Language pada Golden Orchid Award di Hawaii, menang di Festival Film Jakarta dan Festival Film Bandung, bahkan masuk seleksi Academy Award 2007. Opera Jawa juga dipuji di Festival Film Cannes dan menjadi unggulan film terbaik pada Festival Film Internasional Venice 2006. Banyak yang mempermasalahkan hal ini, termasuk saya.

Memang setiap ajang kompetisi film memiliki karakter dan kriteria penjurian yang berbeda. Begitu pula FFI yang tidak bisa disamakan dengan ajang lain. Sehingga juga tidak fair jika publik sudah menilai duluan (bahkan mengunggulkan film tertentu) sebelum juri melakukan penilaian. Ini akan membebani penilaian dewan juri dengan pujian yang sudah diterima sebelumnya pada film bersangkutan. Publik harus mempersilakan dewan juri bekerja dahulu. Namun, argumen seperti ini tidak bisa diterima begitu saja jika melihat hasil nominasi FFI 2006. Bagaimana bisa publik dan para juri luar negeri lebih apresiatif terhadap film nasional (Berbagi Suami dan Opera Jawa), sedangkan juri FFI yang murni orang Indonesia malah sebaliknya. Mendapat nominasi pun tidak.

Hasil ini memang sangat mengejutkan dan mengecewakan banyak pihak. Beberapa media, salah satunya Suara Pembaruan (SP), mengkritisi hasil nominasi ini. Stevy Widia, wartawan SP yang juga nominator penulis kritik film terbaik FFI 2005, mengatakan sepertinya FFI ingin tampil beda, seperti halnya ajang piala Oscar dan Golden Globe di Amerika. Hanya bedanya, standarisasi penilaian juri FFI memang lain dari yang lain dan juga tidak terbuka. Pihak juri yang diwakilkan Noorca Massardi pun angkat bicara.

“Dewan juri sepakat untuk selalu mempertimbangkan dan menilai kualitas dan daya ungkap gagasannya. Karya itu harus mengekspresikan nilai kemanusiaan dan kebudayaan yang relevan bagi manusia Indonesia dan lingkungannya, serta sejauh mana pencapaian teknis dan estetika sesuai kaidah sinematografi maupun karya secara utuh. Pertanyaan juri lebih dalam untuk sebuah film, lebih menggugat, apa latar belakang dan motif film maker mengangkat sebuah cerita,” katanya.

Ini juga katanya yang menyebabkan Berbagi Suami tidak masuk nominasi. Bagi saya ini aneh sekali. Bagaimana bisa Berbagi Suami yang bertemakan poligami dan perempuan dianggap tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan dan kebudayaan masyarakat Indonesia. Padahal film ini jelas memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia masih bisa berani mengatakan tidak pada poligami, walau secara implisit. Film ini juga memuat kritik sosial tajam atas budaya bangsa kita soal poligami. Bagi saya, penilaian juri sangatlah tidak sesuai.

Lebih lanjut, Noorca juga mengatakan bahwa sikap sutradara dalam film Berbagi Suami tidak jelas, mendukung atau menolak poligami. Padahal pihak juri ingin agar perempuan Indonesia lebih bisa tegas, lebih mandiri dan menolak poligami. Penilaian ini lebih aneh lagi. Nia Dinata dianggap bersikap tidak jelas terhadap poligami. Mari simak, apakah sesuai penilaian juri itu.

Cerita Berbagi Suami terbagi menjadi tiga plot. Plot pertama, tentang kehidupan rumah tangga Salma dan Pak Haji yang mempunyai tiga istri lain. Pada satu adegan, Pak Haji yang sedang lumpuh karena stroke menasehati anaknya, Nadim agar jangan punya istri banyak-banyak, dengan alasan pusing mengaturnya. Plot pertama jelas mengatakan sikap dan pesan untuk tidak berpoligami. Plot kedua, tentang kehidupan Pak Lik dan tiga istrinya (Sri, Dwi dan Siti) yang hidup dalam satu rumah. Akhirnya, Dwi dan Siti kabur dari rumah untuk hidup bersama. Ternyata kehidupan satu rumah selama ini menyebabkan mereka mengembangkan orientasi seksual yang sejenis (lesbianisme). Plot ini memberikan pesan dan sikap bahwa poligami tidak memberikan kebahagiaan (baca: tidak berpoligami). Plot ketiga, tentang kehidupan Ming yang dijadikan istri kedua oleh Koh Abun, padahal mereka beragama nasrani yang melarang poligami. Akhir cerita, Cik Linda, istri pertama Koh Abun, dan anak-anaknya melabrak Ming. Koh Abun pun meninggalkan Ming ke Amerika. Plot ini pun jelas memberikan sikap dan pesan untuk berkata tidak pada poligami.

Keseluruhannya, Berbagi Suami jelas mengutarakan pesan dan sikap yang tegas untuk tidak berpoligami. Penafsiran macam apa yang dipakai dewan juri sehingga mengatakan pesan cerita Berbagi Suami tidak jelas? Apakah juri tidak menonton Berbagi Suami sampai habis? Entahlah, tapi jelas ini adalah kekeliruan besar dari dewan juri. Dari penilaian juri yang dikatakan Noorca soal sutradara Berbagi Suami yang tidak jelas bersikap, saya memprediksi Nia Dinata tidak akan meraih gelar sutradara terbaik, karena argumen juri seperti ini juga yang menggagalkan Riri Riza meraih gelar yang sama.

Dari situ, juri terlihat masih memakai penilaian yang sama dengan tahun lalu, yakni tentang pesan dan sikap dalam cerita, serta memuat kritik sosial yang kontekstual. Dalam pernyataan dari komite seleksi juga terungkap bahwa minimnya film peserta kali ini yang memuat kritik sosial. Selain itu, Komite Seleksi juga melihat adanya persoalan irasionalitas ataupun ketidakberesan logika dalam film (Kembali saya berpikir, irasionalitas dan ketidakberesan logika macam apa yang terdapat dalam Berbagi Suami, sehingga film ini tidak lolos seleksi). Lalu, kontroversi lainnya berkembang pada nominasi film terbaik, yakni Ekskul, Ruang, Heart, Mendadak Dangdut, dan Denias, Senandung di Atas Awan. Apakah lima film itu yang terbaik? Saya mencoba mengulas sedikit film-film itu dengan patokan penilaian juri FFI seperti yang dikatakan Noorca (Film Ruang tidak saya ulas karena belum menontonnya).

Ekskul

Film ini bercerita tentang kekerasan yang dialami Joshua (Ramon Y. Tungka) di keluarga dan di sekolah. Akhirnya, jiwa Joshua terganggu, ia menjadi agresif dan menyandera teman-teman sekolahnya yang sering berbuat kasar padanya. Jalan ceritanya memang menarik, ritme ketegangan dan dramatisasi juga saling mengisi. Alur yang digunakan sangat jarang dipakai sineas kita, cara ini cukup ampuh dalam menuturkan cerita. Cara tutur cerita dan editing yang digunakan pun menarik dan efektif. Nilai minusnya adalah pengambilan sudut pandang kamera yang ingin meniru gaya Tony Scott dalam film Man of Fire terlihat sangat berlebihan. Music Score yang dipakai juga menjiplak dari film Tae Guk Gie (Korsel), The Bourne Identity, dan The Bourne Supremacy. Jiplak-menjiplak ini (terlepas sudah atau belum meminta ijin) akhirnya malah memperlihatkan buntunya kreativitas pembuat film ini. Walau skenarionya memberikan pengembangan cerita yang menarik, tapi tetap masih menyisakan lubang dalam menjelaskan karakter. Contoh, pada karakter Sabina yang tak dijelaskan mengapa ia merasa begitu penting terhadap kelainan jiwa yang diidap Joshua.

Minus lainnya yang paling mengganggu adalah representasi realitas mengenai kekerasan di sekolah. Apa benar kekerasan ekstrem seperti itu sekarang terjadi di sekolah (SMU)? Detail kecil tentang realita cara berpakaian tampak tak diperhatikan pembuat film. Apakah memang benar siswa-siswi SMU sekarang jika di sekolah boleh tidak memasukkan kemejanya ke dalam celana? Apakah siswi-siswi SMU sekarang memang memakai rok seragam yang supermini seperti dalam Ekskul? Begitu rendahkah penerapan tata tertib, etika, dan kesopanan di antara para murid? Realitas ini yang saya rasa perlu dibuktikan dengan melihat ke alam nyata, karena bagaimana pun film adalah representasi realitas. Dilihat dari tema yang diangkat, yaitu kekerasan pada anak, memang sudah sesuai dengan kriteria penilaian dewan juri. Namun, melihat penggambaran kekerasan di sekolah pada film ini begitu ekstrem, apakah ini memang sesuai dengan nilai kemanusiaan dan kebudayaan manusia Indonesia seperti yang diharapkan juri? Tampaknya tidak, jadi kenapa film ini bisa mendapat nominasi? Toh, poin penting yang dinilai juri sudah tak dipenuhi film ini. Bagi saya, film ini memang bagus dalam bersikap dan berpesan, tapi berlebihan dalam narasi visualnya. Nilai plus yang paling menonjol dari film ini adalah performa akting Ramon Y. Tungka. Dia lah yang menghidupkan Ekskul. Sepertinya, ia akan menjadi saingan berat nominator lain dalam meraih gelar aktor terbaik.

Heart

Ceritanya tentang persahabatan Farel (Iriwansyah) dan Rachel (Nirina Zubir) dari kecil hingga beranjak dewasa. Semula mereka sahabat, tapi sejak hadirnya Luna (Acha S.) yang menjadi pacar Farel, Rachel mulai menyadari kalau ia mencintai Farel. Premisnya tentang cinta segitiga. Demi dramatisasi, kisahnya pun diimbuhi dengan sisi tragis dan ironi antara hubungan tiga tokoh itu. Luna mengidap kangker dan sedang sekarat. Sedangkan Rachel mengalami kecelakaan tragis dan akhirnya berkorban nyawa demi Farel dan Luna. Akhirnya dramatisasi memang cukup terbangun, tapi kisah yang dibangun sebenarnya klise. Jalan ceritanya juga bertele-tele dengan durasi lebih dari 120 menit, padahal plotnya hanya berputar pada tiga tokoh itu saja. Memang ada beberapa sekuens yang melodramatis dan cukup berhasil diungkapkan pembuat film, tapi banyak juga sekuens yang dipaksakan dan mematahkan logika.

Skenarionya pun terlihat tidak padu. Misal, saat Farel berbicara dengan Rachel, tutur katanya layaknya obrolan biasa tanpa memperhatikan EYD. Namun, saat Farel berbicara dengan Luna, tutur katanya berubah drastis menjadi puitis. Farel pun tampak seperti bermuka dua. Mengapa harus terjadi perbedaan tutur kata ini. Kalau alasannya karena Luna berkarakter feminin dan halus, atau karena Farel sedang jatuh cinta, ini tetap tidak logis. Minus lain adalah sterilnya ruang hidup tiga tokoh itu. Tidak ada unsur keluarga (akhirnya hanya muncul di akhir cerita). Tidak ada tetangga. Tak ada teman. Hanya bola basket dan kebun teh yang menjadi pendukung cerita hidup mereka. Seolah tiga tokoh ini tidak perlu dukungan sosial dalam kehidupannya. Apakah iya hidup di daerah kebun teh itu sangat minim interaksi sosialnya? Jika dilihat tema yang disampaikan dalam ceritanya, sepertinya film ini tidak penting-penting amat untuk dihadiahi nominasi. Kritik sosialnya tidak bersuara nyaring, hanya bercerita tentang pengorbanan atas nama cinta saja. Jika dilihat pesan dan sikap yang disampaikan, serta melihat segi estetikanya (sinematografi dan tata artistik), Heart memang tidak bisa dibilang jelek. Mungkin ini yang membuat juri terpikat. Selain itu, sama seperti Ramon Y. Tungka, penampilan Nirina Zubir lah yang membuat kisah ini menjadi sangat dramatis dan melankolis.

Mendadak Dangdut

Inti cerita film ini tentang hubungan personal antara kakak-adik yang bermasalah, tapi dibiarkan terpendam hingga akhirnya pecah. Pemicunya adalah musik dangdut. Petris (Titi Kamal) adalah penyanyi pop-alternatif yang mulai tenar. Manajernya adalah kakaknya sendiri, Yulia (Kinaryosih) yang selalu menjadi tameng atas kelakuan adiknya yang cuek, culas, sinis, dan moody. Yulia sendiri dikarakterisasikan seorang yang sabar, ngemong, dan halus. Namun, jika diperhatikan Petris sebenarnya lebih memperlakukan Yulia layaknya pembantu. Akibat disangka memiliki narkoba, Petris dan Yulia kabur ke perkampungan di pinggiran Jakarta, lalu menyamar jadi penyanyi dangdut keliling. Dua bersaudara ini terpaksa menjalani hidup layaknya masyarakat kelas bawah penggemar musik dangdut. Dari sini cerita dan karakter berkembang. Konflik mulai terbangun karena telinga dan hati Petris yang asing dengan musik dangdut. Rizal (Dwi Sasono), pemimpin organ tunggal Orkes Citayam, dan Yati Asgar lah yang mengajari esensi musik dangdut. Tapi, tetap konflik hanya berputar di antara Petris dan Yulia tentang bagaimana membenarkan hubungan layaknya saudara, bukan antara majikan dan pembantu.

Jalan ceritanya memang menarik, apalagi diarahkan Rudi Soedjarwo. Ia selalu berhasil membangun hubungan personal manusiawi yang emosional dan dramatis dalam setiap filmnya. Begitu pula dalam Mendadak Dangdut. Ini memang kelebihannya. Namun, semua menjadi terasa artifisial karena musik dangdut di sini hanya dijadikan kepompong atas metamorfosis hubungan Petris-Yulia. Dangdut cuma dijadikan medium penyampaian kritik sosial, setelah itu ditinggalkan begitu saja. Masalah penyiksaan terhadap TKI, soal ketenagakerjaan, dan kemiskinan dimuat di sini, tapi hanya sepenggal-sepenggal saja, tidak utuh dan terlihat hanya numpang lewat. Musik dangdut pun dijadikan solusi untuk memecahkan segala isu sosial itu. Solusi yang hanya membuat Rodiyah, TKI korban penyiksaan, tersenyum dan sejenak melupakan masalahnya. Itu pun solusi selintas, karena Petris dan Yulia akhirnya terbebaskan dari kejaran hukum yang otomatis meninggalkan kehidupan perkampungan itu, dan masalah-masalah sosial itu akan kembali bergulir. Akhirnya di sini, kritik sosial yang termuat hanya sebatas komentar sosial, tidak tajam ataupun kritis.

Film ini sebenarnya berhasil menciptakan komedi yang menghibur. Komedi seperti lirik lagu Jablay yang dinyanyikan Petris dan menghibur masyarakat kampung itu agar melupakan sejenak masalah mereka. Tak terasa penonton film ini pun ikut terhibur, bukan terhibur seperti yang terjadi pada masyarakat marjinal dalam film, tapi terhibur karena menertawakan polah tingkah laku masyarakat kelas bawah penikmat musik dangdut. Hal yang ironis karena film ini ditayangkan di jaringan bioskop yang target pasarnya masyarakat kelas menengah atas.

Pembuat film juga terlihat tidak konsisten menyebarkan pesannya. Di awal film, Petris mengatakan, “Ini bukan badut. Ini dangdut!” Namun, pembuat film malah membuat penonton menertawakan dangdut itu sendiri layaknya melihat badut, tanpa masuk lebih dalam ke esensinya. Esensi dangdut yang dimaksud film ini adalah seperti yang dibilang Yati Asgar, “Tugas seorang penyanyi dangdut bukan bernyanyi untuk dirinya sendiri. Ia harus bernyanyi untuk penonton.” Apakah ini esensi sebenarnya? Lagu-lagu aliran lain pun dinyanyikan untuk penonton, bukan semata untuk penyanyinya sendiri. Pembuat film ini lupa, bahwa dangdut bukan semata untuk menghibur, tapi sudah menjadi budaya.

Pembuat film juga lupa dengan aspek ruang dan logika. Di saat segala aliran musik mewabah lewat berbagai medium, aneh rasanya masih ada perkampungan padat di pinggiran Jakarta yang hanya terhiburkan oleh musik dangdut, dan tak mengenal Petris sebagai artis yang sedang naik daun. Padahal Petris dan Yulia sedang bermasalah dengan hukum, yang berarti menjadi sasaran empuk infotainment, yang berarti pula dikonsumsi oleh banyak orang, tak terkecuali masyarakat kelas bawah. Bagaimana bisa masyarakat perkampungan ini tidak sadar-sadar juga kalau Petris dan Yulia bersembunyi di wilayah mereka? Padahal perkampungan masyarakat marjinal ini ada di pinggiran Jakarta, dan berarti masih relatif mudah mengakses informasi dari media massa.

Skenario film ini sebenarnya sangat berpotensi untuk memberikan kritik sosial yang nyata dan kritis. Tapi sayang malah melebar kemana-mana. Bukankah akan lebih baik jika difokuskan saja kritik sosialnya pada satu hal, misalkan masalah kemiskinan yang memang dekat dengan kultur musik dangdut itu sendiri. Ini akan lebih memberikan representasi realitas yang kontekstual, ketimbang hanya menyinggung sedikit isu tentang TKI dan ketenagakerjaan di negara ini.

Denias, Senandung di Atas Awan Denias

(Albert Fakdawer) adalah seorang anak Papua yang hidup di pedalaman. Suatu malam ibunya tewas karena Denias melakukan sesuatu yang tidak disengaja. Denias pun terpukul. Beruntung ada Maleo (Ari Sihasale) yang menguatkannya. Sebelum tewas, ibu Denias berpesan padanya agar jangan melupakan sekolah dan terus belajar. Pesan ini diingat terus oleh Denias. Maleo pun memotivasi Denias untuk menuntut ilmu di sekolah dasar yang berada di balik gunung. Sekolah itu bangunannya luas, permanen dan berfasilitas lengkap. Berbeda dengan sekolah di kampungnya yang kecil, dibangun dari kayu, dan akhirnya rubuh ketika diguncang gempa. Sekolah modern di balik gunung itu pun bermetode pengajaran modern dengan para guru yang ahli. Tidak seperti sekolah di kampungnya yang gurunya (Mathias Muchus) hanya satu dan akhirnya pulang ke tanah Jawa karena istrinya sakit. Denias pun sampai di sekolah itu setelah sudah payah melewati hutan Papua. Di sana ia bertemu Ibu guru Sam (Marcella Zalianty) yang membantunya agar dapat diterima menjadi murid di sekolah itu. Maklum, sekolah itu hanya diperuntukkan untuk anak-anak kepala suku, sedangkan Denias hanya anak biasa.

Film ini bertutur tentang pentingnya menuntut ilmu bagi setiap orang. Tak peduli dibatasi oleh hal suku, agama, ras, kelas sosial, budaya, ataupun aspek geografis, setiap orang berhak untuk menuntut ilmu di institusi sekolah. Hak ini menjadi tuntutan penting yang belum bisa dipenuhi negara kita. Film ini seperti mengingatkan pemerintah dan kita terhadap betapa pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa. Kritik sosial pada film ini disampaikan lewat balutan kisah drama khas kehidupan anak-anak yang halus, lugu, dan ceria. Sikap dan pesan yang disampaikan pun tak terlihat menyalahkan atau menuding pihak-pihak tertentu yang dianggap bertanggung jawab atas rendahnya kualitas pendidikan di negara ini. Sebaliknya, malah kita yang diingatkan tentang tanggung jawab bersama memajukan kualitas pendidikan negara ini.

Dengan berbagai pesan itu yang terkandung di dalam skenario, menjadikan film ini paling kuat secara tematik di antara nominator lain. Persoalan yang diangkat juga kontekstual dengan persoalan pendidikan nasional negara ini. Siapapun yang menonton film ini pasti akan tersentuh dengan realita yang ditampilkan pembuat film. Saya jadi ingat satu kejadian ketika usai menonton film ini. Keluar dari pintu keluar bioskop, saya melihat dua anak kecil, sepertinya bersaudara, yang menangis. Sesaat saya dengarkan ibunya berbicara dengan temannya dan mengatakan, “Iya ini pada nangis nih! Kasian yah nak Deniasnya.” Cukup kaget juga saat itu. Bukti bahwa cerita film ini sangat berhasil dalam penyampaian pesan dan membangun kedekatan emosi dengan penonton.

Tak hanya temanya yang sangat kuat, film ini juga sangat indah dari sudut visual. Keindahan alam Papua dieksplorasi habis-habisan di sini. Sebuah bahasa visual yang mendukung jalan cerita secara keseluruhan. Kesendirian dan kemandirian Denias dalam usahanya untuk bersekolah terwakilkan pada visual alam Papua yang luas dan indah. Selain sinematografi yang bagus, film ini semakin hidup dengan menampilkan adat istiadat setempat. Sebuah nilai minus kecil pada skenarionya muncul pada hubungan antara Denias dan ibu guru Sam yang kurang dieksplor lebih dalam. Secara keseluruhan, mungkin film ini yang paling pantas masuk nominasi dan semoga paling kuat untuk merebut gelar film terbaik.

Inkonsistensi Penilaian Juri

Dari keempat film itu, saya melihat juri menilai film-film itu sepotong-sepotong, tidak sebagai satu keseluruhan. Lewat pernyataan Noorca Massardi, terjelaskan bahwa juri menilai film berdasarkan beberapa poin seperti nilai cerita, rasionalitas, logika, motif, pesan, sikap, aspek teknis dan estetika, yang semua itu harus relevan dengan keadaan masyarakat dan lingkungan Indonesia. Kesimpulannya, dewan juri ingin menilai film secara keseluruhan dan utuh. Namun pada kenyataannya, juri menilai film-film itu berdasarkan poin-poin tertentu saja, tidak seluruhnya. Contoh pada Ekskul dan Heart, pada satu sisi juri ingin menilai film dari segi daya ungkap cerita, pesan dan sikap, tapi malah meminggirkan logika dan rasionalitasnya. Semua ini tampak aneh sekali, juri seperti tidak konsisten dengan standar penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pada akhirnya, wajar jika hasil nominasi ini menjadi kontroversial. Beberapa dari kalangan pembuat film merasa hasil ini tidak pantas. Joko Anwar, sutradara dan penulis skenario, tegas menolak hasil penilaian dewan juri (dari berita Suara Pembaruan). Menurutnya, kriteria yang ditetapkan FFI sesungguhnya saling bertentangan. Dia berpendapat acara FFI ini tidak ada gunanya.

Dia juga mengatakan, “Seharusnya event seperti FFI itu membuat film maker jadi lebih bersemangat dan membuat masyarakat lebih apresiatif terhadap karya film Indonesia. Tetapi dengan melihat hasilnya, orang biasa pun bisa tahu bagaimana buruknya.”

Mungkin benar apa yang dibilang Stevy Widia, bahwa jika sineas muda seperti Joko Anwar punya penilaian seperti itu, berarti FFI nanti belum dapat dikatakan sebagai puncak perayaan film Indonesia.

 

PS: Ini juga artikel lama yang saya tulis pada tahun 2005.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s