Dunia Tanpa Koma (DTK): Misi atau Mimpi?

Perubahan dalam dunia televisi akan terjadi. Usaha besar untuk meluruskan salah satu bagian sejarah televisi. Kembali pada sebutan drama serial, bukan lagi sinetron. Kembali pada realitas, bukan lagi obral mimpi.

Itulah beban berat drama serial televisi Dunia Tanpa Koma (DTK). Sejak awal rencana produksi serial ini dimulai, para kreatornya giat menyebutnya serial televisi bergenre drama, bukan sinetron. Mereka seolah tak rela karyanya disebut sinetron. Pada saat itu juga, mereka mempromosikan karya mereka akan menjadi sejarah baru tayangan televisi nasional. Karya yang akan menomorsatukan mutu cerita yang bagus.

Selama ini tayangan drama yang bersambung di televisi memang lazim disebut sinetron. Tapi DTK selalu menempeli kata drama serial di depan judul Dunia Tanpa Koma. Terlihat ada usaha untuk mengubah kata sinetron. Manakah yang benar, sinetron atau drama serial?

Jika kembali pada alur sejarah, jelas yang benar adalah sebutan serial televisi, drama seri, atau drama serial. Dalam wawancara dengan Ekky Imanjaya, Leila S. Chudori, penulis skenario DTK, mengatakan bahwa lewat serial ini ia ingin mengembalikan lagi sebutan serial televisi atau drama seri. Itulah sebutan yang tepat. Sebelum Arswendo Atmowiloto mengenalkan sebutan sinetron, di masa lalu Arifin C. Noer dan Teguh Karya lebih suka menyebutnya drama seri atau televisi.

“Mungkin hanya Indonesia yang menyebutnya sinetron,” lanjut Leila.

Memang, sudah sejak lama dunia televisi tak lagi dikawal oleh sineas-sineas besar, seperti Arifin C. Noer, Teguh Karya, dan Iriwinsyah. Mereka ini memberikan tontonan berkualitas pada penonton televisi yang dulu disebut drama seri atau serial televisi. Sebuah hiburan alternatif pada jamannya. Saat TVRI masih menjadi raja. Namun semua berubah pada awal 1990-an. Stasiun-stasiun televisi swasta nasional bermunculan. Tontonan alternatif itu berubah menjadi sinetron. Kata alternatif pun tergantikan menjadi dominan. Maka, tenarlah sebutan sinetron.

Berawal karena regulasi yang mewajibkan stasiun-stasiun itu membuat program-program lokal yang lebih banyak. Stasiun swasta lah yang mengorbitkan sinetron hingga “tenar” pada saat ini. Sinetron, kepanjangan dari sinema elektronik. Sinema yang diproduksi untuk tayangan televisi. Singkatnya, kalangan kreator sinetron mengatakan sinetron tidak lain tidak bukan adalah tayangan drama bersambung.

Penjelasan itu terlalu bersifat menyederhanakan, karena kata sinema juga identik dengan film. Sedikit mencontek teori dari film. Ekky Imanjaya1 menuliskan bahwa James Monaco dalam “How to Read a Film” menyatakan film bisa dilihat dalam tiga kategori. Pertama, sebagai Cinema (dilihat dari segi estetika dan sinematografi). Kedua, Film (hubungannya dengan hal di luar film, seperti sosial dan politik). Dan ketiga, Movies (sebagai barang dagangan).

Dari situ, jelas kata sinema dalam terminologi sinetron tak serta merta dapat dieksklusifkan seperti itu. Karena dengan begitu, film-film produksi luar dan dalam negeri yang ditayangkan di televisi juga layak disebut sinetron. Inilah kesalahan pendefinisian dan penyebutan sinetron yang akhirnya dianggap lumrah. Bahkan, Arswendo Atmowiloto, dalam salah satu artikelnya, menanggapi salah kaprah ini dengan berkata, “Tapi, ah sudahlah.”

Bagi saya, penggunaan kata sinetron untuk menyebut tayangan drama bersambung di televisi sangatlah tidak benar. Sebutan yang tepat adalah serial televisi, drama seri, atau drama serial. Mengenai format serial dan seri pun perlu dibedakan. Sering kali keduanya dianggap sama. Padahal prinsipnya sangat berbeda dan dapat berakibat pada bermain unsur plot dan dramaturgi tayangan itu.

Veven Sp. Wardhana, dalam artikelnya “Festival Film Indonesia Minus Kritik Sinetron”, menuliskan bahwa untuk format tayangan seri, sekalipun dihubungkan oleh benang merah karakterisasi, tema utama, dan sebangsanya, masing-masing episode bisa disaksikan secara sendiri-sendiri atau dapat dibolak-balik urutannya. Sedangkan, tayangan serial tidak bisa disaksikan secara terpisah-pisah antar-episodenya, karena semuanya berkesinambungan dan bersebab-akibat. Dalam hal ini, sinetron umumnya berformat serial.

DTK sebenarnya pun bukan pionir dalam hal pengembalian sebutan drama serial, serial televisi, atau drama seri. Tercatat, Arisan! The Series sudah lebih dulu memproklamirkan format seri ini. Tapi, DTK memang sangat lebih serius dalam usaha perubahan ini. Tentu dengan petaruhan besar, apakah berhasil atau tidak, memang perlu waktu membuktikannya. Yang jelas, para praktisi dalam dunia televisi pun masih jauh dari harapan untuk lebih ikhlas menyebut DTK sebagai serial televisi. Contoh gamblang terakhir adalah host Ceriwis, Indy Barenz dan Indra Bekti, yang masih menyebut DTK sebagai sinetron ketika mewawancarai Dian Sastro. Bahkan, infotainment dan beberapa wartawan media massa cetak atau on-line pun masih sering menyebut DTK sebagai sinetron.

Saya sendiri masih ingat pemberitaan setelah press conference rencana produksi drama serial DTK, Agustus tahun lalu. Sehari setelah press conference itu, salah satu infotainment menyampaikan liputannya perihal keterlibatan Dian Sastro dalam DTK. Karena sebelumnya, Dian terkesan anti untuk berakting dalam sinetron, maka keterlibatannya dalam DTK dikabarkan infotainment tersebut seperti melanggar prinsipnya. Infotainment itu menganggap Dian akhirnya bermain sinetron. Itu semua disampaikan dengan narasi voice over yang kurang lebih seperti ini:

“Bukankah semua tayangan cerita drama bersambung yang ada di televisi adalah disebut sinetron?…”

Riset mungkin terabaikan dalam penulisan narasi voice over itu. Kesalahan khas infotainment. Contoh-contoh itu memperingatkan pada kreator DTK bahwa masih dibutuhkan kerja keras untuk mempopulerkan kembali sebutan drama serial. Butuh waktu untuk penerimaannya. Makanya, marilah dari sekarang kita turut kembali ke jalan yang benar dengan sering melafalkan sebutan drama serial pada DTK.

Selain itu, drama serial DTK pun dijanjikan oleh para kreatornya akan menjadi pelaku sejarah pertelevisian nasional sebagai bentuk serial televisi yang berkualitas. Mutu yang bagus akan diutamakan oleh DTK.

Sebelum munculnya rencana produksi drama serial DTK, dunia televisi nasional memang dipenuhi oleh sinetron-sinetron yang dianggap rendah mutunya oleh praktisi televisi dan film. Sinetron adalah gabungan kekuatan antara stasiun televisi swasta, production house, dan advertiser. Sebuah sinergi dari tiga pilar yang kental dengan aroma bisnis. Mereka lebih mementingkan aspek kuantitas daripada kualitas. Tiga pilar ini menyembah raja baru: rating. Jika ratingnya bagus, iklan pun mengalir deras. Tak pelak lagi, sinetron itu akan dibuat lanjutannya. Semua dikerjakan dengan cepat. Akibatnya, sistem kejar tayang dipakai, sehingga kualitas terabaikan.

Tak heran, saat ini sinetron dapat ditemui hampir di setiap jam tayang televisi. Pada saat prime time, ia merajainya. Sebuah tontonan yang menuturkan kisah drama fiksi dengan tema utamanya berkisar pada konflik keluarga, asmara, dan perselingkuhan. Semua dengan bumbu tangis, senang, jahat, baik. Tak lupa pula dimasukkan unsur kemewahan, kecantikan, dan ketampanan. Hampir semuanya serba luxurious. Penggambaran ceritanya pun sangat dikotomis. Terlalu hitam-putih. Apakah senyata itukah representasi dari realitas sebenarnya? Wajar banyak yang berpendapat sinteron itu menjual mimpi.

Kalangan kreator dari berbagai production house pun menyanggah tudingan ini. Termasuk Raam Punjabi yang menolak keras pendapat ini. Dalam laporan Coen Husein Pontoh untuk sindikasi Pantau yang berjudul “Tak Ada Film, Raam pun Jadi”, Raam berdalih, “Saya tidak menjual mimpi, sebab mimpi tidak bisa dijual. Yang bisa dijual adalah harapan, dan sinetron saya yang ada adalah harapan.”

Betulkah yang dijual hanya berupa harapan? Dalam setiap sinetron produksi Raam, harapan yang dijual masih termanifestasikan dalam cerita yang masih jauh dari realitas. Tidak menyentuh substansi kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan kesusahan hidup. Berbagai cerita itu dibalut dengan aspek fungsi hiburan.

“Misi kami memang menghibur pemirsa dan tidak menyesatkan mereka. Karena Multivision adalah industri hiburan, maka 75 persen misinya jelas hiburan; selebihnya informasi yang positif. Dan bagi saya, hiburan itu harus beberapa tingkat lebih tinggi dari kenyataan. Enak dipandang dan enak dilihat,” kata Punjabi dalam laporan Coen Husein Pontoh.

Mari kita garis bawahi perkataan Raam: ”Dan bagi saya, hiburan itu harus beberapa tingkat lebih tinggi dari kenyataan. Enak dipandang dan enak dilihat.” Perkataan itu dapat bermakna jauh dari kenyataan dan lebih bagus dari kenyataan. Sebuah utopia. Sebuah mimpi indah untuk para penontonnya. Meninakbobokan mereka dari kepahitan hidup. Apa artinya ini jika bukan menjual mimpi. Secara tidak langsung, Raam sudah membenarkan penjualan mimpi ini.

Pendapat para praktisi dari dunia televisi dan film tentang cerita ”mimpi” sinetron ini pun sangat keras dan pedas. R.M. Soenarto, ketua Komite Seleksi Festival Sinetron Indonesia 1996, membacakan laporan pertanggungjawabannya dengan tajam.

“Tidak ada kecerdasan. Landasan moral begitu rapuh. Tak jelas di bumi mana mereka berpijak. Drama-drama panjang menjadi asing dan lebih mirip telenovela-telenovela tanpa selera. Kemiskinan ini menjadi persoalan besar, terutama pada faktor sumber daya manusianya,” katanya saat itu.

Perdebatan memanas. Praktisi lainnya pun turut berpendapat. Kutipan di bawah ini masih saya ambil dari laporan Coen Husein Pontoh.

Harry Dagoe Suharyadi, sutradara sinetron Ali Topan dan film Pachinko and Everyone’s Happy, mengatakan, “Saya sendiri menganggap kualitas sinetron kita nggak ada perkembangan. Bahkan dulu di zaman Dedi Setiadi, di mana Arswendo (Atmowiloto) menulis, Harry Tjahyono menulis, menurut saya ada sesuatu yang hendak ditawarkan dan lebih dahsyat, walaupun secara teknis sederhana.”

“Terus terang aja, mereka memproduksi tontonan yang merendahkan intelektual mereka sendiri. Misalnya, kalau nonton sinetron komedi yang kita temukan bukan hal-hal yang membuat kita tersenyum, tapi sebal. Itu karena berhubungan dengan intelektualitas kita yang terusik. Di luar negeri juga ada komedian seperti Bob Hope, Charlie Chaplin, dari komedi klasik maupun komedi situasi, tapi mereka tidak seperti di sini. Mending nonton Srimulat,” lanjut Harry.

Garin Nugroho juga berpendapat sama. Tontonan sinetron yang ada, menurut Garin, tidak membuat masyarakat kita menjadi berpikir. Ini karena yang dipentingkan adalah unsur dramanya. Sinetron menjadi sarana pelepasan dari kesuntukan yang ada.

Sama halnya pendapat Rayya Makarim, penulis skenario film Pasir Berbisik dan kurator film di Teater Utan Kayu Jakarta. Ia mengatakan, rendahnya kualitas tayangan sinetron Indonesia ditandai oleh miskinnya eksperimen, terbatasnya wawasan, dan daya imajinasi para pekerja sinetron. Ciri lain sinetron produksi Multivision adalah karakter tokoh yang sulit dimengerti, bukan karena kompleksitasnya tapi lebih ketidakmampuannya membangun karakter itu sendiri.

“Saya nggak ngerti karakter Cecep yang dimainkan Anjasmara itu. Apakah dia itu idiot, lugu, bodoh, atau apa. Sebab karakter Cecep itu adalah preseden yang tak pernah saya temui. Dan lagi, saya ingin tahu apakah peran Cecep yang dimainkan Anjasmara itu merupakan kreativitasnya ataukah atas arahan sutradara. Betul-betul saya nggak ngerti,” lanjut Makarim.

Dari perkataan mereka, jelas tercium adanya kekhawatiran akan masa depan tayangan televisi. Tidak hanya dari film dan televisi, masyarakat dari kalangan lain pun banyak yang sependapat. Ini tak lepas juga dari pengaruh dari karakter televisi sendiri. Tayangan drama di televisi berbeda dengan film layar lebar. Pada dunia televisi, tidak ada pembatasan ruang untuk mengaksesnya. Tayangan televisi, baik drama atau non-drama, masuk ke dalam ruang-ruang keluarga tanpa ada halangan. Intesitasnya yang sangat tinggi ini tak diimbangi dengan self-censor yang teliti dari pihak televisi dan production house. Akibatnya jelas, yaitu kemunduran kualitas. Pengaruh sinetron dicap jelek dan berdampak masif terhadap penonton.

Situasi ini disadari benar oleh Leila S. Chudori. Profesinya sebagai wartawan yang sering menuliskan kritik tentang film atau tayangan televisi, menguatkan tekadnya untuk merubah kondisi ini. Ia ingin memberikan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk masyarakat. Kecerdasan Leila dalam setiap tulisan kritik filmnya ditransformasikan dalam bentuk skenario serial televisi bergenre drama, DTK.

“Dunia Tanpa Koma adalah kepedulian saya terhadap televisi”,2 kata Leila.

DTK akan menyuguhkan ide cerita yang kuat dan dekat dengan keseharian masyarakat. Semua dibalut dengan sentuhan drama dan mengambil latar cerita yang realistis. Awal mula alasan penulisan cerita DTK, karena Leila merasa gelisah dengan situasi televisi yang selalu menyajikan menu cerita yang sama. Ia ingin memberikan alternatif.

Ia berpikir, dunia film layar lebar sudah dijaga jalannya oleh sineas-sineas handal, seperti Garin Nugroho, Mira Lesmana, Riri Riza, dan Nan T. Achnas. Sedangkan, televisi seakan tidak dipedulikan mutunya. Ini semua akibat pengaruh rating dan pihak stasiun televisi. Leila sudah membahas kondisi ini dengan sineas-sineas, tapi mereka kebanyakan sudah kapok menyentuh televisi.

Gayung pun bersambut setelah bertemu dengan Leo Sutanto dari SinemArt. Naskah DTK disodorkan kepada Leo. Kebetulan SinemArt sudah lama ingin memproduksi tontonan berformat musim (season) yang ceritanya sudah dipersiapkan sejak awal. Akhirnya, pra-produksi pun dimulai. Leila dan Leo yang terlihat sangat serius untuk proyek ini tentu tidak ingin skenario DTK diterjemahkan dalam narasi visual yang salah. Maka, sutradara merupakan peran penting dalam produksi serial ini. Awalnya, Rudi Soedjarwo dan Maruli Ara adalah kandidat terkuat. Keduanya pun berprestasi bagus dunia sinema nasional. Namun, setelah penyeleksian lebih dalam, Maruli Ara didaulat menjadi sutradaranya.

Ia mau menyutradarai serial ini karena dimotivasi Leila S. Chudori dan Leo Sutanto, untuk membuat sesuatu yang baru dalam sejarah pertelevisian Indonesia. Selain itu, menurut Maruli, alur cerita serta tema drama serial ini menarik dan berbeda dari tema-tema sinetron yang ada di layar kaca saat ini.

Maruli Ara sudah dikenal dengan menyutradarai sinetron Tiga Orang Perempuan (2001) dan Kapan Kita Pacaran Lagi (2005). Untuk Tiga Orang Perempuan, Maruli dinobatkan sebagai sutradara terpuji oleh Forum Festival Bandung pada 2001. Sedangkan, serial Kapan Kita Pacaran Lagi mendapat nominasi untuk kategori Film Terbaik: Film Cerita Berseri Untuk Televisi pada Festival Film Indonesia 2005. Maruli sendiri dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik Film Cerita Berseri Untuk Televisi.

Proses syuting akhirnya berjalan. Produksi 14 episode ini memakan waktu lama, tujuh bulan. Itu belum termasuk proses post-production. Maklum saja, karena dikerjakan tidak dengan cara kejar tayang, tapi cara produksi musiman (season) seperti serial-serial televisi asing. Dengan format produksi seperti ini, diharapkan mutu akan terjaga.
Drama serial DTK bertutur tentang kehidupan wartawan yang seolah tanpa jeda istirahat. Profesi yang menuntut kesigapan dan tak kenal waktu dalam bekerja. Raya Maryadi (Dian Sastro) adalah tokoh sentralnya. Wartawan pemula yang diterjunkan langsung dalam peliputan kriminal. Setting DTK adalah di Jakarta pada Maret 2005. Saat Indonesia memiliki pemerintahan baru. Presiden dan Wapres yang  baru terpilih Oktober 2004, dan memiliki semangat besar untuk berbenah diri di negeri ini.

Plotnya berkisah mengenai proses peliputan Raya dan wartawan lain dalam mengejar sumber berita dan memproduksi teks beritanya. Masing-masing episode mempunyai judul sendiri, seperti Hari-hari Pertama, Langkah Awal, Red Bar, Raya dan Yoan, Sidik Jarimu Di Sekujur Tubuhku, All The Right Move, Closure, Sonny Krisnantara, His World Against Her World, Setangkai Nista Untuk Mutiara, Jendra Aditya, Hakim Daus, Marita, Sebuah Dunia Bernama Raya.

Kisah drama serial ini menuturkan cerita yang berlatar belakang profesi, yaitu wartawan. Satu ide baru dalam pertelevisian kita. Karena selama ini, tidak ada sinetron yang berkisah tentang kehidupan seseorang dalam menjalani profesinya. Dalam cerita sinetron, yang ada malah unsur profesi hanya dijadikan tempelan dan tidak dieksplor lebih dalam. Walaupun, bercerita tentang wartawan kriminal, tapi tetap dibalut dengan unsur drama yang kental. Masuknya unsur drama ini sangat penting, karena dapat semakin menguatkan cerita dan karakter-karakter dalam drama serial ini.

Ini juga terkait dengan maksud Leila yang menyodorkan cerita, karakter dan persoalan yang tidak selalu hitam-putih. Tidak harus ada solusi yang happy ending dalam penceritaan sebuah produk sinema televisi. Makanya, visualisasi skenario yang mirip dengan kenyataan adalah keharusan. Dari awal, Leila memang ingin skenario hingga penggarapannya dibuat secara realistik. Ia ingin cerita garapannya diusahakan sedekat mungkin dengan kehidupan masyarakat. Penonton serial ini diharapkan merasa terwakili karena situasi dalam ceritanya memang ada di sekitar mereka.

“Serial ini bergaya realistis, bukan melodrama,” ujar Maruli.

Dalam penggarapannya, drama serial DTK akan dibuat dengan pendekatan visual yang berbeda dengan sinetron. Kalau sebelumnya warna ceria dan terang selalu muncul dalam visual berbagai sinetron, tidak sama halnya dengan DTK. Leila ingin serialnya divisualisasikan dengan nuansa warna yang muram dan gelap. Ia menyampaikan kepada Maruli Ara agar serial ini harus berwarna gelap, karena bercerita tentang dunia kriminal.

“Episode satu sampai tujuh tentang narkoba, delapan sampai sepuluh pemerkosaan, dan 11 sampai 14 tentang pembunuhan. Mereka hidup dalam dunia tanpa koma kriminalitas. Tentu saja saya nggak ngebayangin kalau warnanya ceria atau nyalanya terang,” kata Leila, seperti yang saya kutip dari Tempo Interaktif.

Cerita dan skenario drama serial DTK agaknya memang berkualitas di atas rata-rata. Ini jelas terlihat dari kolaborasi tiga orang—Leila S. Chudori, Leo Sutanto, dan Maruli Ara—yang sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya dalam perkembangan dunia sinema nasional. Ada yang menganggap mereka “gila” karena berani mendobrak kebiasaan. Bentuk “kegilaan” ini dapat diamati pada proses syuting yang langsung tancap gas pada Agustus tahun lalu, padahal saat itu belum jelas stasiun televisi mana yang akan membeli hak siarnya. Penawaran hak siar DTK memang akan dilakukan setelah semua tahapan produksi selesai. Metode yang tak lazim dilakukan sebelumnya.

Dari milis-milis milik kalangan praktisi dunia televisi, tersiar kabar bahwa drama serial DTK diminati oleh dua stasiun televisi swasta, RCTI dan Trans TV. Agaknya, dua stasiun itu sadar akan mutu yang bagus dalam skenario yang disuguhkan DTK. Namun, kejelasan itu baru muncul dalam dua bulan terakhir. RCTI yang akan menyiarkan DTK.

RCTI pun bergerak cepat. Sejak hampir dua bulan terakhir, stasiun ini gencar melakukan promosi drama serial DTK. Jika dibandingkan dengan promosi sinetron bulan Ramadhan, jelas serial DTK ini lebih unggul. Tidak pernah ada promosi gencar seperti ini untuk sebuah tayangan drama televisi sebelumnya. RCTI sangat menyadari kelebihan DTK dari segi content-nya.

Dunia Tanpa Koma merupakan drama serial terobosan baru yang belum pernah ada di stasiun televisi lain, selain bertaburan 40 bintang papan atas, juga secara ide cerita cukup kuat,” jelas Harsiwi Ahmad, Direktur Programming RCTI, dalam wawancara dengan salah satu media.

Tingginya mutu cerita dalam skenario drama serial DTK dibuktikan pula pada bergabungnya berbagai aktor dan aktris dari generasi yang berbeda. Tentu nama yang paling menarik di sini adalah Dian Sastro. Ia memang dikenal sangat selektif, dan terkesan anti berakting di layar kaca. Dalam wawancara dengan Gatra, Dian mengatakan tentang ketidakcocokannya terhadap cerita dalam naskah skenario sinetron yang ditawarkan kepadanya selama ini. Selanjutnya, Dian mengakui bahwa cerita dan gaya penulisan naskah sinetron yang disampaikan kepadanya cenderung naif.

“Belum baca sampai akhir saja, saya udah males,” katanya.

Tapi, saat pertama kali disodorkan sinopsis drama serial DTK oleh pihak SinemArt, Dian langsung ingin bertemu dengan Leila dan menyatakan kesediaannya untuk bermain. Sebenarnya, sejak awal penulisan skenario serial DTK, Leila sudah menciptakan tokoh Raya memang untuk diperankan oleh Dian.

“Sejak awal saya menciptaan tokoh Raya, yang saya bayangkan bisa memerankan  tokoh ini adalah Dian Sastro, karena matanya memancarkan kecerdasan dan rasa ingin tahu yang besar. Rasa ingin tahu, kegigihan dan kerja keras adalah tiga modal utama seorang reporter majalah berita,” ungkap Leila dalam wawancaranya dengan Ekky Imanjaya.

Setelah mengetahui Dian Sastro bersedia main dalam drama serial DTK, Leo Sutanto kabarnya sangat antusias. Agar kehadiran Dian tak mubazir, Leo pun merekrut puluhan bintang papan atas. Ia khawatir, jika bukan bintang papan atas, tidak bisa mengimbangi performa dan pesona Dian.

Memang, tidak main-main langkah yang dilakukan Leo. Bintang-bintang bertaburan di sini. Tercatat Dian Sastro, Fauzi Baadila, Tora Sudiro, Surya Saputra, Slamet Rahardjo, Wulan Guritno, Indra Birowo, Cut Mini, Ari Sihasale, Adi Kurdi, Didi Petet, Christian Sugiono, Luna Maya, Nadia Saphira, Andhara Early, Donny Damara, Butet Kartarajasa, Aming, Agus Koencoro, Intan Nuraini, Nungky Kusumastuti, Alya Rohali, Syarmi Amanda, Henidar Amroe, dan Unique Priscilla mendukung drama serial DTK.

Maruli Ara pun mengaku bahwa selama proses produksi banyak diilhami oleh dua orang perempuan, Leila S. Chudori dan Dian Sastro. Menurut dia, mereka mampu menggerakkan dan memberikan masukan bagi semua anggota tim. Pengakuan yang semakin membuktikan adanya sinergi kuat antara kekuatan cerita yang bagus dengan performa maupun pesona seorang bintang besar.

Banyaknya pemain bintang dalam drama serial DTK membuat saya berasumsi ada tiga alasan. Pertama, akibat skenario yang bagus. Kedua, kombinasi akibat skenario yang bagus dengan perhitungan bisnis. Karena dengan banyak bintang, maka berpotensi besar menarik animo penonton, sehingga iklan pun berebutan masuk. Dan ketiga, akibat skenario yang bagus tapi si produser tidak pede drama serial DTK akan diminati penonton televisi.

Alasan pertama dan kedua, saya kira sudah cukup terjelaskan dalam tulisan di atas.

Alasan ketiga, bagi saya, cukup mengganggu pikiran saya. Ini karena drama serial DTK bertutur cerita lebih “berat” dari sinetron pada umumnya. Bintang-bintang besar pun dipasang di DTK supaya penonton lebih tertarik menontonnya. Maklum, karakter penonton televisi Indonesia masih didominasi oleh segmen masyarakat yang sudah merasa mapan dengan suguhan cerita ala sinetron. Bagaimana sih gambaran karakter penonton televisi di Indonesia? Untuk itu, saya kembali kutip dari laporan Coen Husein Pontoh.

“Saya mungkin terlalu kasar, ya, tapi, audiensi Indonesia itu umumnya tidak terlalu intelek. Jadi kalau kita mau bikin ceritanya terlalu jauh, kita terbentur pada pertanyaan, audiensinya ngerti apa tidak?” kata Maruli Ara.

Benarkah serendah itu pola pikir penonton Indonesia jika disuguhkan serial televisi berkualitas?

Mungkin, sinetron Bukan Perempuan Biasa hasil garapan Jajang C. Noer dapat dijadikan contoh. Awalnya, serial ini muncul dari niat baik Raam Punjabi untuk memberikan tontonan berkualitas kepada penonton televisi (mungkin dia ingin lelah dengan kritik dari berbagai kalangan). Tapi, ternyata rating Bukan Perempuan Biasa gagal memenuhi target dengan angka 8,6 persen. Lies Yanti, local acquisition executive departemen program RCTI mengatakan:

“Biasanya, jika penonton diberi suguhan sinetron yang pakai mikir, mereka langsung meninggalkannya. Dan yang rugi adalah stasiun televisi.”

“Orang Indonesia suka cerita-cerita seperti dalam film India. Ada tangisan, sayang pada ibu. Sinetron memang mimpi. People still like it,” tegas Jeremy Thomas mendukung tentang karakterisasi penonton televisi Indonesia.

Saya pernah membaca satu artikel (sayang saya lupa judul dan penulisnya) yang menuliskan tentang sinetron laga yang masih sanggup bertahan hingga saat ini di televisi. Sinetron dengan genre ini dapat bertahan karena peminatnya banyak dan tetap. Penontonnya kebanyakan berasal dari daerah, di mana terdapat kedekatan budaya dan sejarah dengan cerita yang ditayangkan.

Di sini dapat terlihat bahwa cerita tayangan drama televisi yang “dekat” dengan penontonnya ternyata dapat survive. Dalam sinetron laga tak perlu berbasa-basi dengan cerita penuh mimpi dan jauh dari realitas. Malah serial drama laga berusaha mendekatkan diri dengan penontonnya lewat balutan kisah mitos sejarah masyarakat.

Kenyataan mengenai sinetron laga di atas sebenarnya dapat dijadikan bahan referensi para kreator televisi untuk memproduksi drama serial bermutu. Skenario drama serial DTK karya Leila merupakan hasil dari kesadarannya memahami karakter penonton ini. Ia memang memperkirakan, para pecinta film lebih suka menonton DVD atau film di bioskop, dibandingkan menonton tayangan televisi nasional. Mereka ini umumnya berusia 21 tahun ke atas. Inilah segmen penonton televisi yang perlu diladeni keinginannya untuk menikmati tayangan televisi bermutu. Mereka ini memiliki keinginan yang tidak ditampung selama ini oleh tayangan layar kaca. Makanya, DTK memang khusus ditulis untuk batasan usia 21 tahun ke atas.

Menurut saya, segmen ini adalah ceruk pasar yang cukup bagus. Stasiun televisi dan production house seharusnya mencemati lagi karakter segmen penonton ini. Jika serial televisi yang bagus dan sesuai dengan keingingan segmen penonton ini disediakan, bukan tidak mungkin jumlah penontonnya akan semakin meningkat. Dengan begitu pula, potensi terjadinya kelatahan memproduksi serial televisi bermutu juga akan semakin besar.

Agaknya, sudah waktunya industri hiburan di stasiun televisi swasta mulai berbenah. Para kreator dunia televisi harus memberikan tontonan bermanfaat bagi masyarakat. Awalnya, mmang perlu keberanian untuk merugi dan modal besar agar terjadi perubahan.

Dan akhirnya, pada Sabtu ini, drama serial televisi Dunia Tanpa Koma (DTK) dirilis. DTK akan menjadi kelinci percobaan. Apakah penonton televisi kita akan dapat menerima drama serial ini dengan baik. Atau malah semakin membuktikan pendapat bahwa penonton televisi di Indonesia memang kurang intelek.

Idealisme memang sangat kental dalam penggarapan drama serial DTK. Ada misi yang lebih besar dalam suguhan serial ini. Tidak hanya merubah sebutan sinetron menjadi drama serial. Juga bukan hanya merubah konsep cerita serial televisi yang mengobral mimpi menjadi yang bersifat realistis. Tapi lebih besar lagi, yaitu merubah masyarakat. Apakah mampu? Sebuah misi besar yang dapat tercapai, atau malah menjadi mimpi lainnya. Pilot episode drama serial Dunia Tanpa Koma (DTK) akan menjadi awal pencarian jawabannya.***

Ditulis pada Jumat, 8 September 2006 ,menjelang tengah malam. Tulisan ini untuk menyambut akhir dari penantian penulis selama setahun lamanya terhadap tayangnya drama serial televisi Dunia Tanpa Koma (DTK).


1 Judul artikelnya, “Benarkah Film Indonesia Langka Akan Kritik Sosial?” pada 2 Agustus 2005

2 Ekky Imanjaya menjadikan kutipan pernyataan ini sebagai judul laporan hasil wawancaranya dengan Leila S. Chudori, yaitu “Leila S. Chudori : Dunia Tanpa Koma adalah Kepedulian Saya Terhadap TV”. Laporan ini dimuat oleh www.layarperak.com pada 26 Oktober 2005.


PS: Esai lama ini saya muat ulang di sini sebagai pengingat. Isi dan nada tulisan ini masih terasa ambisius hehe..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s